Sabtu, 25 September 2021

Potensi Bahaya “Work from Labuan Bajo” dan Penumpang Positif Covid-19 yang Masih Lolos Terbang

Diklaim demi menghidupkan ekonomi, program 'Work from Labuan Bajo' menyimpan soal serius, terkait ancaman bahaya peningkatan kasus Covid-19. Apalagi, baru-baru ini terungkap bahwa ada penumpang yang positif Covid-19 berdasarkan tes PCR, namun masih lolos menumpang pesawat terbang

Floresa.co – Dalam beberapa waktu terakhir, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPO LBF) gencar mempromosikan ajakan bekerja dari Labuan Bajo (work from Labuan Bajo), hal yang tentu beresiko di tengah penyebaran Covid-19 yang makin ganas di beberapa daerah seperti Jawa dalam setidaknya dua pekan terakhir.

Program bekerja dari destinasi wisata ini, menurut Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno bertujuan agar mendorong para pegawai negeri sipil dan pihak swasta untuk bekerja dari destinasi wisata, demi “semakin meningkatkan jumlah keterisian kamar serta lama tinggal wisatawan” di daerah destinasi wisata.

Selanjutnya, kata dia, ada efek ganda yang besar bagi pertumbuhan ekonomi di destinasi wisata.

- Advertisement -

Sandiaga juga menekankan bahwa sebuah daerah bisa menjadi lokasi program ini jika pemerintah dan warga setempat disiplin menerapkan protokol kesehatan dan tergolong dalam kawasan hijau yang menandai rendahnya tingkat penyebaran Covid-19.

Untuk program Work from Labuan Bajo, sejumlah media massa ikut digandengn untuk mempromosikannya.

Namun, di balik cita-cita akan mendatangkan dampak ekonomi, sejumlah pihak menilai program itu malah bisa memicu peningkatan kasus Covid-19 di Labuan Bajo, Manggarai Barat (Mabar) dan Pulau Flores pada umumnya, mengingat sejauh ini kontrol terhadap mobilitas warga di pulau itu tidak lagi seketat sebelumnya, dengan tingkat kepatuhan terhadap penerapan protocol kesehatan yang rendah.

Kekhwatiran semacam ini salah satunya disuarakan oleh akun Instagram @kawanbaikomodo, akun yang dalam unggahan-unggahannya kerap memberi catatan kritis terhadap program-program dan aktivitas pemerintah lainnya di NTT.

Dalam unggahannya pada Sabtu, 26 Juni, akun itu mengkiritisi promosi itu yang kini terus digaungkan pemerintah dan mempertanyakan kesiapan Mabar dan Flores umumnya terhadap kemungkinan resiko yang akan muncul.

“Sudah siapkah Manggarai Barat dan Flores pada umumnya menghadapi lonjakan Covid-19 baru? Seperti apa persiapan konkretnya? Siapa yang bertanggung jawab mengontrol situasi ini?” demikian pertanyaan di akun itu, yang diserta harapan agar pemerintah segera memperketat hubungan transportasi dengan Jawa, misalnya wajib PCR, bukan hanya rapid-antigen bagi siapapun yang dating ke Labuan Bajo.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Menjaga Alam NTT (@kawanbaikkomodo)

Kekhwatiran demikian setidaknya telah didukung oleh bukti konkret dengan munculnya pengakuan seseorang yang mengklaim bisa tetap lolos terbang dari Labuan Bajo ke Jakarta kendati ia positif Covid-19.

Pengakuan itu muncul dalam komentar di unggahan @kawanbaikkomodo oleh pengguna Instagram @fajarnoverianto.

Menurut @fajarnoverianto, yang mengaku baru pulang dari Labuan Bajo, ada seorang rekannya yang mendapat hasil positif Covid-19 saat tes rapid-antigen di Apotek Bunda Labuan Bajo.

Karena positif antigen, temannya itu lalu menjalani tes PCR di rumah sakit. Namun karena hasilnya baru didapat 1×24 jam dan pesawat yang akan membawanya kembali ke Jakarta akan berangkat keesokan harinya, temannya itu pun mengambil langkah menjalani tes antigen ulang di Bandara Komodo Labuan Bajo.

“Yang bikin kaget ternyata hasilnya negatif,” tulisnya.

Hasil itu membuat temannya bisa terbang ke Jakarta.

Namun, saat tiba di Jakarta, mereka lalu mendapat kabar terkait hasil PCR temannya itu. Dan, hasilnya adalah positif Covid-19.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Menjaga Alam NTT (@kawanbaikkomodo)

 

Akun @kawanbaikkomodo menyatakan, kisah dari @fajarnoverianto itu menunjukkan bahwa “kita tidak sedang baik-baik saja.”

“Virus itu ada di sekitar kita, dan sistem kita tidak siap untuk melacak lalu lintas orang-orang yang terpapar.”

Akun itu pun berharap agar informasi penting ini bisa ditelusuri dan pemerintah segera mengaudit tempat tes antigen di Bandara Komodo.

“Mengapa hasil di sini bisa negatif sementara di klinik lainnya positif dan hasil PCR rumah sakit positif. Apa benar-benar hasil lab atau ada indikasi permainan?” tulis @kawanbaikkomodo.

Sejauh ini belum diketahui pasti identitas penumpang yang bisa lolos terbang itu, maskapai yang ia tumpangi dan rumah sakit tempat ia menjalani tes PCR.

Sementara itu @fajarnoverianto berkomentar bahwa menjadi rahasia umum banyak warga yang melakukan tes antigen berkali-kali untuk mendapatkan hasil negatif sehingga bisa melakukan perjalanan.

“Semoga saja sistemnya diperbaiki, jangan sampai yang seperti ini terjadi lagi,” tulisnya.

FLORESA

- Advertisement -

Baca Juga