BerandaPERISTIWATidak Hanya Dituntut Penjara...

Tidak Hanya Dituntut Penjara dan Denda, Lahan yang Diklaim Terdakwa Kasus Kerangan Dirampas untuk Negara

Floresa.co –  Tiga dari enam terdakwa kasus pengalihan aset tanah pemerintah di Kerangan/Toro Lemma Batu Kallo yang tuntutannya sudah dibacakan tidak hanya dituntut hukuman penjara dan denda.

Lahan yang mereka telah klaim, yang dilengkapi Sertifikat Hak Milik (SHM) dan telah dijual ke pihak lain juga dinyatakan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dirampas untuk negara, dalam hal ini Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat (Pemkab Mabar).

Ketiga terdakwa itu, Supardi Tahiya, Mahmud Nip dan Dai Kayus telah mendengarkan tuntutan JPU dalam sidang di Pengadilan Tipikor Kupang Jalan Palapa pada Kamis-Jumat, 10-11 Juni.

Mereka didakwa mengklaim sebagian dari total lahan 30 hektar milik Pemkab Mabar di Kerangan, lalu menjualnya kepada pihak lain.

Para calo yang menjadi perantara penjualan tanah itu, pejabat pemerintah, notaris dan pegawai badan pertanahan yang ikut terlibat di dalamnya juga telah ditetapkan sebagai tersangka.

Dalam dakwaannya, JPU menuntut Supardi Tahiya pidana penjara selama 10 tahun dan denda 850 juta, subsider 6 bulan kurungan serta membayar uang pengganti sebesar 725 juta, subsider 5 tahun penjara.

Selain itu, tanah dengan SHM yang telah beralih kepada Rudianto Suliawan sebanyak 2 bidang dinyatakan dirampas untuk negara.

Sementara untuk Mahmud Nip, hukuman dan dendanya sama dengan Supardi. Namun, uang penggantinya jauh lebih besar, yakni 1,8 miliar, subsider 5 tahun penjara.

Tahannya dengan SHM yang sudah dialihkan kepada Topenoz Torenjab dan Gregorius Antar Awam juga dinyatakan dirampas untuk negara.

Terdakwa ketiga yang tanahnya juga dirampas adalah Dayi Kayus, yang sudah beralih ke Ismail Irawan.

Dai Kayus juga dituntut delapan tahun penjara dan denda 850 juta.

Dalam kasus pengalihan aset pemerintah ini terdapat 17 tersangka, di mana enam di antaranya yang sudah mendapat tuntutan, sementara 11 lainnya akan menyusul, termasuk mantan Bupati Manggarai Barat, Agustinus Ch Dula.

Sidang selanjutnya ditunda ke Selasa pekan depan dengan agenda nota pembelaan oleh para terdakwa yang sudah mendapat tuntutan.

Menurut Kejaksaan Tinggi NTT, kasus telah menyebabkan kerugian negara sekitar 1,3 triliun dan Pemkab Mabar tidak bisa menguasai lahan itu.

Di samping itu, penguasaan lahan oleh terdakwa juga membuat rencana pemerintah membangun jalan lingkar luar untuk kepentingan masyarakat tidak bisa dilaksanakan.

YOS/FLORESA

 

 

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

Wawancara Suster Virgula SSpS: “Percaya Sepenuhnya Kepada Tuhan”

Floresa.co - Nama Sr Virgula Schmitt SSpS (87) sangat akrab bagi...

KPK Tantang Gereja Katolik Audit Keuangan

Floresa.co - Seorang anggota senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menantang Gereja Katolik...

Begini Cara Buat Kandang Babi Sederhana, Tapi Bebas Bau dan Lalat

Floresa.co - Sebagian besar keluarga di Nusa Tenggara Timur (NTT) memelihara babi....

Babi Makin Tambun, Dompet Anda pun Bertambah Tebal

Floresa.co - Selain kandang, aspek yang tak kalah penting ketika memelihara babi...

Warga dan BPO-LBF dalam Polemik Bowosie: Hidup Rentan di Moncong Negara

"Membaca kasus Racang Buka, kita dapat menarik benang merah antara dominasi negara neoliberal dan penghancuran ruang hidup warga. Maraknya investasi sektor privat menunjukkan bahwa negara tidak lagi menjadi wadah penjamin kesejahteraan, tetapi malah menjadi racun bagi hidup warganya."

“Anak-anak Kami Lapar,” Keluh Petani di Manggarai Barat yang Terancam Gagal Tanam Karena Bendungan Rusak

Bendungan Wae Cebong merupakan sumber air bagi irigasi untuk ratusan hektar sawah di area Persawahan Satar Walang, milik warga Desa Compong Longgo, desa yang berjarak 14 kilometer ke arah selatan dari Labuan Bajo.

“Pak Jokowi, Bunuh Saja Kami,” Protes Warga Labuan Bajo yang Kembali Hadang Penggusuran Lahan oleh BPO-LBF

"Kami tidak sedang berdemontrasi, tetapi (sedang) pertahankan tanah kami," kata warga.

Mengolah Kemiri Agar Harganya Selangit

Oleh: F RAHARDI Provinsi Nusa Tenggara Timur,khususnya Pulau Flores, Pulau Adonara, Pulau Solor...