Pasangan calon bupati dan wakil bupati Manggarai barat (Mabar), Edistasius Endi-Yulianus Weng. (Foto: Ist)

Floresa.co – Sektor pertanian perlu mendapat perhatian serius sehingga para petani bisa merasakan dampak dari perkembangan pesat pariwisata di Kabupaten Manggarai Barat (Mabar).

Menurut pasangan calon bupati dan wakil bupati Edistasius Endi-Yulianus Weng, langkah untuk mencapai hal itu adalah dengan sistem zonasi.

Menurut mereka, pertanian berbasis zonasi bertujuan memudahkan identifikasi potensi-potensi pertanian setiap kampung, desa dan kecamatan.

“Dengan identifikasi itu diharapkan pembangunan  sektor pertanian di Mabar tumbuh agar menopang sektor pariwisata super premium dan bisa untuk ekspor. Tentu akhirnya agar pertanian di Mabar menjadi lebih tertata dan hasil yang diterima petani lebih baik,” kata Edi dalam pernyataannya, Kamis, 5 November.

Ia menjelaskan, dengan sistem zonasi ini, petani di setiap daerah tidak lagi menanam komoditas pertanian yang sama.

“Ini seperti yang terjadi di negara Mesir. Di sana, semua tata kelola dan distribusi pertanian diatur pemerintah,” katanya.

Dengan sistem ini, jelas dia, di setiap kecamatan dan desa akan ditanam komoditas sesuai hasil pertanian dan perkebunan unggulan. 

“Tentu ini tidak akan mematikan pertanian yang sudah ada selama ini, tetapi zonasi mengatur komoditi yang potensial di setiap kecamatan sebagai unggulan,” katanya.

Dengan sistem ini, jelas dia, tidak akan ada lagi cerita soal stok komoditi yang menumpuk sehingga harganya anjlok, yang kemudian merugikan petani.

Pertanian Belum Tertata

Merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS), petani di Mabar mencapai 80 persen. Dan dari data PDRB Manggarai Barat lima tahun terakhir, kontribusi sektor ini dengan kehutanan dan perikanan rata-rata 27,22 persen. 

Edi mengatakan, ini adalaha angka yang besar dan petani sudah seharusnya menjadi basis bagi industri pariwisata di Mabar.

Namun, sayangnya, kata dia, belum ada penataan jelas, di mana sistem tanam, petik dan olah serampangan. 

“Produksi pertanian dengan beraneka ragam seperti padi, kemiri, kopi, vanili, sayur-sayuran dan buahan-buahan memang ada, tetapi tidak besar dan kualitasnya juga sulit diterima pasar,” katanya.

Dampaknya, jelas dia, kontribusi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang besar tidak serta merta meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani yang merupakan lapangan pekerjaan utama masyarakat.

Ia menjelaskan, karena dampak yang dirasakan petani tidak signifikan, kata dia, Mabar menghadapi masalah melambatnya laju pertumbuhan sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan akibat alih fungsi lahan pertanian dan banyaknya lahan-lahan pertanian dan perkebunan yang tidak lagi dimanfaatkan. 

“Semua itu terjadi karena kurangnya manajemen pertanian,” katanya.

RO/FLORESA