Warga menggotong peti jenazah di sungai Wae Musur. Foto: Istimewa

Borong, Floresa.co – Kondisi infrastruktur jalan di sungai Wae Musur yang belum ada jembatan memaksa warga Nanga Lanang, Desa Bea Ngencung, Kecamatan Rana Mese, Kabupaten Manggarai Timur (Matim) – NTT menggotong peti jenazah salah seorang warga kampung itu saat menyeberangi sungai tersebut, pada Kamis, 7 Januari 2021.

Jenazah almarhum Rikardus Gama (43) terpaksa digotong kareng mobil tidak bisa melintasi lantaran kondisi sungai yang dalam dan berarus deras.

Almarhum Rikardus meninggal di Rumah Sakit St. Rafael Cancar pada Kamis pagi, sekitar pukul 05.00 Wita.

Menurut Lois Gonzales, adik sepupu Rikardus, jasad kakaknya itu diantar menggunakan mobil dump truk milik keluarga mereka, dari rumah sakit hingga pertengahan sungai Wae Musur.

Mobil tersebut tidak bisa meneruskan perjalanan hingga Nanga Lanang karena arus sungai yang deras.

“Kondisi sungai juga dalam, air setinggi pinggang orang dewasa,” katanya kepada Floresa.co, Kamis sore.

Baca Juga: Wae Musur di Matim Meluap, Warga Batal Jual Hasil Bumi ke Pasar

Kondisi infrastruktur jalan menuju Nanga Lanang yang demikian, lanjutnya, memaksa warga dan keluarga menggotong peti jenazah Rikardus di sungai itu.

“Setelah tiba di sebelah sungai, jenazah almarhum kembali diangkut menggunakan mobil dari Nanga Lanang,” katanya.

Selain jenazah, lanjut Lois, keluarga almarhum Rikardus yang datang dari Mano, Borong dan sejumlah tempat lainnya, terpaksa berjalan kaki menuju Nanga Lanang karena kendaraan roda dua dan roda empat yang mereka tumpangi tidak bisa melintasi sungai tersebut.

“Selain belum ada jembatan. Kondisi jalan ke Nanga Lanang juga sangat buruk. Dari cabang Sok hingga Nanga Lanang, banyak sekali genangan air di sepanjang jalan,” ungkapnya.

Sungai Wae Musur yang membelah wilayah Kecamatan Rana Mese memang selalu menjadi momok bagi warga yang bermukim di sebelah barat sungai itu. Jika musim hujan tiba, banjir selalu menghantui warga ketika hendak keluar atau masuk kampung, seperti menuju dan dari Borong, ibu kota Matim atau tempat lainnya di sebelah timur sungai tersebut.

Total, ada tiga desa di sebelah barat sungai Wae Musur yang selalu terisolir jika musim hujan tiba, yakni Desa Bea Ngencung, Desa Satar Lenda dan Desa Lidi.

Pada 2019, pemerintah Matim telah memulai pembangunan crossway di sungai itu menggunakan dana urunan. Namun, hingga kini, pembangunan crossway tersebut belum tuntas hingga ke sisi barat sungai.

Baca: Pemkab Matim Bangun Crossway Di Wae Musur

Lois berharap agar pemerintah kabupaten itu melanjutkan pembangunan crossway itu, sehingga masyarakat tiga desa di sebelah barat Wae Musur itu tidak kesulitan melintas saat musim hujan.

“Buruk sekali kondisi jalan menuju Nanga Lanang dan beberapa desa sekitarnya itu. Paling tidak pemerintah melanjutkan pembangunan crossway itu sehingga meskipun jalan buruk, warga masih tetap bisa melintas saat musim hujan,” pungkasnya.

ADR/Floresa