Senin, 18 Oktober 2021

Puisi-puisi Yanti Mahu

JARAK Ada senja yang mengantar rindu. Ada spoi yang menggelitik raga. Mata ingin menikmati. Jarak mengingatkan hati akan kesabaran.                 Mereka bilang penantian indah.               Ku bilang rindu indah.               Jika jarak menjanjikan kebahagian.               Aku akan menanti sampai tak ada lagi jarak.   Nikmati kebersaman dari kolong langit yang berbeda. Tak apa!!ini adalah bagian cinta. Karena cinta tak selalu dipandang, Cinta meski kau jauh. Selalu ada yang bernama Rindu.   Menemani hati dan berjanji akan kembali.         SANATA  DHARMA   Rumah kah ini ? Atau surga? Mataku terpaku, hatiku bergetar. Seperti singa yang baru keluar dari jahitan kawat berduri. Aku ingin berlari sekencang-kencangnya. Tanah Sanata Dharma terlalu luas di penglihatanku.               Orang-orang di sini,              Aku hanya pernah melihat mereka pada layar kaca kecil di gubukku.             Satu gadis cantik bak Luna Maya melintas tepat di sampingku.             Lalu aku memutar bola mataku mematutkan diri yang seperti upik abu ini             Aku berteriak “ aku takut tidak diterima, aku harus bagaimana?”                 Bagaimana jika mereka menertawakan sandal di kakiku Baju yang membalut tulangku, serta rambutku bak ijuk. Dalam gamangku, lentera itu datang, meski awalnya cahaya redup. Waktu ke waktu cahaya redup itu bagaikan cahaya di istana. Aku tak lagi takut, tak lagi menangis. Terimakasih lenteraku, terimakasih dosenku.          CITA-CITA   Pada malam ku bercerita. Mengulum senyum, lalu tertawa. Bintang mengejekku. Bulanpun terangnya seakan mengolokku. Tak peduli,meski dunia tahu akan kegilaanku.                                      Hatiku sudah tak ingin berkompromi dengan otakku.                     Perasaan ingin melihat ragamu.                     Otakku meyuruhku agar tinggal.                     Karena satu alasan yaitu cita-cita. TUGAS Saat malam dan jari-jarimu masih menari indah di atas keyboard leptopmu. Saat kasur selalu megajak matamu untuk segera menyentuhnya. Saat matamu bertemu pandang dengan lekukan guling di tempat tidurmu. Dan saat tugas-tugasmu masih menggunung seperti gunung merapi.                      Siapa yang kau salahkan di sini?                    Salahkah pemerintahmu?                    Yang mengharuskanmu sekolah sampai ujung langit.                    Demi tuntutan yang harus kau tuntaskan.   Bodohmu!!! Jika melihat balok di mata orang lain. Berjuanglah!!! kurangnya waktu pulasmu. Adalah pemerintah akan menghitungnya. Pemerintah tak suka dengan pemalas.                 Pemerintah pelahap jiwa pejuang tinggi.                 Yakinlah !! Engkau adalah satu di antara yang dilahap pemerintah.  HUJAN Hujan.. Beningmu jatuh membasahi gentengku Rintikanmu bagai bunyi piano yang indah. Sungguh, engkau melukis rindu. Untuk yang tak dapat kujangkau. Mungkinkah Tuhan menciptakan rindu itu di dalam suaramu?                         Hujan....                     Jika hari ini kau menyitari dia di sana.                     Sampaikan rinduku.                     Rindu untuk segera bertemu.                      KOPI DAN PETANG                        Kopi dan petang. Petang tak indah tanpa kopi. Tetapi kopi tetap ternikmati meski tanpa petang. Haruskan seegois itu?             Kita kata terindah sejak hari itu.          Sahabat janganlah kita seperti kopi dan petang.          Kuharap kita selalu seperti sandal usang.          Meski terlihat lama tetap saling mengisi.           BERLEHA   Sendiri,melawati hari Kamarku yang menjadi rumahku Buku-buku di sudut mejaku. Saksi bisu meyaksikan letihku                 Saat lelah datang               Lalu kuingat mereka               Merengkuh kesepuluh jari.               Lalu khusuk sebut namaku   Mereka bapa mamaku Orang yang menunggu kepulanganku. Lalu kusadari makin hari mereka makin abu. Haruskah ku berleha?   GULING DAN TUGAS   Cahaya petang menghampiriku Lewat jendela kamar usang Menyinariku dengan teriknya senja Aku terjaga dari pulasku                 Basah peluh keringat wajah               Guling menindihku.               Menatapku penuh birahi               Seakan mengajaku untuk tak beranjak   Tugas-tugas di meja itu Tersenyum manja menggelitikku Haruskah ku memilih? Guling atau Tugas? HANDPHONE   Apa suasana hatiku yang tak kau tahu? Tak malu-malu Segala ekspresi selalu kuperlihatkan didepanmu. Sedihku, kau saksi bisu. Marahku kau saksi bisu. Bahagiaku kau saksi senyumku.   Rela dibanting tak kala lawan bicaraku menyakitiku. Dielus, dicium tak kala di sana membuatku tersenyum. Kau paling tahu siapa saja yang pernah kusebut dengan “syg” lalu pergi dan hilang. Saat semua diambil waktu, kau begitu hening.   Aku malu, juga sedih. Kau yang bagai burung selalu berkicau di pagi hari. Membangunkanku dengan suara indah yang pernah kudengar dari handphoneku Hilang tak meninggalkan jejak.   Tiap mata bertemu pandang dengan handphoneku Seakan menatapku sedih, bertanya “di mana dia?” Aku tahu dia juga ingin mendengar suaramu. Aku dan handponeku sama-sama menikmati sepi. Yanti Mahu, dengan nama...

Desember Rein ’14: Puisi-Puisi Adven Gerard Bibang

DESEMBER REIN ’14 (20.21.22)     JALAN   Sepanjang jalan pulang aku memikirkan kisah kami yang punya benang merah dengan cerita berjuta bintang yang berasmara melalui kilauan cahaya-cahaya mereka. Sekarang...

Di Situ, Saya Kadang Merasa “Sebek”

Lanjutan dari cerpen Menanti Senja Berlalu Oleh: NANA LALONG Gongger di jelang senja yang ke sekian bagi sepasang kekasih yang selalu saja datang jelang senja pada jembatan...

[Cerpen] Saat Cinta itu Sulit Dipercaya

  OLEH : GREGORIUS AFIOMA Pada hari Valentine, saya ada janji tukaran coklat dengan teman-teman di kelas. Ketika sedang membungkus kado pada pagi hari, seorang teman...

“Kepalsuan,” Puisi Anjany Podangsa

KEPALSUAN   Terbelenggu sepi dalam ruang hampaan hati Ku lihat langit Pertiwi ingin menangis perih keadilan telah dipermainkan dengan uang kebenaran telah di perjual belikan seakan akan nurani telah tiada..   Hanya fitnah...

[Puisi] Pesona Kekuasaan

Karya: YONES HAMBUR … Dengar sang ‘kekuasaan’, Sebar, tebar kobar keelokanmu, Gagah perkasa citra rasamu, Merasuk jiwa penuh dahaga, Bagi hati sang perakus akan dirimu, … Aurahmu semakin menggelora, terpancar dari dirimu, Mengguncang tabiat...

Tukang Ojek Gadungan

Oleh: LIAN KURNIAWAN Pagi sekali, perjalanan jauh itu harus dimulai. Entah ada urusan apa, Alo hanya diminta untuk mengantar sang ayah ke kota. Alo sendiri...

“Wanita di Jantung Belantara,” Puisi Lian Kurniawan

Pekat malam itu begitu rapat menyelimut segenap cerita. Ia datang menjemput sang kekasih tercinta yang terdampar di jantung belantara, dengan obor di tangan. Kobar obornya terombang-ambing seturut alunan manja angin malam nafasnya...

Endong Patola

Oleh: NANA LALONG Lelaki yang selalu nangkring di pantai itu bertahun-tahun terobsesi daya magis endong patola, patola tau sama wulang. Itulah matahari atau tepatnya sebentuk...

[Cerpen] Arang dalam Mata Garuda

Oleh: YOVAN ABDULLAH Orang bilang dia gagak. Ia malam berkabut. Kelam. Dan orang sekampung memanggilnya Ngkula. Hitam. Ia sebenarnya punya nama: Viktorius, dipanggil Viktor, itu saja,...

Bang Motang

Karya: NANA LALONG Orang besar se-Flores sekali waktu diundang ke sebuah perjamuan di lembah Ruteng. Tidak mereka kenal persis siapa tuan yang menjamu mereka di...

Puisi Lian Kurniawan: “Kisah Buta” dan “Darah”

KISAH BUTA   Matanya terkatup-katup rapat Melangkah gontai arungi senja   Baru saja hujan deras mereda sejenak sunyi, lantas merintik kembali   ‘Entah, selalu begitu!’   Matanya tetap, rapat membuta sepi langkahnya kian berenergi menyusup gelap...

Aletheia Ledalero Pentaskan ‘Kotbah’

Maumere, Floresa.co - Mengantar para penikmat sastra masuk dalam suasana paska, kelompok teater Aletheia Ledalero mementaskan teater berjudul “Kotbah” pada Selasa malam 22 Maret...