Rabu, 4 Agustus 2021

Berkat Inovasi Karang Taruna, Warga Mesi Rana Mbata: Kami Sudah Tidak Jauh lagi Pikul Air

Maria, Agnes, Aldina dan ratusan warga Mesi lainnya, kini boleh bernapas legah. Mereka tidak lagi berjalan kaki, melewati jalan sempit dan curam, menuju mata air Wae Sior dan Wae Sele. Sumber air sudah dekat dengan rumah mereka.

Borong, Floresa.coWajah Maria Anggi (70) tampak gembira. Menenteng dua jeriken berukuran lima liter, ia berjalan menuju tonggak air yang berada sekitar 10 meter dari rumahnya. Dengan penuh hati-hati, ia memutar kran. Air keluar cukup deras. Ia pun menimba dua jeriken di tangannya. Senyumannya tersembul.

“Kami senang sekali air sudah dekat dengan rumah. Kami sudah tidak jauh lagi pikul air,” tutur Maria, Sabtu 20 Maret 2021.

Maria bersama Agnes Nenes (60) dan Aldina Daryanti (39) bergantian menimba air di tonggak dekat rumah mereka. Di beberapa tonggak lain juga, terlihat sejumlah perempuan dan anak-anak melakukan hal serupa.

- Advertisement -

Dengan tertib, mereka menimbah secara bergantian, hingga semua wadah seperti jeriken, ember dan lainnya, penuh.

“Kami yang perempuan ini merasa bersyukur sekali karena air kembali masuk ke kampung. Selama dua tahun kami sengsara pergi timba air di mata air. Kami jalan kaki dan pikul jeriken menggunakan keranjang dan kain batik,” tutur Aldina.

Inovasi Pompa Hidram

Sumber air dekat ke rumah warga Mesi berkat Methodius Janu, salah satu pemuda asal kampung tersebut.

Tedi – sapaannya – merakit pompa hidram, sehingga air bisa bertolak dari dataran rendah mata air Wae Sele dan Wae Sior menuju kampung Mesi yang berada di dataran tinggi.

Alumni Jurusan Teknik Sipil Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta itu menceritakan bahwa ia bersama sejumlah pemuda yang tergabung dalam Karang Taruna Tunas Bakti Desa Rana Mbata, Kecamatan Kota Komba Utara, Kabupaten Manggarai Timur itu, dipercayakan oleh pemerintah desa setempat untuk bersama masyarakat mengelola proyek air minum bersih di Kampung Mesi itu, pada 2020.

“Kami mulai kerja bulan Oktober 2020,” tutur Tedi.

Mengingat kondisi sumber mata air yang ada di dataran rendah, Karang Taruna Tunas Bakti memilih memanfaatkan teknologi pompa hidram, di mana Tedi menjadi salah satu teknisinya.

BACA: Murid SMPN di Matim Bertaruh Nyawa demi Ikut Ujian Digital

Menurut Tedi,  mereka memilih menggunakan teknologi pompa hidram karena tepat guna, ramah lingkungan dan hemat energi, tanpa bantuan tenaga listrik, bebas dari polusi, hemat biaya dan mampu mengalirkan air dari dataran rendah ke dataran tinggi.

Pada 2 Oktober 2020, pemuda Karang Taruna Tunas Bakti melakukan kajian teknis sederhana dan melakukan uji coba penggunaan pompa hidram.

Saat uji coba, mereka menggunakan pompa hidram ukuran kecil yang sebelumnya telah dirakit oleh Tedi.

Uji coba itu, kata Tedi, disaksikan oleh semua masyarakat dari 3 RT di Kampung Mesi, termasuk beberapa petani sawah, pengguna air Wae Sele.

“Kami hadirkan masyarakat saat uji coba supaya mereka dapat melihat secara langsung dengan jelas dan mengetahui sistem kerja pompa hidram,” ujarnya.

Tujuan uji coba, lanjutnya, dalam rangka tahap awal pengambilan data untuk selanjutnya dibuat perencanaan teknis.

“Uji coba berjalan lancar dan mereka yang ikut menyaksikan tidak keberatan dibangunya pompa hidram,” tuturnya.

Menurut Tedi, uji coba sengaja dilakukan pada bulan Oktober, mengingat bulan itu merupakan puncak musim kemarau, sehingga mudah melakukan kajian teknis, khususnya berkaitan dengan debit air.

Ia menceritakan, setelah melakukan kajian teknis, selanjutnya dibuat perencanaan teknis.

“Setelah dilakukan perencanaan teknis saya bersama beberapa teman teknisi lainnya melakukan perakitan pompa selama tiga minggu lamanya. Setelah semuanya rampung, kami mulai melaksanakan pekerjaan,” ujarnya.

Menurutnya, pelaksanaan pekerjaan jaringan perpipaan melibatkan semua warga dari tiga RT di Kampung Mesi.

Ia mengatakan, masyarakat dilibatkan dalam pengerjaan itu, karena proyek tersebut bersumber dari dana desa yang pelaksanaanya harus swakelola.

Pekerjaan itù pun rampung pada pertengahan Maret 2021.

Kini, berkat inovasi pompa hidram itu, air berhasil dialirkan melalui pipa induk melewati topografi yang ekstrim, menuju bak penampung berkapasitas 8000 liter.

Dari bak penampung, air dialirkan ke 21 tonggak untuk memenuhi kebutuhan 70 KK di Kampung Mesi. Satu tonggak, melayani 2 sampai 3 rumah.

Tedi mengatakan, dari hasil pengamatan dan tes debit air yang masuk ke bak penampung diperoleh data bahwa waktu yang diperlukan untuk mengisi bak penampung sekitar tiga sampai empat jam dengan debit 2-3 liter/detik.

“Sehingga air dapat dialirkan dua sampai tiga kali dalam satu hari,” sebutnya.

“Kesimpulannya pompa hidram yang dibuat sangatlah layak dan mampu menjawab kebutuhan air minum bersih untuk tiga RT di Mesi,” katanya.

“Terbukti sekarang sudah dapat dimanfaatkan, dan masyarakat bangga, puas dan bersyukur sekali dengan adanya program inovasi desa ini,” ujarnya.

BACA: Pemda Mabar Ajak Warga Dukung Proses Hukum Kasus Tanah Kerangan

Ketua Karang Taruna Tunas Bakti, Jefrianus Ndarung mengatakan tantangan terbesar ke depan bagi mereka yaitu terkait perlindungan mata air Wae Sele dan Wae Sior.

Menurutnya, supaya debit air tetap stabil di musim kemarau, perlu dilakukan penghijauan dan pembangunan pagar keliling hutan di sekitar dua mata air itu.

Oleh karena itu, ia meminta Pemerintah Manggarai Timur menerapkan peraturan daerah perlindungan mata air dan memfasilitasi pembangunan pagar keliling di hutan mata air tersebut.

“Kami para pemuda dan pemudi Karang Taruna Tunas Bakti sangat membutuhkan perhatian, dukungan dan kerja sama dari Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur,” kata Ndarung di hadapan Bupati Manggarai Timur, Andreas Agas, dan Ketua DPRD, Heremias Dupa, saat peresmian proyek air minum bersih di Kampung Mesi tersebut, Sabtu pagi 20 Maret.

Apresiasi dan Janji Hibah Rp 600 Juta

Bupati Agas mengapresiasi kreativitas dan inovasi yang ditunjukkan Tedi dan pemuda lain yang tergabung dalam Karang Taruna Desa Rana Mbata itu.

“Jujur saya kagum dengan tekad Tedi untuk berkarya bagi kampung halaman. Tidak banyak anak-anak muda kita yang memutuskan pulang dari kota dan berkarya di kampung sendiri,” ungkapnya.

Ia mengatakan, air merupakan sumber kehidupan yang bersentuhan langsung dengan kaum perempuan.

Jika terjadi krisis air, kata dia, yang paling terdampak adalah kaum perempuan. Mereka yang lebih bersusah payah mencari air.

Kaum perempuan, lanjutnya, memikul tanggung jawab cukup besar untuk memastikan kebutuhan air di dalam rumah terpenuhi.

“Ketika kalian berhasil mendekatkan air ke rumah, sesungguhnya kalian sudah meringankan tugas perempuan,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Bupati Agas berjanji untuk menghibahkan dana sebesar Rp 600 juta kepada Karang Taruna Tunas Bakti pada tahun 2022.

Dana tersebut, kata dia, untuk pembangunan pagar dan penghijauan di sekitar mata air Wae Sele dan Wae Sior.

Kepala Desa Rana Mbata, Mikael Agung mengaku bangga atas kesuksesan Karang Taruna Tunas Bakti membangun jaringan air bersih menuju Kampung Mesi tersebut.

Pemerintah desa, kata dia, memberikan kepercayaan serta melibatkan pemuda desa melalui Karang Taruna Tunas Bakti untuk sama-sama membangun Desa Rana Mbata.

“Pemerintah desa selalu mendukung inovasi-inovasi baru yang dilakukan pemuda demi sama-sama membangun desa,” ujarnya.

Mikael mengatakan, pada 2015, proyek air minum bersih dari pemerintah Provinsi NTT masuk ke desanya.

Proyek tersebut mengambil air di dua sumber yakni mata air Wae Pa’it dan Wae Sepet di bukit Golo Robo.

Layanan air bersih tersebut, kata dia, menjangkau beberapa anak kampung di desa itu, termasuk Kampung Mesi.

Namun, pada 2019, air macet karena ada kerusakan pipa saat pengerjaan jalan provinsi di sepanjang bukit Golo Robo.

Mikael menyebut, meski kini pipa-pipa yang rusak itu sudah diperbaiki pihak kontraktor, tetapi air tidak mampu lagi mengalir ke beberapa anak kampung, salah satunya Kampung Mesi.

“Bersyukur, lewat inovasi pompa hidram yang dikerjakan oleh Karang Taruna, sekarang warga Mesi sudah dekat lagi dengan sumber air,” katanya.

Proyek Air Minum Prioritas Dana Desa

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Manggarai Timur, Yosef Durahi mengapresiasi kreativitas pemuda Karang Taruna Desa Rana Mbata.

Menurut Yosef, pembangunan sarana air minum bersih termasuk dalam prioritas penggunaan dana desa.

Meski demikian, kata dia, masih banyak desa di Manggarai Timur yang masih mengalami krisis air minum bersih.

“Banyak desa mengalami krisis air karena sumber air yang berada di dataran rendah dan perkampungan di dataran tinggi. Kita apresiasi terhadap inovasi baru yang dipelopori oleh Karang Taruna di Desa Rana Mbata,” tuturnya kepada Floresa.co, Selasa 23.

Kades Mikael mengatakan, sejak 2016, pihaknya sudah membangun sarana air bersih untuk warga empat kampung di Desa Rana Mbata, seperti Kampung Watu Rajong, Nonggu, Kese dan Mesi.

“Kami di Rana Mbata memang selama ini memprioritaskan untuk bangun sarana air bersih. Itu semua karena dukungan masyarakat. Masyarakat sadar bahwa air sangat penting dalam kehidupan,” pungkasnya.

Maria, Agnes, Aldina dan ratusan warga Mesi lainnya, kini boleh bernapas legah. Mereka tidak lagi berjalan kaki, melewati jalan sempit dan curam, menuju mata air Wae Sior dan Wae Sele. Sumber air sudah dekat dengan rumah mereka.

ARD/Floresa

- Advertisement -

Baca Juga