BerandaGALERIGaleri: Aksi Warga Compang...

Galeri: Aksi Warga Compang Longgo, Mabar Tuntut Pemerintah Perbaiki Bendungan Rusak

Dalam foto-foto ini, Tim Floresa.co merekam aksi unjuk rasa warga Desa Compang Longgo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat pada Selasa, 17 Mei 2022 menuntut pemerintah memperbaiki bendungan Wae Cebong yang menyalurkan air ke sawah mereka yang rusak akibat aktivitas pertambangan galian C.

Floresa.co – Masyarakat Desa Compang Longgo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur [NTT] menggelar aksi damai di Kantor Bupati dan DPRD kabupaten itu pada Selasa, 18 Mei 2022.

Dalam aksi yang diikuti ratusan warga dan didampingi oleh para mahasiswa dari Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Ruteng dan Kota Jajakan Labuan Bajo, mereka mengadukan masalah Bendungan Wae Cebong yang rusak, diduga akibat aktivitas pertambangan pasir atau galian C.

Bendungan itu merupakan sumber air bagi irigasi untuk ratusan hektar sawah di area Persawahan Satar Walang, milik warga Desa Compong Longgo, desa yang berjarak 14 kilometer ke arah selatan dari Labuan Bajo.

Tim Floresa.co merekam aksi warga ini, lewat foto-foto berikut.

Warga menggelar dialog dengan Bupati Mabar, Edistasius Endi. Dalam kesempatan ini, kepada Bupati Edi, salah satu perwakilan ibu-ibu berkeluh, “tolong Pak, anak-anak kami lapar. Kami meminta kebijaksanaan Bapak untuk melihat keluh kesah kami.”
Tuntutan-tuntutan warga juga disampaikan melalui poster dengan beragam nada, salah satunya berbunyi, “Tanam Padi, Tumbuh Pabrik, Tanam Jagung, Tumbuh Bagunan”.
Menggunakan mobil dump truck warga melakukan perjalanan dari satu titik aksi ke titik lainnya.
Peserta aksi saat berada di Kantor DPRD Mabar.
“Hentikan Eksploitasi, Dengarkan Jeritan Rakyat”, “Pengusaha Dusta di Balik Kuasa”, “Tom dan Jeri Bikin Masyarakat Menjerit,” demikian isi beberapa seruan warga sebagaimana tertulis dalam poster-poster itu.
Aktivis Mahasiswa PKMRI Cabang Ruteng dan Kota Jajakan Labuan Bajo, salah satu elemen sipil pendamping, melakukan orasi di depan Kantor DPRD Mabar.
Tiga orang tokoh masyarakat Desa Compang Longgo [berbusana adat] berkoordinasi dengan aparat keamanan.
Massa aksi di depan kantor DPRD Mabar.
Massa berdialog dengan pihak dari DPRD Mabar.

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

Komodo Dibawa ke Negara Lain, Bukan Hal Baru!

Labuan Bajo, Floresa.co - Penangkapan penyelundup Komodo di Jawa Timur (Jatim)...

10 Pelukis asa NTT Gelar Pameran Lukisan di TIM

Jakarta, Floresa.co - 10 orang pelukis asal Nusa Tenggara Timur (NTT)...

Dere Serani, Lagu Rohani Manggarai Kini Hadir dalam Kemasan Instrumental

FLORESA.CO - Musisi muda asal Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Joe...

Rentetan Aksi Represif Aparat di Labuan Bajo: Warga di Kafe Diserang dan Dipukuli

Tindakan represif itu diawali dengan peringatan agar ratusan massa yang berkumpul di depan markas Polres Mabar segera membubarkan diri. Dimulai dengan tembakan peringatan, aparat melakukan penyerangan dengan memukul warga serta merusakkan beberapa kursi di dalam kafe.

Mengenal Motif Songke-Kain Tenun Sulam Manggarai Timur

Borong, Floresa.co - Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki...

Buntut Kenaikan Tarif ke TN Komodo, Pelayanan Jasa Wisata di Labuan Bajo akan Mogok Massal, Dimulai 1 Agustus 2022

“Kami dengan kesadaran penuh dan tanpa paksaan dari pihak manapun, dalam menyepakati komitmen pemberhentian semua pelayanan jasa pariwiata di Kabupaten Manggarai Barat yang akan dimulai pada tanggal 1 Agustus sampai 31 Agustus 2022,” demikian ditegaskan pelau wisata.

Konservasi vs Investasi

Oleh: GREGORIUS AFIOMA, Peneliti pada Sunspirit for Justice and Peace Pemerintah perlu...

Jokowi Umumkan Pulau Rinca untuk Pariwisata Massal, Pulau Padar dan Komodo untuk Pariwisata Eksklusif

Skema ini mengancam keutuhan Taman Nasional Komodo sebagai rumah perlindungan aman bagi satwa langka Komodo dari ancaman kepunahan akibat perubahan iklim dan dari desakan aktivitas eksploitatif manusia. Dengan skema itu pula, telah terjadi perubahan drastis paradigma pembangunan pariwisata dari ‘community based-tourism’ menjadi ‘corporate-driven tourism’.