Pertemuan Bernadus Nuel bersama Saverius Jena dan kuasa hukumnya di Jakarta, Selasa, 4 Agustus 2020. (Foto: Matanews)

Floresa.co – Setelah sebelumnya bersikeras untuk meladeni proses hukum yang menjeratnya dalam kasus ancaman pembunuhan, bahkan mengancam akan melapor balik, Bernadus Nuel akhirnya memilih ‘menyerah’ dan menempuh jalur adat Manggarai dengan melakukan permintaan maaf kepada korban dan keluarganya serta membayar denda.

Wakil Ketua DPRD Manggarai Timur (Matim) itu menemui Saverius Jena, mahasiswa di Jakarta yang menjadi sasaran ancamannya dan yang telah membawa kasus ini ke polisi. 

Dalam pertemuan yang berlangsung di Hotel Puri Mega, Selasa, 4 Agustus 2020, Bernadus didampingi Inosentius Syamsul, tokoh asal Matim, sementara Saverius didampingi kuasa hukumnya dari Forum Advokat Manggarai Raya (Famara).

Dalam kesempatan tersebut, Bernadus meminta maaf kepada Saverius, para kuasa hukumnya dan seluruh mahasiswa Manggarai Raya dan NTT di Jakarta serta semua daerah di Indonesia yang mungkin sudah tersinggung dengan kata-katanya.

“Dari hati yang terdalam saya meminta maaf kepada to’a (keponakan) Saverius Jena dan semua mahasiswa yang mungkin terluka dengan kata-kata saya,” kata Bernadus.

“Saya meminta maaf bukan karena diminta atau didesak oleh siapapun, tetapi karena kesadaran saya sendiri. Saya tidak akan melakukan dan berkata-kata kasar lagi kepada siapapun. Saya akan konsen bekerja sebagai wakil rakyat Manggarai Timur,” tambahnya.

Sementara Saverius mengatakan berterima kasih kepada Bernadus yang telah menyesali perbuatan.

“Saya juga meminta maaaf kepada Bapak atas kata-kata saya yang mungkin kurang berkenan,” kata Saverius.

Pertemuan itu terjadi setelah sebelumnya Bernadus mendatangi keluarga Saverius pada Jumat, 1 Agustus, di mana ia mengakui kesalahannya dan bersedia memenuhi denda adat, satu ela wase lima (babi dengan lingkaran badan sepanjang lima jengkal orang dewasa) dan uang Rp 5 juta. 

Penyerahan denda adat itu dihadiri orangtua Saverius dan keluarga besarnya, warga kampung dan desa, tetua adat dan kepala desa.

Dalam acara denda adat itu, Bernadus meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan dan kata-kata kotor yang sama kepada para korban dan semua orang.

Edi Hardum, salah satu kuasa hukum Saverius mengaku salut atas langkah yang diambil Bernadus.

“Salut kepada Anda yang telah menjunjung tinggi adat Manggarai dan semoga permintaan maaf Anda ini memberi pelajaran kepada semua pejabat di Indonesia agar ksatria mengaku salah dan tidak mengulangi perbuatan yang sama,” katanya.

Sementara itu Kons Danggur, Ketua Famara mengatakan DPRD adalah pejabat publik dan harus memberi teladan kepada seluruh masyarakat. 

Ia menambahkan, DPRD dan semua pejabat termasuk advokat adalah sumber ajaran moral.

“Jadi mari kita sama-sama menerapkan ajaran moral dan hukum,” tegasnya.

Sementara Vitalis Jenarus, Sekjen Famara berharap permintaan maaf Bernadus benar-benar dari hati dan bisa menjadi teladan bagi semua pejabat publik ke depan.

Edi mengatakan kepada floresa.co, Rabu pagi, 5 Agustus, dengan adanya permintaan maaf ini, kasus ini dianggap selesai.

Ia juga menyebut akan mencabut laporan yang mereka layangkan pada 21 Juli ke Bareskrim Polri, yang bisa menyeret Bernadus ke jeruji besi karena dianggap melakukan tindak pidana pengancaman dan pencemaran nama baik.

Ancaman Pembunuhan

Kasus ini bermula dari ancaman Bernadus kepada Saverius, yang dipicu oleh unggahan di Grup Facebook Demokrasi Manggarai Timur pada 29 Juni. Unggahan itu menanyakan keseriusan Pemkab Matim dalam menyalurkan dana bantuan kepada mahasiswa yang kuliah di luar daerah Matim selama masa pandemi COVID-19.

Atas status tersebut, Bernadus – politisi Partai Hanura itu – mengirim pesan melalui messenger Facebook kepada Saverius, meminta nomor HP-nya. Ketika nomor HP diberikan, Bernadus kemudian mengancam membunuh dan memaki-maki.

Rekaman makian dan ancaman Bernadus kemudian viral. Dalam beberapa file rekaman yang diperoleh Floresa.co, ia terdengar berkali-kali memaki-maki dalam Bahasa Manggarai terhadap ayah, ibu dan nenek moyang Saverius.

Tidak hanya memaki, ia bahkan mengancam akan membunuhnya. “Kau hati-hati, saya cari kau di Jakarta. Tunggu kau, saya biasa membunuh orang,” kata Bernadus dalam salah satu file rekaman.

Ia juga mengaku selama dua puluh dua tahun hidup di jalanan di Jakarta dan pernah mendampingi Wiranto, mantan Menkopolhukam yang juga pendiri Hanura. “Saya mengawal mantan panglima, Pak Wiranto,” katanya, sambil menambahkan, ia “satu-satunya orang gembel dari Manggrai Timur” yang menjadi pengawal Wiranto.

Bernadus juga mengklaim dirinya tidak takut dengan siapapun, kecuali Tuhan Yesus. 

Dalam rekaman suara lain Bernadus mengklaim sudah mengirim data tentang Saverius ke Mabes, namun tidak tahu pasti apakah yang dimaksud adalah Mabes Polri. 

“Biar kau sembunyi di mana pun, saya sudah kirim kau punya nomor ke Mabes. Kuliahmu tidak akan selesai. Kau akan mati di tengah jalan,” kata Bernadus.

Ia mengatakan, meski kini statusnya sebagai Wakil Ketua DPRD, “naluri preman saya kalau lawan orang begini tumbuh kembali.”

Bernadus sudah mengonfirmasi bahwa rekaman suara itu adalah miliknya. “Saya maki, saya tidak bohong,” katanya saat diwawancarai pada Selasa, 30 Juni.

Ia mengklaim, komentar Saverius yang memicunya marah, terutama saat menyinggung masalah kehadiran tambang dan pabrik semen di Lengko Lolok dan Luwuk, Matim yang kini hangat dibicarakan.

Dalam polemik tambang dan pabrik semen ini, berseberangan dengan sikap sejumlah elemen, termasuk elemen mahasiswa di Jakarta, Bernadus memang beberapa kali menyampaikan sikap dukungan dan pernah menuding kelompok yang menolak tambang hanya demi uang untuk kepentingan sendiri.

Bernadus menjelaskan, saat meminta kepada Saverius untuk berbicara soal bantuan bagi mahasiswa, ia mau menjelaskan bahwa ada sejumlah persyaratan yang mesti dipenuhi agar seorang mahasiswa mendapat dana itu. 

Beberapa persyaratan, kata dia, mahasiswa aktif di kampus dan mempunyai nomor rekening pribadi. “Ini belum selesai, dia ngomong Luwuk. Dia memaksa saya untuk tolak tambang,” katanya.

Bernadus juga menuding Saverius yang mulai memaki-makinya. “Saya bilang (ke dia), supaya kau tahu, siapa yang tidak kenal saya. Cari saja nama saya di Jakarta, seantero Jakarta sudah tahu,” kata Bernadus.

Ia juga mengaku mendengar ada banyak orang di sekitar Saverius saat telepon berlangsung, hal yang juga membuatnya tambah emosi. “Namanya macan lagi tidur, kalau diganggu, pasti bangun,” katanya.

Bernadus sempat mengaku siap meladeni proses hukum di kepolisian atas laporan yang dilayangkan Save.

Ia bahkan mengancam melapor balik, terutama terkait beberapa poster yang dibawa mahasiswa di Jakarta dalam beberapa aksi demonstransi menolak tambang batu gamping dan pabrik semen.

Poster-poster itu, yang merespon kata-kata Bernadus, sebagian berisi gambar wajahnya, yang dibubuhi kata-kata kecaman.

ARL/FLORESA