Artikel-artikel yang ditulis oleh

Tim Floresa

5973 Artikel

Konflik Lahan KDMP di Manggarai Timur: Kades Mengamuk, Kepala SD Sebut Ada Upaya Klaim Sepihak Lahan Sekolah

Pada 2023, kepala desa meneken surat penyerahan sepihak lahan sekolah untuk pembangunan fasilitas kesehatan

Sesat Pikir Polres Flores Timur soal “Saksi Meringankan” dalam Kasus Pemerkosaan Anak

Penegakan hukum hanya bermakna jika aparat berpijak pada perlindungan korban, bukan kompromi sosial yang membuka jalan bagi impunitas.

Ekspansi Proyek Penjajahan dalam Dokumenter “Pesta Babi,” Membaca Pola Serupa di Flores

Dari Ruteng, warga memaknai dokumenter tentang Papua ini sebagai kerangka untuk menyelami praktik yang sedang bergerak di Flores: proyek besar, stigma, kriminalisasi, dan pendekatan keamanan yang kerap lebih cepat datang daripada dialog.

Jaksa Banding Putusan Bebas Petani Manggarai Timur, Ada Perbedaan Tafsir dengan Hakim Agung

Seorang Hakim Agung menyebut banding terhadap putusan bebas tidak sesuai dengan mandat KUHAP Nasional

Warisan Aktivisme dan Kontroversi: Mengenang Pater Marsel Agot SVD

Ia dikenang sebagai aktivis lingkungan dan kemanusiaan, namun juga meninggalkan jejak kontroversi karena sejumlah sengketa tanah di Labuan Bajo

Artikel Terbaru

Mahasiswa NTT Tuntut Jaksa Cabut Kasasi atas Vonis Bebas Erasmus Frans Mandato

Mereka mempertanyakan ketidaksinkronan kronologi antara Kejari Rote Ndao dan Kejati NTT. Sementara Kepala Kejari dirotasi ke Cilegon, Provinsi Banten

Buruh Migran NTT: Cermin Palsu Keadilan di Hari Buruh

Selama buruh paling rentan—yang berangkat dari Maumere dengan segunung utang dan segenggam harapan—tak pernah menjadi subjek perayaan, maka Hari Buruh hanya memantulkan cermin palsu keadilan

Perempuan Pesisir Maumere: Ketika Mangrove Hilang, Merekalah yang Pertama Menanggung Dampak

Ketika mangrove hilang, perempuan kehilangan dapur yang kering, penghasilan yang pasti, dan pelindung terakhir dari banjir rob

Dua Hari, Satu Luka: Pendidikan dan Buruh dalam Janji yang Tak Selesai

Sekolah melahirkan harapan, dunia kerja menguburnya — dan negara masih sibuk dengan seremoni