BerandaPERISTIWAOrang Italia, Broker, Pengusaha,...

Orang Italia, Broker, Pengusaha, Advokat, Hingga Politisi: Deretan Tersangka Kasus Tanah Kerangan

Floresa.co – Dari 16 tersangka kasus dugaan penggelapan aset tanah milik Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat yang diumumkan pihak Kejaksaan Tinggi NTT hari ini, Kamis, 14 Januari 2020, latar belakangnya beraneka ragam.

Selain Bupati Agustinus Dula, Ketua Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Mabar, Hj Andi Riski  Nur Cahya – yang juga maju dalam Pilkada Mabar pada Desember lalu -, ada juga yang berlatar belakang pengusaha, advokat, broker atau calo, hingga pegawai di Badan Pertanahan Nasional (BPN).

Sejumlah sumber Floresa.co menyebutkan, salah satu tersangka adalah orang Italia bernama Masimiliano yang disebut-sebut sudah menjadi Warga Negara Indonesia.

Selain itu adalah seorang pengusaha, Veronika Syukur. Ia disebut-sebut sebagai pemilik hotel di CF Komodo dan Cahaya Adrian di Labuan Bajo – yang sudah disita – dan dikabarkan pernah lama tinggal di Italia.

Kejaksanaan juga menetapkan tersangka pegawai BPN yang dianggap ikut memuluskan praktek jual beli aset tanah Pemda ini.

Selain itu, salah satu tersangka lain yang disebut berasal dari Jakarta adalah seorang pengacara yang selama ini berupaya mendapatkan sertifikat atas tanah tersebut.

Para tersangka ini sudah dibawa ke Kupang hari ini dengan pesawat dari Bandara Komodo, Labuan Bajo.

Roy Riady, Ketua Tim Penyidik dari Kejati NTT mengatakan, meski sudah dibawa ke Kupang Dula tidak langsung ditahan dan hanya diperiksa karena menunggu surat dari Menteri Dalam Negeri.

“Hari ini dia akan menjalani pemeriksaan sebagai tersangka didampingi kuasa hukumnya,” katanya.

Aset tanah yang menjadi objek masalah ini dinyatakan oleh Kejati NTT sebagai tanah milik Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat. Tanah itu ikut diklaim juga oleh sejumlah pihak lain, termasuk Muhammad Adam Djuje, salah seorang mantan pejabat di Kedaluan Nggorang, Labuan Bajo.

Dari temuan Kejati NTT yang menyelidiki kasus ini selama tahun lalu, didapati bahwa sebagian dari tanah itu sudah dijual, yang melibatkan banyak pihak, termasuk orang dalam di Kabupaten Mabar.

FERDINAND AMBO

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

Wawancara Suster Virgula SSpS: “Percaya Sepenuhnya Kepada Tuhan”

Floresa.co - Nama Sr Virgula Schmitt SSpS (87) sangat akrab bagi...

KPK Tantang Gereja Katolik Audit Keuangan

Floresa.co - Seorang anggota senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menantang Gereja Katolik...

Begini Cara Buat Kandang Babi Sederhana, Tapi Bebas Bau dan Lalat

Floresa.co - Sebagian besar keluarga di Nusa Tenggara Timur (NTT) memelihara babi....

Babi Makin Tambun, Dompet Anda pun Bertambah Tebal

Floresa.co - Selain kandang, aspek yang tak kalah penting ketika memelihara babi...

Warga dan BPO-LBF dalam Polemik Bowosie: Hidup Rentan di Moncong Negara

"Membaca kasus Racang Buka, kita dapat menarik benang merah antara dominasi negara neoliberal dan penghancuran ruang hidup warga. Maraknya investasi sektor privat menunjukkan bahwa negara tidak lagi menjadi wadah penjamin kesejahteraan, tetapi malah menjadi racun bagi hidup warganya."

“Anak-anak Kami Lapar,” Keluh Petani di Manggarai Barat yang Terancam Gagal Tanam Karena Bendungan Rusak

Bendungan Wae Cebong merupakan sumber air bagi irigasi untuk ratusan hektar sawah di area Persawahan Satar Walang, milik warga Desa Compong Longgo, desa yang berjarak 14 kilometer ke arah selatan dari Labuan Bajo.

“Pak Jokowi, Bunuh Saja Kami,” Protes Warga Labuan Bajo yang Kembali Hadang Penggusuran Lahan oleh BPO-LBF

"Kami tidak sedang berdemontrasi, tetapi (sedang) pertahankan tanah kami," kata warga.

Mengolah Kemiri Agar Harganya Selangit

Oleh: F RAHARDI Provinsi Nusa Tenggara Timur,khususnya Pulau Flores, Pulau Adonara, Pulau Solor...