Senin, 27 September 2021

BMKG Ingatkan Potensi Karhutla Pada Musim Kemarau 2021

Jakarta, Floresa.co – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan seluruh pihak agar mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terlebih pada kemarau besar yang diperkirakan pada Juni sampai dengan Oktober 2021.

“Kalau kita bicara masalah ancaman karhutla, kita melihat dari seluruh sisi dari ancaman kemarau kecil dan ancaman kemarau besar di bulan Juni sampai dengan September dan Oktober,” ujar Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Herizal dalam acara Diskusi Media (Dismed) Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) yang digelar secara virtual bertajuk bertajuk ” Tangkas Tangkal Kahutla”, Senin 31 Mei 2021.

Menurut dia, BMKG pun terus memonitor perkembangan cuaca dan iklim di Indonesia. Termasuk melakukan analisa dan menyampaikannya kepada masyarakat, serta stakeholder agar bisa memitigasi lebih awal potensi- potensi terjadinya karhutla.

- Advertisement -

Ia menjelaskan, pada 2021 masih terdapat area hotspot atau titik panas di wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Kalimantan Barat yang mengalami peningkatan pada Februari. Namun pada Maret 2021 terjadi penurunan.

Sedangkan di Provinsi Riau mengalami peningkatan hingga bulan Maret dan menurun pada April 2021.

Ia mengatakan, berdasarkan pantauan BMKG, kondisi kemarau pada April dan Mei 2021 curah hujan lebih tinggi dibanding curah hujan rata- rata normalnya. Hal ini membuat ancaman karhutla tahun 2020 cukup rendah karena iklimnya basah, yang membuat tinggi muka air gambut tidak menurun.

Namun demikian, pada 2021 BMKG memprediksi bahwa musim kemarau sedang berjalan. Ia meminta agar langkah pengendalian dan mitigasi karhutla terus-menerus digalakkan.

“Nah sekarang bagaimana dengan tahun ini? Tahun ini kami prediksikan bahwa pertama bahwa kemarau sekarang sedang berprogres. Jadi dari pengamatan kami ada 55 persen daerah zona musim yang telah memasuki musim kemarau,” ujar dia.

Daerah tersebut di antaranya sebagian besar di Nusa Tenggara Timur, NTB, Bali sebagian besar di Jawa, Sumatra Selatan, Aceh, Kalimantan Selatan, dan Papua.

Ia menyatakan jika wilayah tersebut masih berwarna hijau berarti curah hujan masih banyak. Tapi ketika beralih dari warna hijau menjadi warna coklat dan merah itu artinya sudah perlu diwaspadai.

Kegiatan FMB9 juga bisa diikuti secara langsung di FMB9ID_ (Twitter), FMB9.ID (Instagram), FMB9.ID (Facebook), dan FMB9ID_IKP (Youtube).

Floresa

- Advertisement -

Baca Juga