BerandaARTIKEL UTAMAWarganya Kelaparan Saat Isoman,...

Warganya Kelaparan Saat Isoman, Pemkab Manggarai Sedang Berpikir Agar Mereka Dibantu Dana Covid-19

Biasanya, saat tidak bisa mengolah lahan, suami dari Magdalena Lanus (26) ini bekerja sebagai tukang ojek. Namun sejak sepekan terakhir, sepeda motor butut miliknya hanya diparkir di samping rumah karena ia terpapar virus corona.

Ruteng, Floresa.coYoseph Katu (37) sendirian di tengah sawah. Ia menancapkan ujung sekop, menggembur sawah di belakang rumahnya yang terletak di  Dusun Tadong, Kelurahan Karot, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, NTT.

Sawah miliknya cukup luas namun tidak berair pada musim kemarau. Ia hanya bisa membajak untuk tanam padi sekali dalam setahun, yakni pada musim hujan.

“Rencananya mau tanam kacang-kacangan,” ujarnya sambil memecahkan tanah.

Biasanya, saat tidak bisa mengolah lahan, suami dari Magdalena Lanus (26) ini bekerja sebagai tukang ojek. Namun sejak sepekan terakhir, sepeda motor butut miliknya hanya diparkir di samping rumah karena ia terpapar virus corona.

“Sudah enam hari tidak bisa buat apa-apa. Hari ini saya angkat sekop untuk gembur tanah sekalian untuk olah raga, cari keringat,” katanya dengan suara agak kencang.

Ayah tiga anak anak ini terkonfirmasi positif covid-19 setelah menjalani rapid test antigen di Puskesmas Watu Alo, Jumat (20/8) lalu.

BACA: Proyek Pembibitan Kayu dan Buah Milik KLHK dan Kemenparekraf di Labuan Bajo Babat Berhektaran Hutan, di Dalamnya Terdapat Sumber Air

Selain dirinya, istri dan dua anaknya juga terpapar virus corona. Beruntung, si bungsu berusia empat bulan dan seorang ponakan berusia 12 tahun yang tinggal bersama mereka, tidak ikut terpapar.

“Namun kondisi mereka sudah membaik karena sejak awal memang tidak disertai dengan gejala flu dan batuk,” jelas Kepala Puskesmas Watu Alo, drg. Yohanes F Tutu.

Kondisi mereka memang selalu dalam pantauan petugas Puskesmas selama menjalani isolasi mandiri sejak Jumat lalu. Selain memeriksa kondisi mereka, petugas juga memberikan vitamin dan masker.

Meski kondisi kesehatan mereka perlahan membaik, keluarga ini menghadapi ancaman kelaparan karena persediaan makanan habis.

Ketika hendak berbelanja sembako, mereka tidak dilayani pemilik kios atau warung. Demikian pula saat menggiling padi menjadi beras, pemilik penggilingan tidak melayani mereka.

“Mereka kehabisan makanan. Saat belanja di kios atau hendak giling padi, mereka tidak dilayani. Padahal mereka ini sangat membutuhkan asupan gizi yang cukup. Apalagi anak-anak mereka masih kecil. Bahkan ada bayi masih empat bulan,” ujar Maria Yasinta Dewi, salah seorang kerabat yang kebetulan tinggal tidak jauh dari rumah Yoseph.

BACA: Setelah Ruang Hidup Komodo, Proyek Super Premium Jokowi juga Ancam 400 Hektar Hutan Penyangga Kota Labuan Bajo

Sejak awal menjalani isolasi mandiri, Dewi dan saudarinya yang selalu mengantar sayur dan beberapa jenis makanan untuk keluarga Yoseph. Mereka menaruhnya di depan pintu rumah, lalu anak-anak Yoseph mengambilnya setelah mereka pergi.

“Namun kami hanya bisa bantu sesuai kemampuan kami karena untuk makan sendiri juga susah,” tuturnya.

Terpisah, Sekretaris Daerah Kabupaten Manggarai, Jahang Fansy Aldus mengaku sudah mengetahui kondisi keluarga tersebut. Kondisi tersebut, kata Fansy, mestinya tidak boleh terjadi.

Ia mengatakan, khusus di desa-desa, setiap warga yang menjalani isolasi mandiri pasti mendapat perhatian dari Satgas Desa karena ada Dana Desa. Sementara di kelurahan-kelurahan, tidak ada dana kelurahan sehingga tidak ada anggaran untuk warga yang menjalani isolasi mandiri.

Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah sebenarnya sudah menyiapkan tempat karantina terpusat di Wisma Atlet Golo Dukal. Wisma berkapasitas 160 tempat tidur itu masih cukup untuk menampung pasien asal kelurahan-kelurahan.

“Kalau warga kita yang terkonfirmasi positif covid-19 ini masuk karantina terpusat di Wisma Atlet maka seluruh kebutuhan, makanan, obat selama proses isolasi itu ditanggung oleh dana covid,” jelas Fansy.

Namun kondisi di keluarga masing-masing pasien tentu saja berbeda. Ada yang harus mengurusi anak-anak yang masih kecil, masih harus tetap bekerja serabutan untuk menopang ekonomi keluarga, memperhatikan ternak peliharaan, dan sebagainya.

Untuk warga kelurahan yang terpaksa menjalani isolasi mandiri ini, Pemkab Manggarai masih memikirkan agar mendapat bantuan dari dana covid-19 juga.

“Oleh karena itu memang ada suatu pemikiran dari Pemerintah Kabupaten Manggarai agar semua warga yang terkonfirmasi positif covid-19 dan melakukan isolasi mandiri itu dipikirkan untuk diberikan bantuan dari dana covid,” katanya.

John/Floresa

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

Rezim Penghancur di Bowosie

Persoalan Bowosie sebetulnya bukan saja soal konsep pariwisata yang pro-kapitalis, tetapi yang lebih parah ialah bagaimana agenda bisnis orang-orang kuat yang meng-capture kekuasaan. Ketakutan akan ada agenda diskriminasi terhadap hak-hak masyarakat lokal begitu kuat, karena di atas tanah leluhur masyarakat, negara “menggadaikan” hak-hak masyarakat untuk kepentingan korporasi.

Galeri: Aksi Warga Compang Longgo, Mabar Tuntut Pemerintah Perbaiki Bendungan Rusak

Floresa.co - Masyarakat Desa Compang Longgo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat,...

Dere Serani, Lagu Rohani Manggarai Kini Hadir dalam Kemasan Instrumental

FLORESA.CO - Musisi muda asal Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Joe...

Mengenal Motif Songke-Kain Tenun Sulam Manggarai Timur

Borong, Floresa.co - Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki...

Komodo Dibawa ke Negara Lain, Bukan Hal Baru!

Labuan Bajo, Floresa.co - Penangkapan penyelundup Komodo di Jawa Timur (Jatim)...

Bantuan Rumah di Desa Perak, Cibal:  Staf Desa Jadi Penerima, Camat Protes

Ruteng, Floresa.co - Program Bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di...

Kasus Korupsi Tanah Bandara Komodo Akan Dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor Kupang

Floresa.co - Kejaksaan Negeri Manggarai Barat , Nusa Tenggara Timur...