Jalan yang telah di-hotmix di Mbata, Manggarai Timur. (Foto: Fera Dhiylata)

Oleh: VINCENT ADI G. MEKA 

Kebanggaan Kritis

Baru-baru ini saya mendapat foto jalan yang baru di-hotmix di kampung Mbata, Manggarai Timur dari salah seorang sepupu saya, Fera. Jalan tampak licin mengkilap, disandingi tiang listrik PLN di tengah hijaunya rimbunan pohon. Sejenak terbias rasa bangga akan kampung halaman, mengingat hingga tahun kemarin jalan tersebut cuma membangkitkan rasa malu. Apalagi kalau harus membawa tamu luar negeri saat pulang kampung. Rasa malu tersebut kini perlahan telah beralih menjadi rasa bangga, berterima kasih kepada pemerintah meskipun sebal penuh tanya, mengapa baru sekarang?

Jalan yang di-hotmix atau diaspal beton ini merupakan realisasi dari program pemprov NTT yang dicanangkan pada Oktober 2018 untuk memperbaiki ruas jalan Bealaing-Mukun-Mbazang (Floresa.co, 9 Mei 2019). Untuk sementara pengerjaan jalan sepanjang 17,5 km tersebut baru sampai di Mbata oleh P.T. Agogo. Dengan tidak sabar anda dan saya tentunya menanti pengerjaan ruas selanjutnya (konon tahun depan) oleh P.T. Menara.

Mengorek Sejarah

Dalam goresan ini saya ingin sebentar fokus pada kepingan-kepingan historis yang merupakan latar belakang adanya ruas jalan Mukun-Mbata di akhir tahun 70-an dan awal 80-an. Kepala desa Rana Mbeling saat itu, Bapak Thomas Japi (dikenal dengan sapaan Kraeng Thomas) mengajak seluruh warga untuk menggali dua ruas jalan ke Mbata, dari Paan Leleng (arah Borong) dan dari Mukun (arah Ruteng), agar kendaraan roda empat bisa datang mengangkut komoditi lokal, seperti padi, kopi, cengkeh, kemiri dan vanili. Di awal tahun 1978 semua warga sepakat untuk dahulu menggali dari arah Mukun (yang sekarang sudah di-hotmix), dan setelahnya baru dari arah Paan Leleng (lantaran longsor sekarang tidak bisa dilalui kendaraan roda empat). 

Pada hari H warga dikagetkan oleh perintah kepala desa, bahwa ruas Paan Leleng-lah yang harus dikerjakan dahulu. Maka warga pun pecah dalam dua kelompok berdasarkan dusun masing-masing. Dusun Mbata bersama kepala desa bergerak ke Paan Leleng dan Dusun Kijung di bawah pimpinan Bapak Titus Tarung menentang kepala desa dan bergerak ke Mukun sesuai kesepakatan bersama. Dalam situasi penuh konflik, intrik dan ketegangan, penggalian kedua ruas jalan tetap selesai setelah hampir setahun. Kendaraan seperti truk kayu (oto kol) dan hard top atau jeep pun mulai berdatangan mengangkut hasil bumi dan penumpang, meski hanya lewat ruas jalan Paan Leleng. Jalur Mukun-Mbata sangat sulit dilalui kendaraan roda empat, apalagi medan Golo Robo yang curam. 

Genesa lagu “Nuk Anak Sulung”

Tentu banyak yang bertanya-tanya, apa hubungannya lagu yang sangat tenar saat pesta di Manggarai Timur tersebut dengan jalan hotmix baru? Saat liburan di kampung tahun 2019 lalu, saya sering mengikuti acara atau pesta. Terutama di daerah Manus, khususnya Mbata, lagu Nuk Anak Sulung menjadi pengguncang kemah. Tidak peduli betapa tebalnya debu bercampur asap rokok dan bau arak, lagu tersebut pasti kontan membuat semua undangan ikut turun “gosok lantai” (istilah gaul dari menari). Mereka spontan membentuk lingkaran dan di tengahnya ada seorang kepala nggejang serta seorang ibu menari dengan selendang di tangan. Selendang tersebut akan dipindahkan ke peserta lainnya, yang dalam tradisi danding kadang diartikan sebagai simpati kepada lawan jenis yang disukai.

Siapakah pengarang lagu tersebut? Kalau bertanya kepada tetua atau sesepuh di daerah Mbata atau Rana Mbeling, hampir semua akan sepakat bahwa lagu tersebut erat kaitannya dengan penggalian ruas jalan di akhir tahun 70-an. Kita kembali ke dua kelompok yang bersitegang. Kelompok pertama bersama kepala desa berseberangan dengan kelompok dusun Kijung bersama kepala dusunnya Bapak Titus Tarung. Adik kandung dari beliau adalah guru Markus Meka (sekarang pensiunan dan menjadi narasumber untuk goresan ini) yang saat itu bertugas di Mombok (Elar). Dan tuang guru Markus menikahi putri sulung dari Kepala Desa, Thomas Japi. Di masa gejolak tersebut Pak Markus dan istri mengambil sikap berseberangan dengan mertua dan ayahanda. Bapak Markus menjelaskan, alasan kepala desa merubah keputusannya sangat tidak jelas dan diyakini itu disebabkan oleh pengaruh buruk dari sekelompok orang di sekitarnya. Konflik berlangsung selama lebih dari tiga tahun dan saat setiap liburan sekolah ke Mbata, Pak Markus sekeluarga tidak pernah pergi bertemu mertua (da’at tau).

Bapak Thomas Japi dan ibu Theresia Ndook. (Foto: Ist)

Sebagai seorang ayah, Kraeng Thomas tentu rindu dengan anak sulung dan cucu-cucunya. Kerinduan tersebut pun terungkap dalam lagu danding yang dikarang oleh istri beliau, Ibu Theresia Ndook. Ibu Tres atau Ene Tenggeng, demikian sering disapa, adalah seorang seniwati adat yang selalu ikut berpartisipasi dalam setiap kegiatan seni tradisional seperti danding, mbata dan sanda. Beliau juga dikenal sebagai penari handal. Ibu Tres inilah yang menyanyikan lagu tersebut bersama grupnya saat menerima kunjungan Gubernur NTT , Ben Mboy di tahun 1987. Setelah kunjungan tersebut Gubernur Ben memberikan status “jalan propinsi“ kepada ruas jalan Bealaing-Wukir. Dan sejak saat itu pulalah lagu danding Nuk Anak Sulung menjadi terkenal. 

Lagu Danding

Danding atau dendek sebenarnya adalah jenis tarian berdendang yang dikenal di dalam kebudayaan NTT. Peserta bergerak dalam lingkaran sambil menyanyikan pantun-pantun singkat yang berisi ajaran moral, kritikan sosial atau sanjungan. Syair singkat tersebut dibawakan secara bersahut-sahutan dan diulang-ulang oleh wanita dan pria. Tak jarang juga berisi syair-syair cinta untuk memikat lawan jenis. Dahulu orang ber-danding setiap malam minggu atau pada saat pesta rakyat di malam hari. Di daerah lain dikenal juga seperti dolo-dolo di Lamaholot, gawi di Ende-Lio atau lego-lego di Alor. Tari berdendang atau circle dance (Kreistanz) adalah seni tari tertua dalam sejarah manusia dan ditemukan hampir di seluruh Eropa dan di suku-suku Indian.

Lagu asli dari Nuk Anak Sulung sebenarnya berisi hanya dua kalimat, seperti lazimnya syair danding: 

Sulung e a ao aeng ea, nuk anak o sulung e (Wahai anak sulungku, aku sangat merindukanmu). 

Eo ao ae a ami cenggo sale diang e (Kami akan singgah esok hari).

Dari dua kalimat sederhana ini terpapar dialog eksistensial dan ekspresi kerinduan orang tua kepada anak sulungnya yang dibalas sang anak dengan janji bahwa dia akan singgah keesokan harinya. Dalam kenyataannya itu pernah terjadi tepat dalam situasi konflik yang digambarkan di atas, saat ibu Tres menanti anak dan keluarganya singgah, tetapi mereka cuma lewat pada larut malam, di saat semua sudah pada tidur lelap. 

Dalam versi rekaman audiovisual yang sekarang beredar di tengah masyarakat dan juga bias ditemukan di YouTube, syair singkat tersebut diganti jawabannya: eo ae betot kelot-kelot nai ge (oh betapa hancurnya hatiku). Syair ini dan tambahan yang disebut cual (semacam solo transisi dalam musik Manggarai) diyakini telah ditambah atau diubah lama setelah versi aslinya terkenal. Rekaman tersebut menyajikan syair danding dengan iringan musik pop daerah yang memang bertujuan selain komersial, juga untuk diputar saat pesta-pesta. Versi ini juga agak berbeda dengan aslinya meski masih dalam tatanan skala pentatonik anhemitonik (12356) yang cukup sering ditemukan dalam musik Manggarai. Salut bagi para artis lokal yang telah mengangkat syair tersebut ke khasanah musik pop daerah.

Hotmix dan Harapan

Kembali ke Duo Thomas-Titus yang telah berjasa untuk Rana Mbata dengan meninggalkan jejak kebaikan yang kini dinikmati anak cucunya. Keduanya memprakarsai berdirinya gereja dan Sekolah Dasar Mbata. Mereka juga yang berjuang agar Mbata dan bagian timur Manggarai tidak terkebelakang. Meskipun sempat berbeda pendapat, mereka tetap mengedepankan bonum commune, agar nantinya tak ada yang disesali, seperti kata filsuf Perancis Voltaire: everybody is guilty of all the good he didn’t do. Almarhum Bapak Titus Tarung masih sempat melihat ruas jalan Golo Robo diperlebar. Beliau pun bertutur, “Sekarang saya sudah boleh meninggal.” Tetapi, sayangnya hotmix tidak lagi sempat dia nikmati, juga seperti Kraeng Thomas dan ibu Tres yang telah lama berpulang ke alam baka. Tinggal saja di atas jalanan hotmix akan sering terdengar alunan lagu Nuk Anak Sulung.

Bapak Titus Tarung. (Foto: Ist)

Pemerintah kita sekarang mencanangkan program pembangunan infrastruktur di daerah-daerah. Hotmix di Mbata barulah sebutir pasir di lautan tuntutan peradaban dan penyetaraan pembangunan di Indonesia. Di Manggarai Timur, semakin ke timur semakin menyedihkan infrastrukturnya. Surat terbuka dari para tokoh masyarakat kepada Presiden Jokowi di tahun 2017 sedikitnya telah membuat pimpinan daerah bergeming. Rakyat rindu akan kemajuan seperti di kabupaten tetangganya yang jalannya beraspal dan rumahnya terang benderang. Tetapi bagi saya, juga tidak kalah pentingnya, agar pendidikan mental juga tetap jadi sasaran pembangunan yang komprehensif. 

Penulis adalah putra dari si “Anak Sulung“ dalam lagu di atas, seorang pastor, dosen, musisi dan pemerhati budaya, yang saat ini tinggal di Sankt Augustin, Jerman.

[Tulisan ini tidak bersifat ilmiah, sehingga data-data dan kebenaran faktualnya masih bisa disempurnakan]