Ibu-ibu Komunitas Du Anyam (Foto: Hanna Keraf).

“Get your hands  dirty” metafor tangan kotor tak selamanya bermakna buruk. Mengotori tangan, merupakan cara terbaik untuk hidup – tumbuh dan berguna. Di situlah kita menemukan makna kehidupan

Hanna Keraf lahir di Jakarta, 14 September 1988. Ia tumbuh besar dan sekolah di Jakarta. Usai menyelesaikan pendidikan kelas menengah, ia lantas melanjutkan studi ke Jepang, di Universitas Ritsumeikan Asia Pasifik. Hanna memang cerdas, ia mendapatkan beasiswa dari kampus, Kementerian Pendidikan serta Japan Student Service Organization.

Kendati lahir, tumbuh besar dan sekolah di kota megapolitan, Hanna dalam beberapa momen liburan selalu pulang ke Lembata NTT kampung asal orangtuanya. Baginya kampung halaman adalah keharusan, selain dikunjung juga untuk ditinggal.

Benar saja, sembilan warsa lalu, usai menyelesaikan studi di Jepang, Hanna dengan gelar Sarjana Bisnis tidak kembali ke Jakarta. Ia pulang ke NTT. Padahal, status sarjana lulusan Jepang adalah kartu As untuk masuk ke instasi manapun di Jakarta.

Untuk memurnikan tekadnya, Hanna usai kuliah mengambil waktu sebulan untuk liburan di Flores NTT. Di sana Hanna, mengamati kehidupan sosial masyarakat. Hanna sangat menikmati momen sebulan ini.

“Saya merasa nyaman, dan lebih dari itu, saya merasa akan lebih bermakna dan berguna kalau saya berkarya di NTT,” jelas putri tunggal dari tiga bersaudara ini.

Syarat Tunggal

Impian Hanna untuk mengabdi di tanah NTT direstui semesta. Pada 2012, sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) internasional dari Swiss menawarkan Hanna pekerjaan. Hanna mengiyakan, dengan syarat tunggal: Ia harus ditempatkan di NTT. Pimpinan LSM tersebut sepakat. Hanna ditempatkan di Maumere Flores.

Jauh-jauh hari, Hanna sudah memikirkan matang-matang pelbagai rencana – perihal untuk memastikan tentang pekerjaan apa yang bisa membawa dan berguna untuk masyarakat di NTT. Hanna yang memiliki modal sosial, kultural, pendidikan dan jaringan yang mentereng merasa; di NTT ia akan lebih berguna bagi banyak orang, baik dalam berkarya, berkembang dan bertumbuh bersama.

Keputusan Hanna untuk tinggal di NTT sejatinya ia harus bayar mahal. Ia menolak peluang besar, beasiswa dari sebuah Universitas di Kostarika yang berada di bawah naungan PBB.

“Peluang itu akan ada lagi, namun yang menjadi prioritas adalah NTT,” imbuh alumni St Ursula Jakarta ini.

Lewat pendekatan LSM, akhirnya Hanna menemukan begitu banyak pengetahuan dari masyarakat. Identifikasi potensi dan persoalan masyarakat juga menjadi penting, agar masalah yang dihadapi bisa diatasi tanpa harus mengikuti cara daerah lain, melainkan dengan mendorong potensi yang masyarakat hidupi sehari-hari untuk dibawa ke arah yang lebih produktif.

Du Anyam dan Perempuan

Semesta terus medukung. Saat di Maumere, Hanna bertemu dengan beberapa teman-teman alumni St Ursula Jakarta yang sedang menjalani program koas kedokteran. Teman-teman dokter muda ini bercerita, masih banyak ibu hamil yang melahirkan dengan bantuan dukun karena kendala biaya rumah sakit. Tak hanya cerita teman, Hanna suatu ketika, bertemu dengan seorang ibu hamil tetapi ia tidak tahu bahwa dirinya hamil.

“Ia tidak tahu karena tidak punya uang untuk periksa ke puskesmas,” tuturnya.

Dari situlah Hanna dan kedua temannya, Azalea Ayuningtyas dan Amalea Ayuwinata menakwilkan ide supaya perempuan bisa punya uang sendiri tanpa harus bergantung pada pendapatan suami yang entah. Ide itu termakhtub pada “Anyam” sebagai benih kewirasusahaan bagi perempuan. Mengayam bukan sesuatu yang baru bagi perempuan NTT. Bahan bakunya juga mudah didapatkan.

Komunitas Du Anyam dibentuk dengan memberdayakan perempuan, mempromosikan budaya dan menghasilkan uang bagi perempuan. Du Anyam adalah wadah sekaligus kreasi bagi perempuan (ibu rumah tangga) untuk mandiri secara sosial, ekonomi dan kesehatan. Nama Du Anyam sendiri berarti mama mengayam.

“Misinya, kami mengajak komunitas agar berterampil dengan potensi-potensi yang ada, sekaligus dilatih, diberdayakan untuk terus maju,” tutur Hanna.

Sekitar kurun waktu 2014, Hanna melakukan riset produk anyaman dan juga minat pasar. Keduanya harus seimbang. Anyaman memang harus mengikuti minat pasar tetapi nilai tradisi dan lokalitas harus tetap melekat. Hanna memulai Du Anyam di sebuah desa di Sikka dengan melibatkan sekitar 16 ibu rumah tangga sebagai penganyam.

Barang-barang produksi Du Anyam dari komunitas diolah dengan baik untuk menghasilkan produk yang berkualitas dan estetik, seperti; sandal  hotel, bakul, topi, dompet, bola lampu. Dan semua itu didistribusikan ke dalam negeri dan ke luar negeri.

Tentu, Du Anyam tidak bisa berkembang tanpa kerja kolaborasi, baik dengan pemerintah, swasta dan pihak lainnya. Kerja sama dengan pemerintah selain mendapat dukungan seperti perizinan usaha di komunitas, juga secara bersama melihat potensi dan persoalan masyarakat bisa diatasi.

Du Anyam memang produsen, namun ia masuk kategori home industri dengan pendekatan produksi pada komunitas. Kadang tuntutan pasar tiba-tiba tinggi, sementara produksi tidak menyanggupi. Dengan berbagai keterbatasan yang dihadapi komunitas dan permintaan pasar yang begitu besar, akhirnya harus dibatasi.

Du Anyam Mengindonesia

Du Anyam (Foto: Hanna Keraf).

Nama Du Anyam memang diambil dari kata bahasa Sikka ‘Du’yang berarti mama. Tetapi ia tidak hanya milik Sikka saja. Sesuai artinya, ibu menganyam, Du Anyam adalah milik perempuan Indonesia bahkan dunia. Bahkan, Du Anyam juga melibatkan anak-anak muda yang mau berkreasi.

Du Anyam kini memiliki berbagai komunitas di beberapa provinsi yaitu Kalimantan, Papua dan NTT. Total komunitas saat ini ada di 54 desa di seluruh Indonesia dan keanggotaanya sebanyak, 1300 ibu-ibu. Barang-barang yang diproduksi pun sangat laku, baik dalam negeri seperti souvenir untuk kantor-kantor dan hotel-hotel, bahkan saat ini produksi Anyam diekspor ke delapan negara, antara lain ke Jepang, Denmark, Norwegia, Korea Selatan, dan Amerika.

Meri anggota komunitas Anyam Solor Timur mengatakan, Du Anyam sangat membantu untuk meningkatkan produksi ekonomi, sekaligus ada kerja bersama dalam skala lokal. Du Anyam sebagai bentuk aktitivitas dan kreatifitas di masyarakat lokal yang selalu direproduksi.

“Sehingga generasi ke depannya tidak hanya menjadi penikmat, melainkan pelaku utama dalam mengembangkan anyaman,” kata Meri.

Harapan dan Masa Depan Anyam

Di tengah pandemi saat ini, hampir semua aktivitas manusia mengalami persoalan. Situasi ini tak menurunkan semangat Du Anyam dan seluruh komunitasnya agar tetap saling terkoneksi satu sama lain dengan menggunakan aplikasi internal, tujuannya untuk tetap melakukan penataan produksi, inventaris dan pemasaran.

“Di komunitas sendiri, selama pandemi tetap mematuhi aturan yang berlaku. Berbagai desa memang sudah melakukan lockdown. Meskipun pandemi, kami tetap bekerja di rumah anyam. Jadi kalau ada pengiriman dari desa, kami monitoring di rumah anyam dan pembayarannya melalui transfer,” ungkap Meri, saat dihubungi, 23 September 2020.

Sembari melewati masa pandemi, harapan besar terus bergelora. Di akhir pembicaraan kami, Hanna Keraf berkeinginan untuk melebarkan sayap-sayap kegiatan sosial dan lebih banyak waktunya untuk NTT. Ia juga berharap, anak-anak muda NTT lebih semangat, jangan malu dan jangan takut untuk membangun daerah.

“Harus bisa dipastikan kalau ingin pulang dan menetap, dimulai dari belajar apa, menyiapkan apa dan melakukan apa. Itu namanya pulang dengan strategi,” ujar Hanna.

Seperti ungkapan Hanna “Get your hands  dirty”. Metafor tangan kotor tak selamanya bermakna buruk. Mengotori tangan, merupakan cara terbaik untuk hidup – tumbuh dan berguna.

“Saya melakukan ini, karena ingin belajar banyak dari komunitas, tentang bagaimana mereka mengambil keputusan terhadap dirinya sendiri dan orang-orang sekeliling, juga bagaimana saya menantang diri saya untuk membawa invasi terhadap yang ada di NTT”, pungkas Hanna.

Kristianus Jaret/ARJ/Floresa