Pasangan Edi-Weng berkomitmen melakukan sertifikasi terhadap hasil pertanian agar bisa diterima pasar. (Foto: Ist)

Floresa.co – Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Manggarai Barat (Mabar), Edistasius Endi dan Yulianus Weng berkomitmen meningkatkan posisi tawar petani lewat program sertifikasi hasil pertanian sehingga memiliki brand dan bisa diterima industri pariwisata.

Edi dalam pernyataan pada Jumat, 6 November 2020 mengatakan, hal ini akan menjadi fokus perhatian mereka mengingat warga Mabar mayoritas atau 80 persen adalah petani.

Perhatian serius, kata dia, juga diarahkan pada sektor perikanan.

“Edi-Weng akan menjamin sertifikasi hasil tani, kebun, dan tangkapan nelayan sehingga memiliki daya saing serta terjamin mutu dan kualitasnya,” kata Edi.

Ia menjelaskan, lewat program ini, mereka ingin membawa petani ke level usaha yang lebih tinggi. 

“Artinya, petani dan nelayan tidak lagi menjual barang mentah, tetapi barang setengah jadi dan barang jadi sehingga ada nilai tambah,” katanya.

Selain itu, kata dia, mereka juga akan membantu petani dan nelayan untuk memangkas rantai distribusi hasil pertanian dan perikanan. 

“Petani dan nelayan tidak lagi akan menjual kepada tengkulak atau pengepul tetapi dapat langsung menjualnya ke pasar seperti hotel dan resort-resort di Labuan Bajo, bahkan untuk dijual ke luar Mabar,” katanya.

Edi menyatakan, kondisi para petani di Mabar saat ini memprihatinkan.

Sederet masalah serius, kata dia, adalah susahnya memperoleh bibit, mahalnya harga pupuk, mahalnya biaya produksi, persoalan cuaca hingga susah menjual hasil produksi pertanian, perkebunan, dan perikanan.

“Kendala-kendala itu harus diatasi pemerintah,” katanya, sambil menambahkan, perlu upaya pendampingan dan pembinaan serius dari pemerintah terhadap petani dan nelayan.

“Petani dan nelayan harus diperkenalkan dengan teknologi sehingga produksi pertanian, perkebunan, dan perikanan meningkat,” katanya.

Gagasan lain yang disokong Edi-Weng di bidang pertanian adalah sistem zonasi.

Dengan sistem ini, jelas dia, setiap kecamatan dan desa akan ditanam komoditas sesuai hasil pertanian dan perkebunan unggulan. 

“Tentu ini tidak akan mematikan pertanian yang sudah ada selama ini, tetapi zonasi mengatur komoditi yang potensial di setiap kecamatan sebagai unggulan,” katanya.

RO/FLORESA