Floresa.co membuka kesempatan kepada Anda yang ingin menulis untuk publik melalui rubrik “Analisis” dan “Literasi.”

BerandaTOPIK KHUSUSFee Proyek APBDKeluarga Bupati, Ketua Tim...

Keluarga Bupati, Ketua Tim Sukses Ikut Diperiksa Polisi Terkait Kasus Fee Proyek di Manggarai

Tomi dan Wilibrodus sebelumnya disebut-sebut ikut meminta jatah fee 2 % untuk proyek yang hendak diberikan kepada kontraktor Adrianus Fridus, yang sudah diperiksa polisi pada Rabu, 7 September.

Floresa.co – Setelah seorang pegawai dan kontraktor, giliran keluarga bupati dan mantan ketua tim sukses Pilkada yang diperiksa penyidik Polres Manggarai pada Jumat, 9 September 2022 terkait kasus dugaan fee proyek.

Keduanya adalah Tomi Gunawan dan Wilibrodus Kengkeng. Tomi merupakan kakak ipar Meldyanti Hagur, isteri Bupati Manggarai, Herybertus GL Nabit. Sementara, Willibrodus adalah mantan Ketua Tim Sukses Pasangan Bupati Hery dan Wakil Bupati Heribertus Ngabut [H2N] saat Pilkada Manggarai 2020.

Tomi dan Wilibrodus sebelumnya disebut-sebut ikut meminta jatah fee 2 % untuk proyek yang hendak diberikan kepada kontraktor Adrianus Fridus, yang sudah diperiksa polisi pada Rabu, 7 September.

Tomi yang mengenakan kemeja biru hadir di Polres Manggarai tanpa didampingi pengacara. Ia hanya menjawab singkat saat para jurnalis berupaya mewawancarainya.

“Maaf, saya tidak bisa menjawab pertanyaan,” jawabnya, sembari bergegas menuju ruang pemeriksaan.

Sementara itu Wilibrodus yang tiba 10 menit kemudian didampingi oleh pengacaranya, Sipri Ngganggu dan dua orang lainnnya.

Setelah diperiksa selama beberapa jam, Wilibrodus menampik semua keterlibatannya dalam kasus tersebut.

Ia membantah bahwa ada pertemuan antara dirinya, Tomi dan Adrianus yang membahas fee proyek, sebagaiman diakui Adrianus sebelumnya.

Ia mengklaim hanya bertemu Adrianus saat Pilkada 2020 dan bahwa pada “tahun 2022 tidak ada” pertemuan dengannya.

“Saya sakit hati sekali [dengan tudingan kepada saya]. Keluarga juga merasa sakit hati,” kata Wilibrodus.

Ia mengklaim, meski menjadi ketua tim sukses saat Pilkada, namun ia tidak memiliki peran apapun pasca kemenangan H2N.

“Setelah selesai [Pilkada] terus terang saja, selesai. Tidak ada peran apa-apa. Jadi, tidak benar itu [berperan bagi-bagi proyek],” katanya.

Ia pun berjanji akan mengambil langkah tertentu untuk Adrianus dan Rio Senta – seorang pegawai Tenaga Harian Lepas [THL] – yang telah menyeretnya dalam kasus ini.

“Saya akan berdiskusi dulu dengan penasihat hukum saya, kira-kira langkah apa nanti yang akan kami tempuh,” ujarnya.

Disebut Berperan Atur Jatah Proyek

Sebelumnya, kontraktor Adrianus yang membeberkan peran Tomi dan Wilibrodus dalam kasus ini.

Ia menyebut bahwa keduanya merupakan orang yang berperan membagi-bagi jatah proyek dari dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah [APBD] di Kabupaten Manggarai.

Adrianus menerangkan bahwa ia gagal mendapatkan empat paket proyek yang dijanjikan kepadanya kendati ia telah menyerahkan fee 5 %, lantaran Tomi dan Wilibrodus meminta fee tambahan 2%.

Adrianus mengatakan, Rio, yang bertugas di Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang [PUPR] yang mengarahkan dirinya untuk menghadap Tomi dan Wilibrodus.

Ia mengatakan lupa tanggal pertemuan yang berlangsung di kediaman Tomi itu, namun ia ingat diberitahu oleh keduanya terkait tambahan fee.

Adrianus mengatakan, ia memberitahu Tomi dan Wilibrodus saat itu bahwa ia telah menyerahkan fee 50 juta kepada Mely, isteri Bupati.

Fee itu, kata dia, sesuai dengan kesepakatan dalam pertemuan bertiga antara dia, Rio dan Meldy di rumah jabatan. Fee itu ia serahkan lewat karyawan di Toko Monas – toko dagang hasil bumi milik Meldy dan setelah mengirim pesan kepada Meldy bahwa ia telah menyerahkan kemiri 50 kilogram, diduga sandi untuk uang 50 juta rupiah.

“Saya bilang [kepada mereka], saya sudah bayar di ibu. Lalu mereka bilang, ‘nanti kami yang bagi proyek.’ Pas mau bagi proyek, saya tidak dapat,” jelas Adrianus.

Ia mengatakan, setelah tidak mendapat jatah proyek itu, Rio memang mengembalikan uang Rp 50 juta ke rekeningnya dan bukti transfer yang dikirim melalui WA oleh Rio masih ia simpan.

“Jadi, mereka jangan coba-coba bantah,” katanya kala itu.

Pernyataan Adrianus ini, yang disampaikan pada 31 Agustus 2022, memang kemudian dia ubah di tengah sorotan yang luas terhadap kasus ini.

Usai menjalani pemeriksaan pada Rabu, 8 September, Adrianus melalui kuasa hukumnya Marsel Nagus Ahang mengoreksi pernyataan sebelumnya, termasuk terkait keterlibatan Meldy.

Ia juga mengklaim bahwa penyerahan uang 50 juta bukan di Toko Monas, tetapi di sebuah rumah makan di Watu, Ruteng dan uang itu diserahkan kepada Rio.

Ahang juga menyatakan bahwa pernyataan Adrianus sebelumnya terkait keterlibatan Meldy “hanya sebuah reaksi spontan saja ke media.”

Sementara itu, Rio, dalam pemeriksaan oleh atasannya di Dinas PUPR juga membantah peran Meldy.

Lamber Paput, Kepala Dinas PUPR yang memeriksa Rio pada Senin, 5 September mengatakan, Rio mengakui keterlibatannya, namun menyebutnya sebagai tindakan “atas kemauan dan keinginan sendiri, tidak diperintahkan oleh siapa-siapa.”

Pernyataan yang sama juga disampaikan Rio kepada para wartawan usai diperiksa polisi pada Rabu, 8 September.

Ia mengakui adanya transaksi dengan Adrianus, namun ia hanya mencatut nama beberapa orang, termasuk Meldy.

Ia mengakui menerima uang dari Adrianus sekitar awal Juni 2022 – berbeda dengan pengakuan pengacara Adrianus bahwa uang itu diserahkan ke Rio pada 14 Juli 2022.

Apa Kata Polisi?

Perihal keterangan yang berubah-ubah dari Adrianus dan perbedaan kesaksian dari orang-orang yang diperiksa, Kapolres Manggarai, AKBP Yoce Marten mengatakan, hal itu pada prinsipnya tidak bisa menghilangkan tindakan pidana yang dilakukan.

“Semua orang berhak untuk mengeluarkan pernyataan masing-masing, namun tugas kami untuk membuktikan apakah benar dari rangkaian peristiwa ini ada pidananya atau tidak,” katanya seperti dikutip Floressmart.com.

Ia menjelaskan, walaupun kesaksian orang-orang yang diperiksa berbeda-beda, “namun kewajiban kami untuk mencari tau lebih dalam lagi apa yang sebenarnya terjadi.”

“Paling tidak, kita bisa tahu dari rangkaian keterangan [mereka], apakah di sana ada pidana atau tidak,” katanya.

Ia juga menyatakan akan berupaya membuat perkara ini menjadi terang dan saat ini polisi masih terus mengumpulkan bukti.

Floresa

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga