Jumat, 7 Mei 2021

BKSDA NTT Gagalkan Pengiriman 65 Ekor Jalak Tunggir Merah ke NTB

Satwa sebanyak 65 ekor ini diamankan di Pelabuhan ASDP Labuan Bajo atas kerjasama yang apik antara personil RKW Labuan Bajo bersama Stasiun Karantina Pertanian Labuan Bajo, KP3 Laut Labuan Bajo, dan ASDP Labuan Bajo.

Labuan Bajo, Floresa.co – Balai Besar KSDA NTT melalui Resort Konservasi Wilayah (RKW) Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat berhasil menggagalkan pengiriman satwa burung Jalak Tunggir Merah atau Scissirostrum dubium pada Rabu, 21 Februari 2021.

Satwa sebanyak 65 ekor ini diamankan di Pelabuhan ASDP Labuan Bajo pada jam 08.30 atas kerjasama yang apik antara personil RKW Labuan Bajo bersama Stasiun Karantina Pertanian Labuan Bajo, KP3 Laut Labuan Bajo, dan ASDP Labuan Bajo.

“Berdasarkan pengumpulan keterangan terhadap pelaku bernisial S (50) diketahui bahwa burung-burung tersebut dibeli dari masyarakat di wilayah Sulawesi Selatan yakni dari daerah Mangkutana dan sekitarnya,” kata Kepala BKSD NTT NTT Timbul Batubara dalam rilis yang diterima Floresa.co, Jumat 19 Februari.

- Advertisement -

Timbul menuturkan, pelaku kemudian mengangkut burung-burung itu menggunakan mobil pick up menuju Pelabuhan ASDP Tanjung Bira, Bulukumba dan melanjutkan perjalanan dengan kapal fery Sangke Palanggga menuju Labuan Bajo.

- Advertisement -

“Sedianya pelaku akan meneruskan perjalanan ke Bima, NTB namun gagal karena aksinya terbongkar,” ujarnya.

BACA: Peneliti: Regulasi Permanen di Tingkat Lokal Penting demi Lindungi Satwa di Flores

“Pelaku yang berasal dari Malang, Jawa Timur itu mengaku bahwa burung Jalak Tunggir Merah akan ditawarkan kepada penggemar (hobiis) burung berkicau di wilayah Bima, NTB dan sekitarnya,” tambahnya.

Menurut Timbul, penggagalan pengiriman burung Jalak Tunggir Merah ini menjadi prestasi Balai Balai Besar KSDA NTT bersama dengan parapihak sebagai wujud komitmen bersama dalam rangka pencegahan perdagangan tumbuhan dan satwa liar secara ilegal.

“Walaupun jenis tersebut tidak dilindungi menurut Peraturan Menteri LHK no.P. 106/menlhk/setjen/kum.1/12/2018, tetap saja pengiriman tanpa disertai dokumen yang sah adalah perbuatan yang tidak dapat dibenarkan,” tegasnya.

Burung jalak tunggir merah adalah burung endemik di Pulau Sulawesi. Habitatnya berada pada daerah dataran rendah sampai dengan pegunungan berketinggian 1000 mdpl. Suaranya tinggi dan nyaring, melengking menjadi daya tarik bagi para penggemar burung berkicau. Nama lain dari jalak tunggir merah adalah jalak rio-rio.

RKW Labuan Bajo bersama Stasiun Karantina Pertanian Labuan Bajo, KP3 Laut Labuan Bajo, dan ASDP Labuan Bajo saat mengamankan 65 ekor Jalan Tunggir Merah ke Bima – NTB. (Foto: Dokumentasi BKSD NTT).

Dikutip dari wikipedia, Jalan Tunggir Merah adalah spesies burung jalak dalam famili Sturnidae. Burung ini endemik di Pulau Sulawesi termasuk pulau-pulau satelitnya dan Kepulauan Banggai. Burung jalak rio banyak ditemukan di Kepulauan Banggai, Pulau Butung – Sulawesi Tenggara, Kepulauan Togen – Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengahs), Pulau Lembeh dan Pulau Bangka – Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara dan Pulau Lembeh yang masuk dalam administratif masuk Kota Bitung, Sulawesi Utara.

Ukuran tubuhnya sedang, dengan panjang kurang lebih 20,5 cm dengan berat sekitar 50 gram. Warna bulunya abu-abu gelap atau abu-abu tua, dengan bagian sayap burung ini berwarna lebih kegelapan. Sedangkan untuk bulu–bulu pada bagian tunggir ataupun pada bagian tungging atau pantat merah ataupun oranye kemerahan.

BACA: Badan Karantina Surabaya Gagalkan 380 Burung dari Ende 

Paruhnya juga tebal, dengan warna jingga sedikit pucat, dengan memiliki ukuran lebih besar dibandingkan dengan spesies jalak yang lainnya. Jalak jenis ini termasuk salah satu burung yang cepat serta dikenal pintar dalam menirukan suara burung kicauan lain.

Burung jalak ini hidup secara berkelompok atau berkoloni dalam jumlah yang cukup besar, bahkan bisa mencapai hingga 150 ekor di dalam setiap kelompoknya.

Mereka kerap sekali menempati wilayah di tepian hutan serta kawasan yang jarang ditumbuhi pepohonan, dan hutan rawa hingga pada ketinggian 1.100 meter diatas permukaan laut.

Sekelompok burung jalak tunggir merah akan bersama-sama untuk mencari makanan yang berupa buah-buahan, perling kecil, biji-bijian, dan juga beberapa jenis dari serangga. Burung ini begitu menyukai biji-bijian, serangga, dan juga buah-buahan.

Seorang peternak burung ini biasanya memberikan burung ini makanan pokok berupa voer. Akan tetapi juga memberikan makanan ekstra berupa jangkrik ataupun kroto dan juga buah-buahan seperti buah pisang dan buah pepaya.

Jalan yang disebut juga Rio-Rio ini tercatat berbiak di bulan Mei, tipe perkawinannya monogami. Berbiak dalam koloni besar sampai ratusan sarang. Melubangi batang pohon mati untuk bersarang, kadang pohon kemudian tumbang karana terlalu banyak lubang pada batangnya. Jumlah telur 2 butir, di alam biasanya satu sarang hanya mampu mendukung pertumbuhan satu burung muda.

Status jalak tunggir merah sebagai burung endemik, terang Timbul membutuhkan komitmen semua pihak untuk terus menjaga kelestariannya di alam liar. Harapannya agar tidak terjadinya penurunan populasi.

“Mencintai tidak harus memiliki kiranya ungakapan yang tepat untuk memutus pemanfaatan ilegal satwa liar. Biarkan saja satwa liar tetap mengembara bebas di hutan rimba. Kita dapat berkontribusi terhadap pelestarian satwa liar diantaranya dengan menjaga dan melindungi hutan serta tidak melakukan perburuan liar,” tambahnya.

Burung-burung tersebut, tambah Timbul, selanjutnya akan akan dikembalikan ke habitat asalnya setelah dinyatakan sehat fisik dan laboratoris serta sesuai dengan standar kesehatan satwa.

ARJ/FLORESA

 

 

- Advertisement -

BERI KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

Baca Juga