BerandaARTIKEL UTAMADidesak Tolak Pembangunan Sarpras,...

Didesak Tolak Pembangunan Sarpras, Kepala TN Komodo Diam Lalu Pergi, Massa: Jangan Jadi Boneka    

Labuan Bajo, Floresa.co – Kepala Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) Lukita Awang memilih meninggalkan massa aksi dari elemen sipil Manggarai Barat (Mabar) usai didesak untuk bersikap terkait rencana pembangunan sarana dan prasarana wisata (Sarpras) geoprak di Loh Buaya, Pulau Rinca TNK.

Sikap Awang memancing protes dari massa aksi hingga menudingnya sebagai boneka yang setuju begitu saja terhadap pembangunan Sarpras tersebut.

“Keliatan jadi boneka.  Uda keterlaluan. Pejabat yang dulu berani (menolak). Kita sudah puluhan tahun berteman, sudah kaya saudara semua dengan teman-teman dari BTNK. Baru Pa Awang ini yang keterlaluan. Sesuai namanya, diawang-awang terus,” kata Kris, salah satu massa aksi dari Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) DPC Mabar.

“Pejabat siapa pun atas perintah rakyat. Dibayar oleh rakyat. Jangan jadi boneka. Ini karena tidak punya sikap. Jangan jadi boneka,” tambahnya.

Baca: DPRD dan Masyarakat Mabar Akan Adukan Pembangunan Sarpras TN Komodo ke KLHK dan DPR RI

Protes keras Kris bermula karena Awang menolak desakan massa untuk menyatakan penolakan terhadap pembangunan Sarpras tersebut usai Ketua Forum Masyarakat Peduli Pariwisata (Formapp) Mabar, Louis Suhatim Karya berkali-kali mendesak.

“Pa Awang, bubuhkan pernyataan Pa Awang secara pribadi sebagai Kepala Balai yang mengelola Taman Nasional Komodo sebagai kawasan konservasi,” kata Louis.

“Bapak tinggal bubuhkan beberapa kata dan kalimat di sini. Menyatakan bahwa pembangunan geopark ini adalah bentuk perusakan terhadap kawasan konsrvasi,” tambahnya.

Awang  yang dikelilingi oleh bawahannya serta para polisi dari Polres Mabar hanya menjawab, “Berkali-kali kami sampaikan bahwa, kami adalah unit pelaksana teknis. Tidak ada tanda tangan di sini. Kalau saya diperintah menteri, saya tanda tangan. Selain itu ada yang perintah, say tidak bisa,” ujar Awang.

Baca: Menteri PUPR Berkunjung, Elemen Sipil Labuan Bajo Demo Tolak Proyek Sarpras di TN Komodo

Nampaknya, pernyataan Awang membuat Louis merasa tidak puas. Ia lalu berkata: “Pertanyaannya, bukankah bapak sebagai kepala BTNK? Kalau bapak bukan kepala balai, kami tidak minta. Saya katakan dengan tegas.”

Namun, Awang tetap melemparkan jawaban yang sama. Sesekali ia juga terlihat diam saat terus menerus didesak hingga akhirnya meninggalkan tempat audiensi.

“Oe jangan lari. Takut-takut. Tidak berani dia. Dia setuju itu pembangunan Sarpras,” teriak massa yang berada di sekitar mobil komando.

Massa aksi penolakan pembangunan Sarana dan Prasarana Wisata di Pulau Rinca saat menuju Kantor DPRD Mabar. (Foto: Floresa).

Besarnya desakan terhadap Awang karena pendahulunya, Budi Kurniawan berani menyatakan sikap saat demonstrasi pembangunan rest area oleh dua perusahaan swasta PT KWE dan SKL di Pulau Rinca dan Komodo pada 6 Agustus 2018.

Berbeda dengan Awang, Budhi ikut menolak hingga  membuat pernyataan sikap yang ditulis serta dibubuhi tanda tangan di atas baju Matheus Siagian, salah satu massa aksi.

Baca: Pak Jokowi, Kapan Bubarkan BOP LBF?

Usai Awang pergi, perwakilan BTNK diganti oleh bawahan Awang, Urbanus. Namun, kehadiran Urbanus tidak juga menyurutkan protes dan kekecewaan massa.

“Ini Pa Awang ini kalau lari begini, lari dari tanggung jawab. Ketahuan jadi bonekanya kapitalis dan komprador. Benar ini,” ujarnya Louis.

Aksi itu berakhir tanpa ada kesepakatan. Aloysius berjanji akan kembali mendatangkan massa lebih banyak. “Ini aksi jilid satu. Kami akan datang lagi,” pungkasnya.

Floresa.co sudah berupaya meminta konfirmasi Lukita Awang di kantornya. Beberapa staf BTNK menyatakan Awang belum bisa ditemui.

“Belum bisa diwawancarai. Dalam kondisi begini kan tidak bisa. Lagi ada psikotes dari Polda. Nanti baru coba lagi. Belum ada waktu,” ujar urbanus.

Aksi selesai sekitar pukul 14.00 Wita dengan diakhiri doa penutup yang dipimpin Ketua Askawi, Ahyar Abadi.

ARJ/Floresa

 

 

 

 

 

 

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

Rezim Penghancur di Bowosie

Persoalan Bowosie sebetulnya bukan saja soal konsep pariwisata yang pro-kapitalis, tetapi yang lebih parah ialah bagaimana agenda bisnis orang-orang kuat yang meng-capture kekuasaan. Ketakutan akan ada agenda diskriminasi terhadap hak-hak masyarakat lokal begitu kuat, karena di atas tanah leluhur masyarakat, negara “menggadaikan” hak-hak masyarakat untuk kepentingan korporasi.

Galeri: Aksi Warga Compang Longgo, Mabar Tuntut Pemerintah Perbaiki Bendungan Rusak

Floresa.co - Masyarakat Desa Compang Longgo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat,...

Dere Serani, Lagu Rohani Manggarai Kini Hadir dalam Kemasan Instrumental

FLORESA.CO - Musisi muda asal Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Joe...

Mengenal Motif Songke-Kain Tenun Sulam Manggarai Timur

Borong, Floresa.co - Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki...

Komodo Dibawa ke Negara Lain, Bukan Hal Baru!

Labuan Bajo, Floresa.co - Penangkapan penyelundup Komodo di Jawa Timur (Jatim)...

Bantuan Rumah di Desa Perak, Cibal:  Staf Desa Jadi Penerima, Camat Protes

Ruteng, Floresa.co - Program Bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di...

Diduga Mencemarkan Nama Baik, UNIKA St. Paulus Polisikan Pemilik Akun ‘Ishaq Catriko’

Ruteng, Floresa.co – Pihak Universitas Katolik Indonesia (UNIKA) St. Paulus Ruteng...