Kamis, 2 Desember 2021

Virus Babi Belum Terkendali, Kuliah Anak Pun Terancam

Beternak babi menjadi salah satu pilihan petani di Flores untuk bisa mendapat penghasilan tambahan, demi menyekolahkan anak. Belum terkendalinya virus jenis African Swene Fever (ASF) yang menyerang babi membuat kuliah anak-anak mereka menjadi terancam.

Floresa.co – Fabianus Jema, 45, kehilangan 13 ekor babinya sejak November tahun lalu.

“Mereka tiba-tiba mati satu per satu di dalam kandang,” kata warga Kampung Datak, Kabupaten Manggarai Barat tersebut.

Dari penjelasan pemerintah kabupaten, ia mendapati informasi bahwa babi-babi itu mati akibat virus demam babi afrika (African Swine Fever, ASF) yang mulai masuk ke kampungnya setelah sebelumnya virus itu hanya dilaporkan menyerang babi di beberapa wilayah lain di Indonesia.

Ia merasa sangat terpukul karena selama ini hasil jual babi jadi andalan untuk membiayai pendidikan putri ketiganya yang kini sedang kuliah jurusan pertanian di Universitas Katolik St. Paulus Ruteng.

“Saya tidak tahu lagi, apa yang bisa dilakukan untuk bisa membiayainya nanti,” kata ayah lima orang anak itu.

Jema mengatakan dia beternak babi semata-mata untuk mendapatkan penghasilan tambahan untuk menyekolahkan anak-anaknya karena penghasilan sebagai petani tidak cukup.

“Anak sulung saya baru selesai kuliah di Bali tahun lalu. Dia bisa kuliah karena penghasilan dari menjual babi,” katanya.

Hal yang sama juga dialami warga sekampungnya, Kanisius Kabut, 46, yang dua anaknya kini sedang kuliah di Bali dan di Kupang.

“Sekarang saya bingung harus mencari jalan apa lagi untuk membantu kuliah mereka,” kata ayah enam oang anak ini, yang kehilangan 40 ekor babinya.

Laporan kematian babi di Flores terus meningkat, meski belum ada statistik lengkap dari pemerintah.

Namun, di Paroki St. Terese Kalkuta Datak, menurut laporan Pastor Paroki, Romo Beny Jaya Pr, data sementara hingga awal Januari, 4.535 ekor babi yang mati, yang jika dihitung dengan harga pasar senilai 7,1 miliar rupiah.

Romo Beny mengatakan, hampir semua keluarga di wilayah Datak memelihara babi.

“Rata rata 5 sampai dengan 20 ekor per keluarga. Bahkan ada yang 40 ekor,” katanya.

Ia menjelaskan, sejauh ini, bekerja sama dengan Pemerintah Kecamatan Lembor, mereka sudah membuat panitia yang bertugas melakukan sosialisasi terus-menerus demi mencegah meluasnya virus ini, sambil mencari jalan bagi keluarga yang sudah mengalami kerugian.

Dinas Peternakan Kabupaten Manggarai Barat telah mengonfirmasi dalam sebuah pernyataan resmi pada November bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, kematian babi-babi ini dipicu oleh ASF, yang bermula dari sebuah kampung di Kecamatan Lembor, lalu menyebar ke wilayah lain.

Penyebaran virus ini di Flores merupakan bagian dari gelombang baru, yang mulai dilaporkan sejak Juni tahun lalu dengan kasus pertama di Kabupaten Sikka.

Sebelumnya, mulai akhir 2019, virus ini hanya dilaporkan melanda babi-babi di Sumatera Utara, di mana jumlah babi yang mati mencapai 48 ribu.

Di Nusa Tenggara Timur, jumlah yang mati sejak Maret sudah mencapai lebih dari 24 ribu.

Di Kabupaten Lembata, yang mencakup beberapa pulau kecil di ujung timur Pulau Flores, Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Lembata, Kanisius Tuaq melaporkan kematian 365 ekor babi hingga 10 Januari.

Dalam sebuah pernyataan, I Ketut Diarmita, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian mengatakan pemerintah telah melakukan tindakan kewaspadaan sejak adanya notifikasi kejadian wabah ASF di Tiongkok pada September 2018.

Namun, ia menjelaskan, hal yang mengkhawatirkan dari penyebaran penyakit ASF ini adalah belum ditemukannya vaksin dan virusnya memiliki daya tahan tinggi, termasuk terhadap disinfektan.

Penyakit ini, kata dia, merupakan ancaman bagi populasi babi di Indonesia yang mencapai kurang lebih 8,5 juta ekor.

Kandang babi milik warga di Kampung Datak, Kabupaten Manggarai Barat yang kosong setelah babi piaraan mereka mati karena virus ASF. (Foto: Istimewa).

Joe Saragih, dokter hewan yang juga dosen di Universitas Nusa Cendana di Kupang menyebut, virus ini bisa menyebar dengan cepat karena masih selalu ada produk-produk olahan babi yang masuk ke suatu daerah, yang tidak bisa dipastikan apakah mengandung virus atau tidak.

“Memang ada imbauan dari pemerintah untuk tidak membawa babi dari daerah yang sudah tertular. Namun, olahan daging babi belum sepenuhnya terkendali,” katanya.

Ia menyebut, model pemeliharaan babi di Indonesia yang umumnya oleh rumah tangga, juga menjadi salah satu faktor pemicu.

“Para petani kita belum teredukasi dengan baik, terkait bagaimana upaya preventif untuk mencegah penyebarannya,” katanya.

“Contoh sederhana, masih umum terjadi sisa-sisa makanan diberikan kepada babi, termasuk daging babi. Padahal, bisa saja makanan itu mengandung virus,” katanya.

Ia mengatakan, selagi vaksinnya belum ditemukan, salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah biosekuriti, misalnya dengan secara rutin melakukan pembersihan kandang dan secara ketat mengontrol pakan babi.

“Itu bisa dilakukan dengan terus-menerus mengedukasi masyarakat,” katanya.

Yohanes Fransiskus Lema, anggota parlemen yang membidangi urusan pertanian dan beberapa kali menyampaikan masalah ini dalam rapat paripurna dengan Kementerian Pertanian mengatakan, ia menilai hingga kini belum ada upaya signifikan yang dilakukan pemerintah untuk menangani masalah ini, mulai dari level pusat hingga daerah.

“Ketika saya membicarakan hal ini dalam rapat paripurna pada bulan Juli, petugas dari Kementerian sempat ke Flores untuk melakukan peninjauan. Namun, mereka hanya melakukan penyemprotan disinfektan. Setelah itu tidak ada lagi upaya lanjutan,” katanya.

Ia menegaskan, pemerintah mesti mempercepat penemuan vaksin ASF agar memulihkan kepercayaan diri peternak.

“Memang masalah ini tampaknya tidak terlalu mendapat perhatian serius, karena babi ini bukan ternak massal, yang bisa dipelihara semua orang. Namun, sudah menjadi tanggung jawab pemerintah untuk mencari solusi,” tegas politisi PDI Perjuangan ini.

Selain itu, kata dia, ia juga terus meminta agar pemerintah memberi bantuan bibit babi para peternak, namun mesti dipastikan bahwa bibit itu aman dari virus.

Sementara tidak ada kepastian apakah virus ini bisa dikendalikan, petani seperti Fabianus mengatakan, masih belum tahu apa yang akan dilakukan dengan kuliah anaknya.

“Situasinya serba sulit, apalagi di tengah pandemi seperti saat ini. Untuk melakukan upaya lain, serba susah,” katanya.

Ia mengatakan pernah mencoba memelihara kerbau milik warga sekampungnya, dengan kesepakatan, ia akan mendapat salah satu anak kerbau itu. Namun, naas, induk kerbau itu dicuri setelah hanya beberapa pekan ia pelihara.

Sementara Kanisius, ia sedang berpikir megambil langkah yang sebenarnya tidak pernah ia harapkan.

“Mungkin saya akan terpaksa menjual tanah. Saya tetap berharap dua anak saya bisa selesaikan kuliah,” katanya.

ARL/ARJ/Floresa

- Advertisement -

1 KOMENTAR

BERI KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

Baca Juga