Selasa, 22 Juni 2021

Murid SMPN di Matim Bertaruh Nyawa demi Ikut Ujian Digital

Jalan kaki, lalu menyeberangi sungai sambil membawa berbagai perlengkapan untuk ujian menjadi jalan satu-satunya bagi murid di Manggarai Timur untuk bisa mengikuti ujian berbasis digital.

Borong, Floresa.co – Ambrosius Joinarto Robet (15) bangun pagi-pagi buta pada Minggu, 14 Maret. Ia lalu mengemas pakaian seragam, beberapa potong pakaian ganti, handphone dan sejumlah perlengkapan lainnya.

Setelah semuanya dikemas, ia bergegas menuju tonggak air  yang berjarak sekitar 300 meter dari rumahnya. Di sana  sudah  ada beberapa temannya  yang sedang mandi.

Usai mandi, Joi – sapaannya segera sarapan dan bersiap-siap berangkat ke Rana Mbeling.

- Advertisement -

Joi dan 23 rekannya merupakan siswa-siswi kelas IX SMPN Satap Lengko Munda.

Pagi itu mereka hendak melakukan perjalanan menuju wilayah yang memiliki koneksi jaringan internet untuk mengikuti ujian try out berbasis digital pada keesokan harinya.

Para siswa dan guru sekolah yang terletak di Munda, Desa Gunung Baru, Kecamatan Kota Komba Utara, Kabupaten Manggarai Timur itu berangkat lebih awal karena sebagian perjalanan menuju Rana Mbeling, ibu kota Kecamatan Kota Komba Utara, harus mereka tempuh dengan berjalan kaki.

Akses jalan raya masih sulit. Di musim hujan seperti saat ini, jalan kabupaten yang menghubungkan Munda-Mbata tidak bisa dilintasi kendaraan bermotor.

Kondisi jalan yang masih berupa jalan bebatuan dan tanah itu licin dan becek. Apalagi, di ruas jalan itu terdapat sungai Wae Mokel yang belum ada jembatan.

Sekitar pukul 08.00 WITA, siswa-siswi kelas IX dan sejumlah guru SMPN Satap Lengko Munda, bergerak meninggalkan sekolah dan kampung mereka.

Mereka  berjalan kaki menyusuri lembah dan bukit, menyeberangi sungai Wae Mokel.

“Kami diantar oleh orangtua masing-masing agar bisa menyeberangi sungai Wae Mokel,” tutur Joi kepada Floresa.co, melalui sambungan telepon seluler, Senin sore, 15 Maret.

Para siswa dan guru berjalan kaki sepanjang lima kilometer sampai di Mbata, Desa Rana Mbata – wilayah yang dilalui jalan provinsi. Dari Mbata, mereka menumpang ojek menuju Rana Mbeling.

“Kami tiba di Rana Mbeling sekitar jam dua siang,” tutur Ignasius Ragu, salah satu guru yang mendampingi siswa-siswi sekolah itu.

Menurut Ignasius, waktu perjalanan mereka banyak tersita saat menyeberangi Wae Mokel. Arus sungai yang deras membuat proses penyebrangan lama.

“Kalau tidak hati-hati saat menyeberang, (kami) bisa hanyut terseret air. Arus sungai Wae Mokel sangat deras di musim hujan,” ceritanya.

“Padahal, dari Munda ke Mbata itu hanya sekitar 5 kilometer. Kalau ada jembatan di Wae Mokel, perjalanan hanya ditempuh paling lambat satu jam kalau jalan kaki,” tambahnya.

Ignasius mengatakan, pihak sekolah memilih Rana Mbeling sebagai tempat pelaksaan ujian karena di wilayah itu koneksi internet sangat kuat. Para murid itu melaksanakan ujian di rumah kepala sekolah mereka.

Para siswa ini menempuh perjalanan sambil membawa berbagai perlengkapan untuk ujian. (Foto: Ist)

“Ujian try out berbasis digital ini sesuai arahan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai Timur,” ungkapnya.

Menurutnya, pihak sekolah tidak bisa menolak keputusan tersebut.

“Kebijakan dinas kami harus taati dan untuk semua sekolah SMP di Manggarai Timur melaksanakan ujian try out berbasis digital,” ujarnya.

Ia menuturkan, dalam pelaksanaan ujian itu, semua perangkat elektronik, seperti tab dibawa dari sekolah.

Ujian dilaksanakan selama dua hari, hingga Selasa, 16 Maret.

Ujian Digital Sesuai Edaran Kemendikbud

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai Timur, Basilius Teto, mengatakan, pihaknya mewajibkan semua SMP di kabupaten itu untuk melaksanakan ujian try out dengan sistem digital sesuai surat edaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Kita harus mulai. Ini uji coba untuk persiapan Ujian Sekolah Berbasis Digital (USBD) bagi siswa kelas IX yang akan dilaksanakan pada tanggal 12 sampai 19 April mendatang,” katanya saat dikonfirmasi Floresa.co.

Teto mengapresiasi perjuangan guru dan siswa-siswi SMPN Satap Lengko Munda yang rela berjalan kaki dan menyeberangi sungai berarus deras demi melaksanakan ujian try out berbasis digital tersebut.

“Luar biasa. Sekolah ini harus segera dipasang Wifi. Kita akan segera usulkan ke Infokom,” tuturnya.

Menurut Teto, kesulitan akses jaringan internet di sekolah-sekolah di Manggarai Timur harus menjadi perhatian pemerintah.

“Pelan-pelan kita benahi. Kita harus mulai,” ungkapnya.

Ia mengaku bangga karena ujian try out berbasis digital pada hari pertama di seluruh SMP di Manggarai Timur hampir 90 persen berhasil.

Setelah menempuh perjalanan jauh, mereka akhirnya bisa mengikuti ujian. (Foto: Ist)

“Padahal banyak sekolah yang kesulitan jaringan internet, tetapi mereka berusaha untuk melaksanakan ujian digital dengan mencari tempat yang ada sinyal internet,” pungkasnya.

Bupati Agas Pernah Janji Bangun Jembatan Wae Mokel

Bupati Manggarai Timur, Andreas Agas pernah berjanji untuk membangun jembatan di sungai Wae Mokel di ruas jalan Mbata-Munda-Lete.

“Catat. Saya bicara di depan ketua DPRD dan Pak Sekda, jembatan Wae Mokel di Munda akan kami bangun tahun depan,” kata bupati Agas di hadapan ratusan masyarakat saat peresmian Gedung Puskesmas Wae Lengga pada 28 Maret 2019.

Menurut Bupati Agas kala itu, Gunung Baru merupakan desa yang masih terbelakang dari aspek pembangunan infrastruktur jalan, sehingga ia dan Wakil Bupati, Stefanus Jaghur akan memperhatikan jalan ke desa tersebut pada dua tahun pertama kepemimpinan mereka.

Pada 2020, pembangunan jembatan Wae Mokel tersebut dibatalkan karena Covid-19.

Sesuai penelusuran Floresa.co pada laman LPSE Manggarai Timur, paket pengerjaan jembatan itu belum tercantum sebagai salah satu daftar paket proyek infrastruktur yang akan dikerjakan tahun 2021.

“Kami masih menunggu janji Pak Bupati untuk bangun jembatan di Wae Mokel,” tutur Vinsensius Joman, salah satu warga Dusun Munda, Desa Gunung Baru.

RO/FLORESA

- Advertisement -

Baca Juga