BerandaPERISTIWABupati Manggarai Barat: Di...

Bupati Manggarai Barat: Di Wae Sano Akan Dikembangkan Pariwisata Partisipatif

Floresa.co – Bupati Manggarai Barat, Edistasius Endi menjanjikan bahwa Desa Wae Sano, Kecamatan Sanonggoang akan menjadi lokasi pengembangan pariwisata.

Pernyataan itu ia sampaikan Jumat pekan lalu saat menerima warga Wae Sano yang berunjuk rasa menolak proyek geothermal di desa mereka.

“Dalam Perda [Peraturan Daerah] RPJMD [Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah] 2021, termasuk Perda RTRW [Rencana Tata Ruang Wilayah] yang baru, di mana untuk lokus Wae Sano ini, memang kita akan kembangkan pariwisata,” tutur Edi kepada warga yang mendatangi kantornya.

Dalam aksi itu warga menyatakan menolak proyek geotermal karena dinilai mengancam lingkungan dan keselamatan mereka. Karena itu, mereka meminta pemerintah menghadirkan model pembangunan yang partisipatif dan ramah lingkungan.

BACA: Warga Wae Sano Minta Bank Dunia Hentikan Pendanaan Proyek Geothermal

“Kami meminta kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Barat untuk megembangkan pariwisata alam berbasis komunitas dan mendorong ekonomi berbasis warga seperti petanian dan peternakan,” ujar Frans Napang, juru bicara warga Wae Sano.

Bupati Manggarai Barat, Edi Endi [Kemeja Putih] berpose bersama warga Wae Sano di Aula Kantor Bupati Manggarai Barat pada Sabtu, 5 Maret 2022. Kedatangan warga ialah untuk menyampaikan penolakan pembangunan geothermal Wae Sano kepada Pemda Mabar. [Foto: Floresa].
Bupati Edi menyebutkan salah satu bukti keseriusan pemerintah terkait pengembangan pariwisata adalah ketika pada tahun lalu Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mulai melakukan penataan aset pariwisata.

“Pariwisata yang akan dibangun juga adalah berbasis partisipatif,” imbuhnya.

Selain itu, baru-baru ini Dinas Pariwisata Manggarai Barat sudah mendatangi warga setempat dan telah menyiapkan Dana Alokasi Khusus [DAK] tahun 2022 untuk pengembangan Wae Sano.

BACA: Ruang Hidup Orang Wae Sano Terancam Proyek Panas Bumi

“Kita berharap supaya masyarakat bersinergi, saling mendukung, sehingga untuk tahun 2023 aset wisata Wae Sano akan ditata. Kalau sudah ditata maka kita siapkan master plan. Mari kita duduk bersama soal penataan bersama ini yang salah satu syaratnya adalah soal lahan,” katanya.

Sementara itu, terkait proyek geothermal, dalam kesempatan itu Edi mengatakan menghargai aspirasi warga dan mengatakan akan meneruskannya kepada pemerintah pusat dan Bank Dunia, sebagai pendana proyek.

Namun, lanjut Endi, jika kajian kehadiran proyek tersebut memberikan dampak positif yang lebih dominan, maka pihaknya tak punya alasan untuk tidak melanjutkannya.

Tim Floresa

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

Rezim Penghancur di Bowosie

Persoalan Bowosie sebetulnya bukan saja soal konsep pariwisata yang pro-kapitalis, tetapi yang lebih parah ialah bagaimana agenda bisnis orang-orang kuat yang meng-capture kekuasaan. Ketakutan akan ada agenda diskriminasi terhadap hak-hak masyarakat lokal begitu kuat, karena di atas tanah leluhur masyarakat, negara “menggadaikan” hak-hak masyarakat untuk kepentingan korporasi.

Galeri: Aksi Warga Compang Longgo, Mabar Tuntut Pemerintah Perbaiki Bendungan Rusak

Floresa.co - Masyarakat Desa Compang Longgo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat,...

Dere Serani, Lagu Rohani Manggarai Kini Hadir dalam Kemasan Instrumental

FLORESA.CO - Musisi muda asal Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Joe...

Mengenal Motif Songke-Kain Tenun Sulam Manggarai Timur

Borong, Floresa.co - Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki...

Komodo Dibawa ke Negara Lain, Bukan Hal Baru!

Labuan Bajo, Floresa.co - Penangkapan penyelundup Komodo di Jawa Timur (Jatim)...

Bantuan Rumah di Desa Perak, Cibal:  Staf Desa Jadi Penerima, Camat Protes

Ruteng, Floresa.co - Program Bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di...

Bersamaan dengan Puncak Anugerah Pesona Indonesia, Warga Labuan Bajo Gelar Festival “Selamatkan Hutan Bowosie”

Seperti ‘desing peluru tak bertuan,’ penggalan bait dalam senandung ‘Sunset di Tanah Anarki’ karya Supermen Is Dead, begitulah kira-kira rencana pembangunan pariwisata di Hutan Bowosie serta kebun dan tanah rumah warga. Tanpa pemberitahuan, tanpa sosialisasi. Tiba-tiba muncul begitu saja. Menghujam hati. Menguras waktu, tenaga dan emosi warga. Hari-hari pun menjadi tak benderang.