BerandaPERISTIWADicungkil dengan Tangan, Lapen...

Dicungkil dengan Tangan, Lapen yang Baru Dikerjakan di Elar Selatan Langsung Terkelupas

Floresa.co – Warga Desa Wuas, Kecamatan Elar Selatan, Kabupaten Manggarai Timur memprotes pengerjaan jalan lapen yang dinilai tidak berkualitas.

Bahkan ketika mereka mencoba mencungkilnya dengan tangan, lapen yang dua pekan lalu dikerjakan itu langsung terkelupas.

Aksi warga memeriksa kondisi jalan itu terekam dalam sebuah video yang dikirimkan kepada Floresa.co pada Jumat, 5 November.

“Ini saya bongkar (dengan tangan). Jalan apa ini, buang uang saja ini,” kata seorang warga dalam video berdurasi 1 menit 49 detik itu.

“Padahal sudah dua minggu, jalan tidak keras, tidak bagus,” katanya lagi.

Dalam video itu terlihat jelas bagaimana lapen itu begitu mudah terkelupas ketika dicungkil.

Proyek jalan kabupaten dengan nama proyek Peningkatan Jalan Simpang Ladok-Koit–Watu-Deruk (Segmen  Ndawang-Nio-Deruk) itu dikerjakan oleh CV. Angkasa Utama, dengan anggaran sebesar Rp 738.557.600.

Sementara itu, ditanya terkait video itu, Ibrahim Mubarak, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) di Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Manggarai Timur yang bertanggung jawab atas proyek itu mengatakan, bagian yang rusak itu “diperbaiki saja” mengingat proyeknya masih dikerjakan.

“(Itu) masih tanggung jawab kontraktor. Mereka punya kewajiban (untuk memperbaiki) itu,” katanya.

Sebelumnya, keluhan terkait proyek itu disampaikan seorang warga desa yang sempat memantau proses pengerjaannya.

Ia mengatakan, selama pengerjaan, ia melihat para pekerja got menimbun tanah bekas galian di atas badan jalan, menutupi batu telford yang sebelumnya ditanam.

Saat pengerjaan lapen, kata warga itu, pekerja tidak membersihkan tanah itu terlebih dulu, yang membuat lapisan aspal tidak melekat dengan batu telford.

“Seharusnya batu yang sebelumnya ditanam itu tidak boleh ditutupi dengan tanah. Karena saat ini musim hujan, tanah tersebut pasti berubah menjadi lumpur sehingga ketika dilapisi aspal, pasti cepat rusak,” kata warga itu yang meminta namanya tidak dipublikasi.

Ia juga menduga alat berat atau vibro yang digunakan untuk pemerataan badan jalan tidak sesuai standar karena ukurannya kecil sehingga material bebatuan yang digilas tidak kuat.

“Saya lihat di tempat lain ukuran vibronya sangat besar sehingga kualitas jalan yang dikerjakan sangat bagus. Kenapa proyek jalan kabupaten yang ada di Desa Golo Wuas ukuran vibronya kecil? Jangan heran belum sampai sebulan, keadaaan jalanya sudah rusak,” katanya.

CV Angkas Utama sebelumnya mengerjakan proyek jalan di Desa Golo Wuas untuk Segmen Watu – Ndawang – Nio.

Pantauan Floresa.co, jalan yang dikerjakan pada 2019 itu dengan total anggaran sebesar Rp 1.804.890.000 sudah rusak di sejumlah titik dari Watu sampai Ndawang.

Laporan GABRIN ANGGUR

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

Polisi yang Kembali dari Labuan Bajo Usai Kawal Aksi Mogok Kecelakaan

Sumber Floresa.co di Waelengga mengatakan, bus bernomor polisi EB 7004 DK tersebut terbalik di Teku Teang, arah barat Waelengga sekitar pukul 20.00 Wita.

Terkait Aksi Represif di Labuan Bajo, PMKRI dan GMNI Desak Kapolri Copot Kapolda NTT dan Kapolres Mabar

"Kedua petinggi institusi kepolisian ini telah mempermalukan institusi Polri dengan memerintahkan anak buahnya melakukan tindakan represif," tegas PMKRI dan GMNI.

Hari Pertama Aksi Mogok Pariwisata di Labuan Bajo: Pegiat Wisata Ditangkap dan Dipukuli Aparat, Situasi Mencekam

Suasana kota tidak ramai seperti biasanya, di mana bandara sepi dan pelabuhan tidak beroperasi. Wisatawan yang tiba di Bandara Komodo Labuan Bajo terpaksa dijemput dengan angkutan umum yang dikendarai polisi.

Kacaunya Tata Kelola TN Komodo: Penuh Kepentingan Bisnis, Minim Aksi Konservasi, dan Menyisihkan Warga Setempat

Pengembangan konservasi dan pariwisata juga harus menjamin keikutsertaan aktif serta distribusi keadilan bagi warga di dalam dan sekitar kawasan. Harapannya, mata pencaharian mereka tidak dicaplok oleh kepentingan elit bisnis dan politik.

Aksi Mogok Hari Kedua: Satu Pelaku Wisata Jadi Tersangka, Pemerintah Pakai Mobil Dinas Angkut Wisatawan

Upaya para pelaku wisata melakukan aksi damai untuk menyuarakan protes kepada pemerintah dilarang aparat, dengan dalih bahwa aksi mereka tidak diizinkan karena mengganggu ketertiban dan keamanan masyarakat. Hingga sore ini, masih terdapat tiga pelaku wisata yang ditahan di Polres Mabar, sejak ditangkap kemarin. Salah satunya sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Puluhan Pelaku Wisata Masih Ditahan di Polres Mabar, 6 Mengalami Luka

“Enam orang [di antaranya] mengalami luka yang kelihatan pada tubuh dan wajah dan 4 orang mengalami sakit di kepala dan punggung yang [menurut] pengakuan mereka merasa dipukul dan ditendang dari belakang,” kata pengacara.

Tanggapi Mogok Massal di Labuan Bajo Lewat Himbauan di Medsos, Menteri Pariwisata Dikritik Keras

“Pak @Saindiuno, yang terjadi di L Bajo, pemerintah pakai dalih konservasi, itu pun tidak masuk akal, padahal sebenarnya mau invasi investasi ke TNK. Jangan tipu masyarakat...”

Walhi NTT Ingatkan Pemerintah Berhenti Khianati Mandat Cagar Biosfer TN Komodo

“TN Komodo yang telah berjalan 42 tahun gagal untuk menjalankan tiga mandat utama cagar biosfer yakni pelestarian keanekaragaman hayati/satwa, peningkatan kesejahteraan ekonomi rakyat dengan mekanisme ekonomi ramah lingkungan dan berkeadilan dan pemuliaan kebudayaan rakyat,” kata Walhi NTT