Selasa, 26 Oktober 2021

Bersamaan dengan Puncak Anugerah Pesona Indonesia, Warga Labuan Bajo Gelar Festival “Selamatkan Hutan Bowosie”

Seperti ‘desing peluru tak bertuan,’ penggalan bait dalam senandung ‘Sunset di Tanah Anarki’ karya Supermen Is Dead, begitulah kira-kira rencana pembangunan pariwisata di Hutan Bowosie serta kebun dan tanah rumah warga. Tanpa pemberitahuan, tanpa sosialisasi. Tiba-tiba muncul begitu saja. Menghujam hati. Menguras waktu, tenaga dan emosi warga. Hari-hari pun menjadi tak benderang.

Labuan Bajo, Floresa.co – Waktu menunjukkan pukul 17.30 Wita saat mentari akan kembali ke peraduannya. Kamis, 20 Mei 2021, di Lancang, sebuah kampung adat di dalam kota Labuan Bajo, warga berduyun-duyun menuju lapangan sepak bola di komplek sebuah sekolah dasar yang berada di tengah kampung itu.

Di sana akan ada pergelaran acara seni dan budaya untuk mengisi peringatan ‘Hari Kebangkitan Nasional’. Digagas oleh orang-orang Muda Labuan Bajo, acara itu mengusung tema “Asbak Bangkit untuk Bowosie”.

Muda pun tua, nampak berantrian di gerbang masuk – mencuci tangan dan mengukur suhu tubuh – bagian dari upaya mencegah rantai penyebaran covid-19 – yang diiringi list lagu-lagu bertema perlawanan: Levitasi, Neka Poka Puar Neka Tapa Satar, Tanah Mbate De, dan lainnya, yang diputar berulang-ulang.

Setelah itu masing-masing mengambil posisi duduk yang telah disediakan panitia. Ada yang di kursi, yang lain bersila di lapangan. Ada yang menunggu sembari menikmati makanan dan minuman ringan yang disediakan PT Wings, salah satu pihak yang mendukung acara ini. Penuh rasa kekeluargaan.

Tua Golo Lancang, Theodorus Urus juga hadir, didampingi oleh para tokoh masyarakat adat Lancang. Mereka semua mengambil posisi duduk di bagian depan – langsung berbatasan dengan area pementasan.

Asbak merupakan singkatan dari Apresiasi Seni Bersama Kami, nama yang dipakai untuk pergelaran seni rutin komunitas “Teater Siapa Kita” di Labuan Bajo.

Teater Sino, persembahan dari siswa SMAK St Familia Wae Nakeng. (Foto: Dokumen Siapa Kita).

Komunitas ini banyak dihuni oleh anggota sub sektor aksilarasi teater program Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif [Kemenparekraf] selain musik, penerbitan, seni rupa dan seni tari yang digelar pada November 2020 lalu.

Kabarnya kelompok ini didepak karena memproduksi teater yang mengkritik kebijakan pemerintah, termasuk tentang kasus tanah dan air di Labuan Bajo.

Asbak yang digelar kali ini ialah edisi keempat. Berkolaborasi dengan Sanggar I Production, Sanggar Sampang Alak Wela Kalo – SMK Bina Mandiri Nggorang, SMAK St Familia Wae Nakeng – Lembor, Komunitas Stand Up Comedy Labuan Bajo, Waktu Luang Project, Rumah Kreasi Baku Peduli serta Karang Taruna Reba Molas Compang Lancang sebagai tuan rumah.

Orang-orang muda ini mempersembahkan seluruh rangkaian acara khusus untuk “Hutan Bowosie” – hutan terakhir di puncak Kota Labuan Bajo – penyangga kota dan warga, yang tengah dalam ancaman proyek pariwisata.

“Neka Tapa Satar, Neka Poka Puar, Tanah Mbate De, Di Mana Tanah Air Beta,……..

Lampu-lampu sederhana ditempatkan di beberapa titik area acara. Kombinasi warna; merah, kuning dan hijau mengantar setiap yang hadir ke dalam suasana penuh keintiman.

Oleh lampu-lampu itu juga panggung sederhana bertema ‘hitam-hitam’ yang langsung menempel pada lorong ruang kelas SDN Lancang itu menjadi nampak istimewa.

Dua pasang muda mudi yang bertindak memandu acara berbusana adat Manggarai perlahan melangkah ke panggung. Usai menyapa semua hadirin, mereka memberikan kesempatan kepada Tua Golo, Theodorus Urus memberikan sambutan.

“”Kami berterima kasih kepada orang muda Reba Molas Compang Lancang atas inisiatifnya membuat acara ini. Terima kasih juga karena telah mengingatkan orang tua tentang pentingnya menjaga hutan,” ujarnya.

Di akhir sambutannya, Tua Golo Theodorus Urus mengetuk mic tiga kali, pertanda acara resmi dibuka.

Lalu, satu grup orang muda berbusana adat Manggarai naik ke panggung. Masing-masing mengambil posisi. Ada yang memegang gitar, cajon dan lainnya. Ada juga yang mengambil posisi paling depan, sebagai vokalis.

“Sambutlah mentari pagi, dengan penuh rasa syukur. Bernyanyilah burung-burung menghiasi alam ini. Alam yang indah ini, milik yang ilahi. Mari kawan-kawan, jangan menodai,” kutipan lirik dalam genggaman suara merdu-renyah-mendayu vokalis Ancis Lehot itu serentak memecah keheningan.

Penonton menyambutnya dengan antusias. Mereka ramai-ramai menggerakan tangan di atas kepala sembari menyalakan ponsel. Cahaya berpijar. Istimewa. Riuh dan emosional.

Neka tapa satar, neka poka puar, neka tapa satar, neka poka puar,” sambut penonton mengulang bagian refrain, sebuah ajakan dalam Bahasa Manggarai agar tida merusak hutan.

Tarian dari Sanggar Sampang Alak Wela Kalo – SMK Bina Mandiri Nggorang. (Foto: Dokumen Siapa Kita).

Setelah penampilan Ancis Lehot and Friends, ragam acara yang juga bertema alam dan budaya satu per satu dipentaskan.

Ada Teater ‘Sino’ persembahan siswa SMAK St Familia Wae Nakeng – Lembor. Sino atau Cino sendiri ialah ungkapan bahasa Manggarai untuk air yang jernih.

“Kami melihat kenyataan lingkungan yang rusak hingga terjadinya krisis air. Penyebabnya ialah kebijakan yang tidak mengakar pada tradisi atau budaya,” kata Frain, penulis naskah.

Kemudian dilanjutkan dengan lagu ‘Di Tanah Air Beta’ yang dibawakan oleh Saver Krau dan Bunga Ambang, serta lagu ‘Tanah Mbate De’ oleh Saver dan Nando.

Ada juga persembahan lagu dari ‘Project Bunyi Waktu Luang’, pantomim serta tarian dari Sanggar I Production. Yang terakhir adalah teater ‘Ranggong’ – persembahan dari komunitas teater ‘Siapa Kita.’

Ranggong mengisahkan tenunan kehidupan masyarakat Manggarai yang pada akhirnya dirampas oleh empo poti mese atau pemangsa, penghancur.

Empo poti mese dilukiskan sebagai kekuatan baru yang datang dari luar, yang kemudian mengusir tuan rumah.

“Tidak…., tidak…, saya tidak bisa lagi menenun. Apa yang bisa dikisahkan. Kehancuran tanah Congka Sae? Sungguh saya tidak sanggup”.

“Tanah air ini sudah jadi air mata. Semua sudah dirampas oleh empo poti mese. Ia sudah lahir baru di jaman ini. Tanah Manggarai: Gendang one’n, lingko peang, natasbate labar, wae bate teku, compang dari,” teriakan aktor perempuan yang tengah menenun [kehidupan] dari sudut pojok belakang panggung.

Seperti ‘desing peluru tak bertuan,’ penggalan bait dalam senandung ‘Sunset di Tanah Anarki’ karya Supermen Is Dead, begitulah kira-kira rencana pembangunan pariwisata di Hutan Bowosie serta kebun dan tanah rumah warga.

Tanpa pemberitahuan, tanpa sosialisasi. Tiba-tiba muncul begitu saja. Menghujam hati. Menguras waktu, tenaga dan emosi warga. Hari-hari pun menjadi tak benderang.

“Usir BOP, usir BOP,” spontan penonton berteriak, merespons aksi pantomim “Tana Mbate” dari anak-anak binaan teater Siapa Kita Labuan Bajo.

BOP adalah lembaga bentukan presiden Joko Widodo yang sekarang berganti nama menjadi Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF).

Lembaga ini yang berencana untuk mengalihfungsikan hutan Bowosie untuk bisnis pariwista. Hutan yang menjadi rumah burung-burung, rumah bagi 16 mata air di kota Labuan Bajo dan sekitarnya. Dalam desainnya, kebun dan tanah rumah warga juga turut diambil.

“Pertama kali dalam hidup saya, dalam acara seni yang pernah saya ikut, penonton bertahan hingga di ujung acara. Bahkan harus dipaksa baru bubar,” kata seorang pengisi acara mengomentari pementasan tersebut.

Hutan Bowosie berada tepat di atas pemukiman warga Labuan Bajo. (Foto: Floresa).

Sementara itu, di waktu yang bersamaan, di Hotel BUMN Inaya Labuan Bajo, bupati dan wakil bupati dari seluruh Indonesia beserta rombongan berkumpul. Mereka menghadiri acara Anugerah Pesona Indonesia (API). Entah bagaimana suasana yang terjadi selain seremoni pengumuman kejuaraan destinasi wisata itu, tidak diketahui persis.

Tetapi, harapannya, seperti orang–orang Muda Labuan Bajo yang merupakan wajah masa depan kota Labuan Bajo, para pejabat negara ini juga tengah memikirkan nasib Hutan Bowosie – hutan terakhir di puncak kota Labuan Bajo yang kini tengah dalam acaman pembangunan pariwisata BPO.

“Di hari Kebangkitan Nasional ini, mari kita bangkit juga untuk alam kita, khusus untuk Hutan Bowosie – demi masa depan kita semua,” pesan Yanto Adipati, pendiri komunitas Reba Molas Compang Lancang.

“[Selamatkan Bowosie dan API] seperti Davos vs Porto Alegre,” komentar seorang kawan tentang kedua acara ini.

Davos dan Porto Alegre ialah dua mazhab ekonomi dunia. Davos adalah nama sebuah kota di Swiss, tempat pertemuan intelek yang memperjuangkan ekonomi yang sangat kapitalistik, menguntungkan segelintir orang pebisni, korporasi dan sebagainya. Mewakili ekonomi kapitalisme.

Sementara Porto Alegre, nama sebuah kota di Brasil – Latin Amerika, tempat pertemuan para pakar yang mewakili model ekonomi yang mengedepankan aspek keadilan, kesetaraan, perlindungan HAM, komunitas adat, ekologi, dan lainnya.

ARJ/Floresa

- Advertisement -

BERI KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

Baca Juga