BerandaPERISTIWATerkait Aksi Represif di...

Terkait Aksi Represif di Labuan Bajo, PMKRI dan GMNI Desak Kapolri Copot Kapolda NTT dan Kapolres Mabar

"Kedua petinggi institusi kepolisian ini telah mempermalukan institusi Polri dengan memerintahkan anak buahnya melakukan tindakan represif," tegas PMKRI dan GMNI.

Floresa.co – Dua organisasi mahasiswa, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia [PMKRI] dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia [GMNI] mendesak Kapolri, Jenderal Listyo Sigit Prabowo memecat bawahannya yang dianggap “mempermalukan institusi Polri” dalam aksi represif terhadap masyarakat sipil di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat [Mabar].

Dalam sebuah pernyataan resmi, PMKRI Cabang Ruteng, PMKRI Kota Jajakan Labuan Bajo, dan GMNI Cabang Manggarai menyatakan, Kapolda NTT, Irjen Pol Setyo Budiyanto dan Kapolres Mabar, AKBP Felli Hermanto harus segera dicopot dari jabatan mereka.

“Kedua petinggi institusi kepolisian ini telah mempermalukan institusi Polri dengan memerintahkan anak buahnya melakukan tindakan represif,” tegas mereka dalam pernyataan pada Selasa, 2 Agustus 2022.

Pernyataan itu ditandatangani oleh Ketua PMKRI Cabang Ruteng, Yohanes Nardi Nandeng; Ketua PMKRI Kota Jajakan Labuan Bajo, Simfroanus Gusti dan Ketua GMNI Manggarai, Emanuel Suryadi.

Aparat kepolisian di Mabar melakukan pemukulan dan penahanan terhadap pelaku wisata yang melakukan aksi mogok sejak Senin, 1 Agustus. Aksi yang rencananya berlangsung selama sebulan itu menolak kebijakan pemerintah yang menaikkan secara drastis tiket masuk ke wilayah Taman Nasional Komodo [TNK] dari 150 ribu rupiah menjadi 3,75 juta.

Setidaknya 42 orang masih ditahan di Polres Mabar, di mana enam orang lainnya luka-luka. Polisi juga dilaporkan melakukan kekerasan pada Senin malam, dengan menyerang warga yang sedang berkumpul di sebuah kafe di dekat Polres.

Polisi memberlakukan siaga satu di Labuan Bajo, di mana sekitar 1.000 personel gabungan dikerahkan di sejumlah tempat, sebagian didatangkan dari Polda NTT.

PMKRI dan GMNI menyatakan  tindakan represif dan penangkapan terhadap pegiat wisata itu adalah “bentuk pembungkaman terhadap kebebesan berekspresi yang sudah dilindungi oleh UU.”

“Apalagi aksi protes yang mereka lakukan hanya berupa aksi simpatik dengan cara memungut sampah plastik di sepanjang jalan yang mereka lalui,” kata mereka.

Kedua organisasi itu juga meminta Kapolri untuk tarik semua pasukan Brimob dan polisi yang didatangkan ke Labuan Bajo sebab tidak ada gangguan keamanan yang luar biasa di kota tersebut.

“Kami juga mendesak Kapolri untuk perintahkan Polres Manggarai Barat agar segera membebaskan pegiat wisata yang ditahan,” tegas mereka.

PMKRI dan GMNI juga mendesak Gubernur NTT dan Bupati Manggarai Barat untuk mendengar dan mengakomodasi aspirasi masyarakat dan membatalkan kenaikan tarif TNK dan monopoli usaha wisata oleh PT Flobamor, perusahan milik pemerintah Provinsi NTT.

FLORESA

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

Begini Cara Buat Kandang Babi Sederhana, Tapi Bebas Bau dan Lalat

Floresa.co - Sebagian besar keluarga di Nusa Tenggara Timur (NTT) memelihara babi....

Walhi NTT Ingatkan Pemerintah Berhenti Khianati Mandat Cagar Biosfer TN Komodo

“TN Komodo yang telah berjalan 42 tahun gagal untuk menjalankan tiga mandat utama cagar biosfer yakni pelestarian keanekaragaman hayati/satwa, peningkatan kesejahteraan ekonomi rakyat dengan mekanisme ekonomi ramah lingkungan dan berkeadilan dan pemuliaan kebudayaan rakyat,” kata Walhi NTT

Polisi yang Kembali dari Labuan Bajo Usai Kawal Aksi Mogok Kecelakaan

Sumber Floresa.co di Waelengga mengatakan, bus bernomor polisi EB 7004 DK tersebut terbalik di Teku Teang, arah barat Waelengga sekitar pukul 20.00 Wita.

Potret Sejarah Manggarai dalam Sejarah Nusantara: Sebuah Studi Literatur

Catatan editor: Tulisan ini merupakan karya dari Vianney Andro Prasetyo, seorang...

Mengolah Kemiri Agar Harganya Selangit

Oleh: F RAHARDI Provinsi Nusa Tenggara Timur,khususnya Pulau Flores, Pulau Adonara, Pulau Solor...

Hari Pertama Aksi Mogok Pariwisata di Labuan Bajo: Pegiat Wisata Ditangkap dan Dipukuli Aparat, Situasi Mencekam

Suasana kota tidak ramai seperti biasanya, di mana bandara sepi dan pelabuhan tidak beroperasi. Wisatawan yang tiba di Bandara Komodo Labuan Bajo terpaksa dijemput dengan angkutan umum yang dikendarai polisi.

Babi Makin Tambun, Dompet Anda pun Bertambah Tebal

Floresa.co - Selain kandang, aspek yang tak kalah penting ketika memelihara babi...

Kacaunya Tata Kelola TN Komodo: Penuh Kepentingan Bisnis, Minim Aksi Konservasi, dan Menyisihkan Warga Setempat

Pengembangan konservasi dan pariwisata juga harus menjamin keikutsertaan aktif serta distribusi keadilan bagi warga di dalam dan sekitar kawasan. Harapannya, mata pencaharian mereka tidak dicaplok oleh kepentingan elit bisnis dan politik.