BerandaARTIKEL UTAMA"Pak Jokowi, Bunuh Saja...

“Pak Jokowi, Bunuh Saja Kami,” Protes Warga Labuan Bajo yang Kembali Hadang Penggusuran Lahan oleh BPO-LBF

"Kami tidak sedang berdemontrasi, tetapi (sedang) pertahankan tanah kami," kata warga.

Floresa.co – Warga di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat kembali berupaya menghadang penggusuran lahan untuk pembukan jalan yang dilakukan oleh Badan Pelaksana Otoritatif Labuan Bajo Flores (BOP-LBF) pada Senin, 25 April 2022.

Puluhan warga, termasuk perempuan dan anak-anak dari Komunitas Racang Buka sejak pagi berkumpul di lokasi penggusuran itu yang dijaga aparat keamanan.

Sambil membunyikan alat musik tradisional gong, mereka melantunkan nyanyian-nyanyian adat.

Sementara di tangan mereka, tampak sejumlah poster berisi tulisan dengan nada protes yang diarahkan ke sejumlah pihak, termasuk Presiden Joko Widodo, mengingat melalui peraturan yang ia keluarkan pada 2018 menjadi asalan bagi BPO-LBF menguasai lahan mereka.

“Pak Jokowi Bunuh Sekalian Saja Kami Daripada Perintah BPO-LBF Kuasai Kebun Kami, “Bunuh dan Tembak Saja Warga Bowosie Pak Jokowi” demikian isi beberapa poster warga.

Warga berusaha menghentikan eksavator yang sedang bekerja di lokasi itu. Sejumlah polisi juga siaga menjaga penggusuran itu.

Kasat Intel Polres Manggarai Barat, Markus Frederiko datang menemui warga pada pukul 11.15 dan meminta warga untuk menghentikan aksi.

Warga, termasuk perempuan dan anak-anak berkumpul di lokasi sejak pagi. (Foto: Floresa.co)

Menurutnya, warga seharusnya memasukan surat pemberitahuan aksi tiga hari sebelum kegiatan.

Namun, hal itu dibantah oleh Stef Herson, orator aksi yang menegaskan bahwa warga tidak sedang menggelar demonstrasi, tetapi menjaga lahan mereka yang dirampok pihak yang tidak bertanggung jawab.

“Kami tidak sedang berdemontrasi, tetapi (sedang) pertahankan tanah kami,” katanya.

Aksi itu merupakan lanjutan dari protes warga terhadap pembukaan jalan oleh BPO-LBF sebagai akses ke lahan 400 hektar di Hutan Bowosie yang hendak dikembangkan sebagai kawasan bisnis pariwisata, bagian dari Protek Strategis Nasional (PS). Penggusuran itu sudah dimulai sejak Kamis, 21 April, di mana seorang warga sempat ditangkap.

Warga, termasuk dari Komunitas Racang Buka, mempersoalkan hal itu, karena sebagian dari lahan yang telah mereka tempati sejak tahun 1990 juga dimasukkan ke dalam wilayah 400 hektar itu dan upaya penyelesaian terhadap konflik itu belum tuntas.

Penggusuran itu juga telah ditentang berbagai pihak, termasuk Konsorsium Pembaruan Agraria, yang meminta Presiden Jokowi mengevaluasi PSN di Labuan Bajo dan menghargai aspirasi warga yang kehilangan tanah mereka.

FLORESA

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

“Pak Jokowi, Bunuh Saja Kami,” Protes Warga Labuan Bajo yang Kembali Hadang Penggusuran Lahan oleh BPO-LBF

"Kami tidak sedang berdemontrasi, tetapi (sedang) pertahankan tanah kami," kata warga.

Begini Cara Buat Kandang Babi Sederhana, Tapi Bebas Bau dan Lalat

Floresa.co - Sebagian besar keluarga di Nusa Tenggara Timur (NTT) memelihara babi....

Warga dan BPO-LBF dalam Polemik Bowosie: Hidup Rentan di Moncong Negara

"Membaca kasus Racang Buka, kita dapat menarik benang merah antara dominasi negara neoliberal dan penghancuran ruang hidup warga. Maraknya investasi sektor privat menunjukkan bahwa negara tidak lagi menjadi wadah penjamin kesejahteraan, tetapi malah menjadi racun bagi hidup warganya."

“Pariwisata Holistik” Keuskupan Ruteng: Antara Kata dan Perbuatan

Keuskupan Ruteng sedang gencar mensosialisasikan konsep pariwisata holistik. Bagaimana sikap Keuskupan Ruteng terhadap sejumlah persoalan krusial yang dinilai berlawanan arah dengan prinsip pariwisata holistik itu?

“Anak-anak Kami Lapar,” Keluh Petani di Manggarai Barat yang Terancam Gagal Tanam Karena Bendungan Rusak

Bendungan Wae Cebong merupakan sumber air bagi irigasi untuk ratusan hektar sawah di area Persawahan Satar Walang, milik warga Desa Compong Longgo, desa yang berjarak 14 kilometer ke arah selatan dari Labuan Bajo.

Babi Makin Tambun, Dompet Anda pun Bertambah Tebal

Floresa.co - Selain kandang, aspek yang tak kalah penting ketika memelihara babi...

Motang Rua: Kisah Heroik Pahlawan Manggarai (1)

Floresa.co - Nama Motang Rua, yang lahir tahun 1860, sudah tak...

Mengolah Kemiri Agar Harganya Selangit

Oleh: F RAHARDI Provinsi Nusa Tenggara Timur,khususnya Pulau Flores, Pulau Adonara, Pulau Solor...