Selasa, 26 Oktober 2021

Kopi Colol Mendunia, Bagaimana Nasib Petaninya?

Dikenal sebagai daerah penghasil kopi berkelas, yang kualitasnya sudah diakui secara nasional, bahkan mendunia, kondisi kehidupan petani di Colol masih memperihatinkan. Harga jual yang mereka dapat dari jerih payah mengolah kopi begitu rendah.

Hamparan perkebunan kopi membentang luas sejauh mata memandang. Hampir tak ada celah kosong. Halaman rumah-rumah penduduk pun disesaki dengan tanaman komoditas yang kini digandrungi oleh sebagian masyarakat di berbagai belahan dunia itu. Begitulah pemandangan yang terlihat saat memasuki lembah Colol di Kecamatan Lamba Leda Timur, Kabupaten Manggarai Timur.

Berada di kaki bukit Poco Nembu, dengan ketinggian 1200-1400 dari permukaan laut, membuat tanaman kopi bertumbuh subur di tempat itu. Ada beraham jenis kopi yang ditanam petani; arabika, yellow caturra, red caturra, juria, robusta, dan beberapa jenis lainnya.

Secara administrasi, lembah Colol dibagi menjadi empat wilayah desa, yakni Desa Ulu Wae, Desa Colol, Desa Rende Nao, dan Desa Wejang Mali. Mayoritas penduduk empat desa di wilayah ini hidup bertani, dan kopi menjadi sumber penghasilan utama mereka.

“Sumber hidup keluarga saya adalah kopi, mulai dari kebutuhan makan minum sampai kebutuhan adat dan kebutuhan lainnya,” tutur Mikael Human (55), seorang petani kopi asal Rajong, Desa Colol, Kamis, 10 Juni.

Mikael mengaku menanam kopi sejak berusia 35 tahun. Ia menanamnya di dua lahan yang masing-masing seluas sekitar satu hektar. Di dua lahan itu, ia menanam kopi arabika, robusta dan yellow caturra, serta sebagian kecil kopi juria peninggalan orangtuanya.

Ia mengaku menanam kopi sesuai pengetahuan yang diperoleh dari orangtuanya, di mana satu lahan ditanami lebih dari dua jenis kopi.

Demikian untuk sistem perawatannya, Mikael masih menggunakan pola tradisional, di mana rumput-rumput liar atau gulma dicabut menggunakan tangan, dibantu peralatan seperti sabit dan tofa.

Ia memilih tidak menggunakan obat pembasmi rumput atau pestisida yang sudah mulai banyak digunakan petani lain di wilayah Manggarai.

“Saya tidak pernah gunakan itu karena takut akar kopi rusak. Begitupun pupuk, saya tidak pernah gunakan. Saya rawat alami saja,” katanya.

Dengan pola perawatan yang demikian, ia bisa memanen arabika 300 kg green bean atau 1200 liter, dan yellow caturra 200 kg green bean atau 800 liter. Perbandingan biji kopi setelah di-pulper atau dikupas kulitnya dengan biji kopi green bean yakni 4:1, artinya 4 liter biji kopi setelah kulit luarnya di-pulper sama dengan 1 Kg biji kopi green bean.

“Tapi kadang bisa di bawah atau di atas itu. Tergantung curah hujan. Kalau kopi robusta dan juria, hasilnya sedikit sekali,” ucapnya.

Kopinya Mendunia, Petaninya Buntung

Konon, Colol merupakan kampung yang menjadi cikal bakal penyebaran kopi di seluruh wilayah Manggarai.

Pada zaman penjajahan, tepatnya pada tahun 1937, kopi dari lembah Colol berhasil memenangkan sayembara nasional “Pertandingan Keboen Kopi” yang digelar oleh otoritas Belanda di Indonesia, dan dihadiahi bendera Belanda.

Sejak saat itu, Colol dikenal sebagai daerah penghasil kopi di Manggarai.

Beberapa tahun terakhir, nama Colol pun melejit dan dikenal hingga ke Eropa dan Amerika Serikat.

Hal itu berkat perjuangan Asosiasi Petani Kopi Manggarai (Asnikom) yang memperkenalkan dan menjual kopi Colol ke luar negeri.

Pada 2015, kopi jenis arabika dan robusta asal Colol dinobatkan sebagai kopi terbaik dalam kontes kopi yang diselenggarakan oleh Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia bersama Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Jember.

Dalam kontes yang dilaksanakan di Banyuwangi, Jawa Timur, pada 10-14 November 2015 tersebut,  Kopi Colol berhasil menggeser peringkat kopi Jambi, dengan nilai 84,32 poin.

Namun, di tengah nama kopi Colol yang terus melambung, nasib petani di wilayah ini belum beruntung.

Sebagian dari mereka masih belum menikmati kehidupan yang layak. Hal itu disebabkan karena harga kopi di tingkat petani tidak sesuai dengan biaya operasional yang mereka keluarkan.

Mikael mengatakan, rata-rata setiap tahun, harga kopi arabika 11 ribu rupiah per liter, dan yellow caturra 15 ribu rupiah per liter. Dengan harga yang demikian, ia memperoleh penghasilan kotor sekitar 25,2 juta rupiah dari  hasil penjualan kopi selama setahun.

Uang tersebut, kata dia, tidak bisa memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya. Untuk menyambung hidup, Mikael terpaksa harus mencari pekerjaan lain, seperti menjadi buruh bangunan dan menjual kayu api.

“Kami petani kopi ini pegang uang hanya saat musim panen kopi saja. Kopi habis di pohon, uang juga habis,” katanya.

Menurut Mikael, kondisi yang demikian, memaksanya untuk mengijon kopi di pemodal. Biasanya, ia mengambil ijon pada bulan April atau Mei – musim di mana mereka membersihkan kebun kopi.

“Kami ambil ijon dengan harga lima ribu sampai tujuh ribu rupiah per liter. Kami ambil ijon di bulan-bulan itu untuk beli beras saat kami kerja bersihkan rumput di kebun kopi,” ceritanya.

Efriana Fatima (48), warga sekampung Mikael, yang memiliki tiga lahan kopi, dengan total luas sekitar 3 ha, juga mengeluhkan hal yang sama.

“Rata-rata setiap tahun kami mendapat hasil kopi arabika sampai 800 liter, juria 200 liter, dan robusta itu sampai 200 liter. Hasil kopi ini tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam rumah tangga,” tuturnya.

Agar asap dapur terus mengepul, Efriana menenun, dan suaminya harus mencari kerja sampingan, seperti Mikael.

Rendahnya harga kopi di tingkat petani juga menyumbang persoalan lain.

Anak-anak mereka tidak bisa melanjutkan sekolah hingga ke jenjang yang lebih tinggi. Dari ketiga anaknya, Mikael hanya mampu menyekolahkan anak bungsunya hingga tamat SMA. Sedangkan anak sulung dan anak keduanya, hanya tamat Sekolah Dasar (SD).

Demikian pun Efriana. Anak sulungnya hanya tamat SD.

“Kami berharap kepada pemerintah agar harga kopi ini bisa naik,” ucap Efriana.

Sesuai data Dinas Pertanian Kabupaten Manggarai Timur tahun 2020, luas areal perkebunan kopi robusta di kabupaten itu mencapai 14.465,70 ha dengan produksi sebesar 6.075,31 ton dan arabika sebesar 6.194,47 Ha, dengan produksi 2.617,82 ton.

Di Kecamatan Lamba Leda Timur, luas areal perkebunan kopi robusta 4.141 ha, dengan produksi sebesar 1.724,85 ton dan kopi arabika, 2.121,75 ha, dengan produksi 475,67 ton.

Mayoritas lahan perkebunan kopi di Lamba Leda Timur ini berada di lembah Colol.

Dekan Fakultas Pertanian Undana Kupang, Damianus Adar mengatakan, sesuai penelitiannya di Desa Ulu Wae pada tahun 2020, produktivitas kopi di daerah itu tergolong rendah.

Penyebabnya adalah usia kopi yang tua dan petaninya juga tua.

Menurutnya, produktivitas kopi di Colol hanya 1,2 ons per pohon – dari potensi 4-5 kg per pohon untuk arabika, dan 8 kg per pohon untuk robusta – pada umur ekonomis 12 tahun untuk arabika dan 18 tahun untuk robusta.

“Ini produktivitas yang sangat-sangat rendah,” katanya dalam webinar bertajuk ‘Kopi dan Kesejahteraan Petani Kopi’ yang diprakarsai oleh Komunitas Cenggo Inung Kopi Online – sebuah komunitas diskusi di Manggarai Timur –  pada pertengahan Maret 2021.

Ia menyatakan, rata-rata produktivitas adalah 400 kg per hektar, jauh di bawah daerah penghasil kopi lain, seperti di Lampung, yang sudah mencapai 700 kg per hektar.

Ia juga menyebut usia petani kopi yang hampir 90 persen berusia 50 tahun ke atas.

Faktor lain, lanjutnya, belum ada penangkar bibit kopi yang benar di Manggarai Timur.

Kalaupun ada, kata dia, jumlah bibitnya tidak sebanyak kebutuhan petani.

 Sekolah Lapangan

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Manggarai Timur, Jhon Sentis, mengaku, pihaknya telah memberikan pelatihan dengan metode sekolah lapangan kepada petani-petani kopi di seluruh wilayah sentra kopi di kabupaten itu agar menjaga kualitas dan produktivitas kopi.

Pada sekolah lapangan itu, kata dia, petani dilatih mulai dari sistem menyeleksi bibit, cara menanam, pemeliharaan, pemangkasan, pengendalian hama/penyakit, juga sampai ke panen dan pasca panen.

“Hampir semua desa dilaksanakan. Memang tidak menjangkau semua petani, tetapi di desa-desa seperti di Colol itu rata-rata sudah,” katanya.

Namun, klaim John dibantah Mikael dan Efriana. Mereka menyebut tidak semua petani kopi di Colol mendapat kesempatan untuk mengikuti sekolah lapangan tersebut.

“Kami tidak pernah dapat pelatihan dari dinas atau PPL. Kami rawat kopi ini sesuai pengetahuan yang diwariskan oleh orangtua kami,” kata Mikael.

Menurut Jhon, salah satu penyumbang rendahnya harga kopi adalah mutu kopi.

Para petani kopi, kata dia, lebih memilih proses yang cepat menghasilkan uang daripada mengolah kopi sesuai standar untuk menghasilkan kopi berkualitas premium atau spesialti.

Penyebabnya adalah pembelian kopi di pasar yang terbuka tanpa standar-standar kualitas.

“Kalau pembelian yang saya bilang tertutup, artinya si pembeli ini yang cari pasar, petani akan mengirimkan sampel kopi. Setelah dites di sana, si pembeli tahu, kopinya masuk kelas ini, poin skornya sekian, kopi ini mau dijual berapa. Biasanya begitu. Tetapi, petani pada umumnya belum punya akses ke itu. Mimpi kita, kopi-kopi kita masuk ke pasar (tertutup) itu,” katanya.

Untuk bisa masuk ke pasar khusus seperti itu, lanjut dia, petani harus mewadahkan diri, minimal dalam kelompok tani dan bisa juga bergabung di koperasi atau Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

“Sehingga yang menegosiasi tentang pasar ini tadi adalah BUMDes atau koperasinya. Karena kalau pembeli yang besar, dia tidak bicara 100-200 kilogram, tetapi ton. Dan mutu kopinya harus sama,” tuturnya.

“Kita berharap banyak BUMDes di daerah kopi, karena BUMDes punya kapasitas. Dia punya dana penyertaan modal. Harapannya bisa memfasilitasi pemasaran kopi,” tambahnya.

Nilai Tambah Rendah

Damianus menyatakan bahwa petani kopi di Manggarai Timur belum mendapatkan nilai tambah dari komoditas mereka.

Ia mencontohkan, harga kopi arabika di petani, misalnya, 30 ribu rupiah per kilogram.

Harga itu jauh lebih rendah dari harga jual segelas kopi di tempat-tempat seperti kafe atau gerai lainnya, seperti Starbucks.

Ia mencontohkan harganya per cup kopi di Bandara Komodo Labuan Bajo yang mencapai 50-100 ribu rupiah per gelas.

Jika 1 kg green bean arabika bisa menghasilkan 70 cup, maka, dengan harga 50 ribu per cup, 1 kg Arabika di Bandara Labuan Bajo dihargai 3,5 juta rupiah.

“Nilai tambah ini tidak ada di petani. Hanya 30 ribu rupiah di mereka,” katanya.

Yang menikmati nilai tambah paling tinggi, kata dia, jelas bukan petani.

Menurutnya, petani tidak punya strategi dan teknologi pemasaran yang bisa mendapatkan nilai tambah yang lebih.

“Coba kita lihat sistem ready-nya, sortasi, pengepakannya, juga angkut dan lainnya. Hasil penelitian saya menunjukkan, pedagang sebagai supply chain,” katanya.

Supply chain atau rantai pasokan adalah  jaringan antara perusahaan dan pemasoknya untuk memproduksi dan mendistribusikan produk tertentu ke pembeli akhir. Jaringan ini mencakup berbagai aktivitas, orang, entitas, informasi, dan sumber daya. Rantai pasokan juga mewakili langkah-langkah yang diperlukan untuk mendapatkan produk atau layanan dari keadaan aslinya ke pelanggan.

Supply chain sama dengan bagaimana perusahaan mengembangkan rantai pasokan, sehingga mereka dapat mengurangi biaya dan tetap kompetitif dalam lanskap bisnis.

Damianus mengatakan, dengan produktivitas kopi yang rendah, ketimpangan pendapatan, pemasaran yang tidak adil, maka sulit petani untuk sejahtera.

“Yang paling banyak mendapatkan keuntungan dari sistem pasar yang ada adalah bukan petani,” sebutnya.

Oleh karena itu, kata dia, pendekatan agribisnis harus dilakukan, di mana petani harus tahu bagaimana proses panen dan pasca panen, bagaimana pemasaran dan kelembagaan-kelembagaan penunjang  seperti bank, koperasi, dan lainnya yang menjadi mitra petani yang menjamin bahwa kopi membawa nilai tambah yang lebih tinggi.

Selain itu, jelasnya, perlu renovasi dan rehabilitasi kopi-kopi yang umur ekonomisnya sudah lebih dari batas maksimal.

Geliat BUMDes dan Usaha Kreatif

Dari empat desa di lembah Colol, saat ini, baru Desa Colol yang memiliki BUMDes khusus yang mengurus komoditas kopi.

Kepala Desa Colol, Falentinus Tombor mengatakan, luas wilayah desa tersebut 700 ha, di mana 573 ha-nya  merupakan perkebunan kopi yang dimiliki 453 keluarga atau 2..592 jiwa.

“Dalam setahun khusus Desa Colol bisa menghasilkan 50 ton kopi. Itu tergantung cuaca,” ujarnya.

Melihat potensi desa yang demikian, mereka pun membentuk BUMDes untuk pengolahan kopi biji jadi kopi kemasan.

Target Pemerintah Desa Colol ke depan, kata dia, masyarakat menginvestasikan barang mentah berupa kopi biji ke BUMDes.

“Nanti BUMDes yang kelola sampai pada kemasannya,” katanya.

“Begitu konsep kerjanya dengan Bank NTT sebagai penggalang dana dalam kredit kurs,” tambahnya.

Selain BUMDes, ada juga kelompok usaha kreatif seperti Kelompok Usaha Bersama (KUBe) Suka Maju.

Semula kelompok ini hanya bergerak di usaha simpan pinjam, namun sejak Mei tahun ini, mereka merambah ke usaha kopi, dengan nama Kopi Tuk.

Kopi Tuk diolah secara tradisional: disangrai di tungku, dengan bahan bakar kayu; kemudian disangrai menggunakan kuali tanah; dan ditumbuk menggunakan lesung dan kayu pilihan yang dipercaya bisa menyembuhkan penyakit tertentu.

KUBe Suka Maju beranggotakan 14 petani kecil penerima Program Keluarga Harapan (PKH) dari Kementerian Sosial. Bersama pendamping program tersebut, Armandus Cahaya Tukeng, mereka bersama-sama membuat usaha produktif. Selain Kopi Tuk, mereka juga membuat kerajinan tangan seperti menenun dan menganyam.

Menurut Armandus, ide untuk membangun usaha kreatif Kopi Tuk lahir setelah melihat fakta bahwa para anggota kelompok merupakan petani kopi  dan brand kopi Colol setiap tahun semakin melejit, tetapi harga kopi di tingkat petani terus ditekan.

“Saya selalu berpikir begini, yang bisa menaikan harga kopi itu petani itu sendiri. Karena itu, tinggal ubah caranya. Dan terbukti ketika petani memproduksi sendiri sampai jadi tepung kopi, harganya itu berkali-kali lipat daripada ketika dijual gelondongan,” ceritanya.

Armandus mencontohkan, biji kopi juria, misalnya, harga per kilogram 150 ribu rupiah. Tetapi, ketika diolah jadi tepung, bisa menghasilkan tiga kemasan Kopi Tuk.

Dengan harga satu kemasan 150 ribu rupiah, maka hasilnya tiga kali lipat menjadi 450 ribu rupiah.

“Kita boleh mengeluh harga kopi, tetapi sepanjang kita tidak memproduksi sendiri, sama saja. Kita harapkan pemerintah mau naikkan harga, sampai kapan?” katanya.

“Saya selalu bilang ke anggota, biarpun Presiden yang datang di sini, tidak akan mungkin harga kopi naik. Paling kan tugas mereka itu mendatangkan investor. Tapi apakah bisa menaikkan harga komoditi? Tidak. Kita sendiri yang bisa menaikkan harga kopi,” ucapnya.

Menurutnya, sejak Kopi Tuk diluncurkan, banyak pesanan datang dari luar daerah, mulai dari Jakarta hingga Papua, bahkan ada dari luar negeri, seperti Jerman dan Australia.

Kopi Tuk dikemas dalam ukuran 300 gram, dengan jenis kopi tepung yang diproduksi yakni arabika, juria, dan yellow caturra.

Armandus menjelaskan, sumber kopi untuk Kopi Tuk adalah kopi dari para anggota.

“Anggota memasukan kopi ke kelompok. Pengurus mendata berapa kopi yang masuk. Nanti setelah diproduksi mendapatkan hasil dari pemasaran, baru bisa diakumulasi dengan harga yang jauh lebih layak,” jelasnya.

“Kalau sekarang, kopi arabika 50 ribu rupiah per kilogram. Dengan produksi sendiri, satu kilogram bisa dapat 250 ribu rupiah, sehingga untuk anggota kelompok, kita kasih harga 100 ribu rupiah per kilogram. Jadi itu keuntungan anggotanya,” imbuhnya.

Saat ini, kata dia, pemasaran Kopi Tuk dilakukan secara online, melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, WhatsApp dan Instagram.

“Kami produksi sesuai jumlah dan jenis pesanan,” sebutnya.

Selain komunitas Kopi Tuk, ada beberapa komunitas anak muda lain yang juga bergeliat membagun usaha kreatif di beberapa desa lain di lembah Colol, seperti Komunitas Gejur Dite yang membuat gelang dari biji kopi; dan komunitas Koker yang juga memproduksi kopi kemasan.

Kadis Jhon Sentis mengapresiasi usaha produktif yang dilakukan oleh BUMDes dan kelompok-kelompok usaha kreatif tersebut.

“Kita berharap, mereka yang sekarang bergerak di hilir ini ramai-ramai untuk memperbaiki hulunya, yakni di kebun,” katanya.

“Biarpun heboh cerita kopi kita sukses juara di mana-mana, tetapi kalau suatu saat nanti tidak ada kopi yang bisa dipanen, maka tidak ada yang mau dibanggakan lagi,” imbuhnya.

Sementara itu, Mikael dan Efriana telah memilih bergabung dengan BUMDes dan KUBe Suka Maju, dengan harapan bisa mendapat keuntungan yang lebih dari hasil kerja mereka dan bisa bebas dari utang yang biasanya menjerat mereka untuk memenuhi kebutuhan lainnya.

“Semoga kehadiran BUMDes dan Kopi Tuk ini bisa mengangkat harga kopi kami ke depannya,” pungkas Mikael.

ARD/Floresa

 

- Advertisement -

BERI KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

Baca Juga