BerandaARTIKEL UTAMADikunjungi Bank Dunia, Warga...

Dikunjungi Bank Dunia, Warga Wae Sano Desak Batalkan Pendanaan Proyek Geothermal

"Kami menegaskan, sudah sejak awal tidak pernah sekalipun memberi persetujuan atas proyek geothermal Wae Sano. Kami sudah menyampaikan hal itu dalam surat yang telah kami kirim kepada Bank Dunia pada Februari 2020 dan Juli 2021," kata salah seorang warga

Floresa.co – Masyarakat Adat Wae Sano di Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat, NTT mendesak Bank Dunia untuk menghentikan pendanaan terhadap proyek geothermal yang dikuatirkan agar mengancam kehidupan mereka.

Desakan itu disampaikan warga saat menyambut kedatangan tim dari Bank Dunia yang mendatangi kampung mereka pada Senin, 9 Mei 2020.

“Pada kesempatan ini kami hendak sekali lagi dan dengan tegas menyatakan bahwa kami menolak pengeboran panas bumi di wilayah ruang hidup kami di Wae Sano dan mendesak Bank Dunia untuk membatalkan dukungan dana terhadap proyek ini,” kata Yosef Erwin Rahmat, salah satu tokoh masyarakat adat Wae Sano.

Delegasi Bank Dunia yang mendatangi warga itu terdiri dari empat orang, yakni Satoshi yang berkewarganegaraan Jepang, Lestari Boediono serta dua lainnya. Mereka didampingi oleh Yando Zakaria, Staf Kantor Staf Presiden [KSP] dan John Situmorang, perwakilan PT Geodipa Energi, perusahan yang hendak mengerjakan proyek itu.

Geri Minus dari Tim Komite Bersama, sebuah tim kerja gabungan dari pemerintah, perusahan dan Gereja Katolik Keuskupan Ruteng yang dibentuk untuk meloloskan proyek itu bertindak sebagai moderator.

Yosef menyatakan, alasan mendasar dari penolakan mereka karena tik-titik pengeboran yang sudah ditetapkan berada di tengah-tengah ruang hidup mereka.

“Yang kami maksudkan dengan ruang hidup adalah kesatuan yang utuh dan tak terpisahkan antara pemukiman (golo lonto, mbaru kaeng, natas labar), kebun pencaharian (umat duat), sumber air (wae teku), pusat kehidupan adat (compang takung, mbaru gendang), kuburan leluhur (lepah boak) dan hutan (puar) dan danau (sano),” katanya.

“Sebab itu, kami menolak semua titik pengeboran (well pad) yang sudah ditetapkan baik Kampung Lempe, Nunang maupun Dasak,” tegasnya.

BACA: Proyek Geothermal Wae Sano Terus Dipaksakan, Warga Surati Bank Dunia dan New Zealand Aid  

Lebih lanjut, jelas Yosep, masyarakat adat Wae Sano mengetahui bahwa Bank Dunia terikat oleh prinsip “persetujuan tanpa paksaan berdasarkan informasi yang lengkap sebelumnya” atau Free, Prior and Informed Consect.

Yosef pun berharap, Bank Dunia menaati prinsip yang telah mereka buat sendiri.

“Kami menegaskan, sudah sejak awal tidak pernah sekalipun memberi persetujuan atas proyek geothermal Wae Sano. Kami sudah menyampaikan hal itu dalam surat yang telah kami kirim kepada Bank Dunia pada Februari 2020 dan Juli 2021,” ujarnya.

Kunjungan ini merupakan tanggapan atas surat penolakan yang telah dikirim warga pada Februari 2020. Pada tahun yang sama, karena alasan pandemi Covid-19, Bank Dunia sempat menawarkan untuk berjumpa secara virtual melalui  Zoom, namun warga menolaknya dan meminta agar Bank Dunia langsung ke kampung mereka.

Satoshi dari Bank Dunia mengaku mengerti dan memahami keresahan warga.

Namun, kata dia, pihaknya belum bisa memutuskan apakah tetap atau membatalkan pendanaan terhadap proyek tersebut.

Menurutnya, masalah serupa seperti yang dialami warga Wae Sano juga terjadi pada proyek-proyek yang dibiayai Bank Dunia, baik yang di Indonesia maupun negara-negara lain.

Karena itu, jelasnya, dibutuhkan dialog agar mendapatkan solusi dari masalah-masalah tersebut.

“Kami akan mendalami dan meneruskan keberatan bapak ibu sekalian ke atasan kami,” ujarnya.

Lebih lanjut, Satoshi menjelaskan bahwa kebijakan Bank Dunia untuk menanggapi keluhan dan pertanyaan masyarakat pada prinsipnya adalah dalam rangka menyiapkan rencana ataupun pencegahan agar tidak mendatangkan masalah.

“Dari kami, ketika kita bicara detail, teknis, kami berharap bahwa Geodipa ialah pihak yang tepat untuk membicarakannya,” ujarnya.

BACA: Pemerintah Hendak Eksekusi Proyek Geothermal Wae Sano, Warga Tetap Menolak dan Tagih Janji Bank Dunia

Meski demikian, Yosep menegaskan bahwa warga sudah tidak sedang mempersoalkan hal teknis.

Tuntutan warga, jelas dia, adalah agar proyek tersebut sesegera mungkin dihentikan.

“Meskipun pemerintah dan perusahaan berkali-kali memaksa, membujuk dan merayu kami, bahkan memanipulasi suara penolakan kami, semua itu tidak pernah mengubah sikap penolakan kami terhadap proyek geothermal Wae Sano hingga detik ini,” pungkasnya.

Suasana audiensi Warga Desa Wae Sano dengan perwakilan Bank Dunia pada Senin, 9 Mei 2022. (Foto: Floresa.co)

Pertemuan Bank Dunia dengan warga adat yang berlangsung di Kantor Desa Wae Sano berlangsung sekitar dua setengah jam.

Selain berdialog, Bank Dunia juga memantau titik- titik eksplorasi di wellpad B yang berlokasi di Dusun Nunang, dan di wellpad A di Dusun Lempe.

Setelah pertemuan dengan masyarakat adat yang menolak, pada pukul 14.00 – 16.30, Bank Dunia juga menggelar pertemuan dengan kelompok yang menerima proyek tersebut.

Proyek ini merupakan bagian dari upaya pemerintah memaksimalkan potensi geothermal di berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Flores yang telah ditetapkan sebagai Pulau Geothermal dan terdapat sekitar 20-an titik yang sedang dan akan dieskplorasi.

VIDEO

FLORESA

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

“Pak Jokowi, Bunuh Saja Kami,” Protes Warga Labuan Bajo yang Kembali Hadang Penggusuran Lahan oleh BPO-LBF

"Kami tidak sedang berdemontrasi, tetapi (sedang) pertahankan tanah kami," kata warga.

Begini Cara Buat Kandang Babi Sederhana, Tapi Bebas Bau dan Lalat

Floresa.co - Sebagian besar keluarga di Nusa Tenggara Timur (NTT) memelihara babi....

Warga dan BPO-LBF dalam Polemik Bowosie: Hidup Rentan di Moncong Negara

"Membaca kasus Racang Buka, kita dapat menarik benang merah antara dominasi negara neoliberal dan penghancuran ruang hidup warga. Maraknya investasi sektor privat menunjukkan bahwa negara tidak lagi menjadi wadah penjamin kesejahteraan, tetapi malah menjadi racun bagi hidup warganya."

“Pariwisata Holistik” Keuskupan Ruteng: Antara Kata dan Perbuatan

Keuskupan Ruteng sedang gencar mensosialisasikan konsep pariwisata holistik. Bagaimana sikap Keuskupan Ruteng terhadap sejumlah persoalan krusial yang dinilai berlawanan arah dengan prinsip pariwisata holistik itu?

“Anak-anak Kami Lapar,” Keluh Petani di Manggarai Barat yang Terancam Gagal Tanam Karena Bendungan Rusak

Bendungan Wae Cebong merupakan sumber air bagi irigasi untuk ratusan hektar sawah di area Persawahan Satar Walang, milik warga Desa Compong Longgo, desa yang berjarak 14 kilometer ke arah selatan dari Labuan Bajo.

Babi Makin Tambun, Dompet Anda pun Bertambah Tebal

Floresa.co - Selain kandang, aspek yang tak kalah penting ketika memelihara babi...

Motang Rua: Kisah Heroik Pahlawan Manggarai (1)

Floresa.co - Nama Motang Rua, yang lahir tahun 1860, sudah tak...

Mengolah Kemiri Agar Harganya Selangit

Oleh: F RAHARDI Provinsi Nusa Tenggara Timur,khususnya Pulau Flores, Pulau Adonara, Pulau Solor...