BerandaARTIKEL UTAMAWarga Asyik Menonton Saat...

Warga Asyik Menonton Saat Mobil Anggota DPRD Provinsi Terjebak di Jalan Rusak

Warga di Kecamatan Reok Barat kecewa pada kondisi jalan provinsi di wilayah mereka yang tidak kunjung diperbaiki.

Floresa.co – Mobil yang ditumpangi Vinsen Pata, anggota Komisi IV DPRD Provinsi NTT bergerak perlahan ketika melintasi jalan provinsi di Dusun Munta, Desa Nggalak, Kecamatan Reok Barat, Kabupaten Manggarai, Selasa siang, 18 Januari 2021. Empat mobil yang ditumpangi sembilan anggota dewan lainnya menunggu di belakang.

Mobil jenis Mitsubishi Pajero VGT berwarna putih itu menyusuri bahu jalan demi menghindari genangan air yang menutupi badan jalan sepanjang sekitar 30 meter.

Setelah sekitar 20 meter bergerak maju, ban mobilnya sudah berputar di tempat. Mobil dengan nomor polisi EB 1747 GA itu tertahan karena bagian kolongnya kandas di gundukan batu yang tertutup lumpur.

Sopir-sopir mobil lainnya berusaha mendorong namun landasan jalan yang berlumpur menyulitkan mereka.

Vinsen yang sudah turun dari mobil meminta bantuan warga sekitar. Namun, mereka tak peduli. Warga tampak asyik menyaksikan anggota dewan yang berjibaku mendorong mobil mereka.

“Tidak ada yang mau bantu kita ini. Mereka (warga) pasti benci dengan kita. Mereka bilang, kalian DPRD tidak berjuang supaya pemerintah segera perbaiki jalan ini,” kata anggota DPRD dua periode itu pada teman-temannya.

Setelah hampir 30 menit berusaha mendorong, barulah beberapa warga ikut membantu.

Mereka mencari tali pengikat agar mobil tersebut bisa ditarik oleh mobil lainnya. Namun upaya tersebut sia-sia. Mobil baru bisa beranjak ketika ditarik menggunakan mobil milik Pemkab Manggarai yang datang lebih dari satu jam kemudian.

Kondisi jalan tersebut memang sudah tidak layak lagi. Menurut warga, saat musim kemarau pun, truk pengangkut penumpang dan logistik kesulitan melintasi jalan tersebut.

“(Namun) karena begitu banyak kebutuhan yang harus didapatkan, makanya mau tidak mau harus bisa (melintasinya), bagaimana pun caranya,” kata Hendi Jemadu, salah seorang warga Desa Nggalak.

Ia menjelaskan, umumnya kendaraan yang melewati lokasi itu membawa sekam yang kemudian disiram di badan jalan yang licin.

Beberapa jam sebelum tiba di Dusun Munta, mobil rombongan wakil rakyat itu juga harus mengarungi kubangan sepanjang sekitar 200 meter di dusun tetangga, Dusun Tureng. Di kiri dan kanan jalan di lokasi itu terdapat gundukan lumpur campur sekam setinggi bodi mobil. Di sini, mobil jenis Kijang yang ditumpangi staf Sekretariat DPRD dan wartawan terpaksa balik ke Labuan Bajo.

Kondisi jalan di Dusun Tureng yang rusak parah. (Foto: Floresa)

Warga setempat telah berkali-kali memperbaiki jalan ini. Tahun lalu, mereka bergotong-royong mendatangkan batu dan agregat masing-masing sebanyak enam truk untuk menimbun badan jalan. Namun, semuanya tenggelam ke dalam lumpur.

Warga berharap banyak pada DPRD dan Pemprov NTT meski mereka juga mengaku kesal karena membiarkan kerusakan berlangsung lama sehingga kondisinya kian parah. Padahal dalam beberapa kesempatan kunjungan pejabat, selalu ada janji untuk segera memperbaiki jalan tersebut.

“Tolong sampaikan kepada (DPRD dan pemerintah) provinsi karena katanya di sini jalan provinsi, tapi ternyata (DPRD dan pemerintah) provinsi hanya melihat begitu saja. Buktinya tidak ada. Kami meminta semoga segera mulai diperbaiki,” ujar Simon Adu, salah seorang warga Desa Nggalak.

Jalur sangat vital karena merupakan  satu-satunya akses bagi warga Kecamatan Reok Barat dan sekitarnya menuju pasar di kota pelabuhan Reok atau ke Labuan Bajo.

Mobil jenis Mitsubishi Pajero VGT yang ditumpangi Vinsen Pata, anggota DPRD Provinsi NTT sedang melintasi jalan di Dusun Tureng. (Foto: Floresa)

Selama ini petani kesulitan untuk memasarkan komoditi andalan seperti porang, kemiri, vanili, dan cengkeh sehingga mereka terpaksa menjualnya kepada pengepul dengan harga yang sangat murah.

Kisah pilu lainnya yang kerap mereka rasakan yakni ketika mengantar warga yang sakit dan ibu hamil menuju Puskesmas atau yang harus dirujuk ke rumah sakit. Warga harus menggendong atau menandu pasien ketika mobil yang digunakan mogok di jalan.

Tak hanya melayani warga Kecamatan Reok Barat, keberadaan jalan tersebut juga bisa memperpendek jalur distribusi bahan bakar minyak (BBM) dari Depo Pertamina Reok menuju Labuan Bajo.

Selain itu, berdampak pula pada akses wisatawan dari Labuan Bajo menuju destinasi penyanggah di kawasan utara Manggarai Barat, Manggarai, dan Manggarai Timur serta pesisir utara Flores lainnya. Bahkan obyek wisata Air Terjun Tengku Siwa di Desa Sambor yang luar biasa indahnya itu letaknya tak jauh dari jalan tersebut.

Anggota Komisi III DPRD NTT, Ben Isidorus yang ikut dalam rombongan tersebut mengatakan sepanjang 906 kilometer jalan yang menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi NTT dalam kondisi rusak.  Dari jumlah tersebut, lebih dari 30 kilometer berada di ruas jalan Nggorang Labuan Bajo – Noa – Kedindi Reok.

Sisa jalan rusak pada ruas tersebut termasuk kubangan di Desa Nggalak yang terdapat dalam segmen terakhir yakni Pateng – Kajong – Kedindi.

Ben menjelaskan, untuk sisa jalan rusak pada segmen tersebut sebenarnya sudah diusulkan untuk diperbaiki sejak 2019, namun ketika hendak diperbaiki tahun 2020 dan 2021, anggaran dialihkan untuk penanganan pandemi Covid-19.

Ia menjelaskan, Pemprov NTT kemudian mengusulkan kepada pemerintah pusat agar jalan tersebut diakomodir melalui Dana Alokasi Khusus, namun hingga saat ini, Pemprov NTT tidak mendapatkan dana tersebut.

Ben mengatakan, usai memantau keseluruhan jalan provinsi, mereka mendorong Pemprov NTT untuk segera melakukan penanganan darurat sambil mencari solusi penanganan permanen.

“Agar sesuai janji pemerintah, jalan rusak dituntaskan perbaikannya tahun 2022 atau paling lambat tahun 2023. Kalau dibiarkan seperti ini maka akses transportasi di sini lumpuh total,” katanya.

Anggota Badan Anggaran, Maksi Adipati Pari mengatakan pihaknya sudah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi NTT.

Ia mengklaim, Pemerintah Provinsi memberi jaminan untuk bisa menuntaskan sisa jalan provinsi yang belum diperbaiki.

YOHANES/FLORESA

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

“Pak Jokowi, Bunuh Saja Kami,” Protes Warga Labuan Bajo yang Kembali Hadang Penggusuran Lahan oleh BPO-LBF

"Kami tidak sedang berdemontrasi, tetapi (sedang) pertahankan tanah kami," kata warga.

Begini Cara Buat Kandang Babi Sederhana, Tapi Bebas Bau dan Lalat

Floresa.co - Sebagian besar keluarga di Nusa Tenggara Timur (NTT) memelihara babi....

Warga dan BPO-LBF dalam Polemik Bowosie: Hidup Rentan di Moncong Negara

"Membaca kasus Racang Buka, kita dapat menarik benang merah antara dominasi negara neoliberal dan penghancuran ruang hidup warga. Maraknya investasi sektor privat menunjukkan bahwa negara tidak lagi menjadi wadah penjamin kesejahteraan, tetapi malah menjadi racun bagi hidup warganya."

“Pariwisata Holistik” Keuskupan Ruteng: Antara Kata dan Perbuatan

Keuskupan Ruteng sedang gencar mensosialisasikan konsep pariwisata holistik. Bagaimana sikap Keuskupan Ruteng terhadap sejumlah persoalan krusial yang dinilai berlawanan arah dengan prinsip pariwisata holistik itu?

“Anak-anak Kami Lapar,” Keluh Petani di Manggarai Barat yang Terancam Gagal Tanam Karena Bendungan Rusak

Bendungan Wae Cebong merupakan sumber air bagi irigasi untuk ratusan hektar sawah di area Persawahan Satar Walang, milik warga Desa Compong Longgo, desa yang berjarak 14 kilometer ke arah selatan dari Labuan Bajo.

Babi Makin Tambun, Dompet Anda pun Bertambah Tebal

Floresa.co - Selain kandang, aspek yang tak kalah penting ketika memelihara babi...

Motang Rua: Kisah Heroik Pahlawan Manggarai (1)

Floresa.co - Nama Motang Rua, yang lahir tahun 1860, sudah tak...

Mengolah Kemiri Agar Harganya Selangit

Oleh: F RAHARDI Provinsi Nusa Tenggara Timur,khususnya Pulau Flores, Pulau Adonara, Pulau Solor...