BerandaPARIWISATAEsok, Masyarakat Labuan Bajo...

Esok, Masyarakat Labuan Bajo Gelar Demonstrasi Tolak Pembangunan Geopark di Pulau Rinca  

Labuan Bajo, Floresa.co – Masyarakat Labuan bajo, Manggarai Barat (Mabar), Nusa Tenggara Timur (NTT) akan menggelar demostrasi menolak pembangunan sarana dan prasarana (Sarpras) menyerupi geopark di Loh Buaya, Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo (TNK), Kamis, 6 Juli 2020.

Menurut Ketua Forum Masyarakat Peduli Pariwisata (Formapp) Mabar, Aloysius Suhatim Karya demonstrasi itu digelar karena kecintaan masyarakat terhadap TN Komodo.

Sementara, di sisi lain, pemerintahan Joko Widodo ingin menyulap wilayah konservasi itu dengan bangunan fisik yang disebut Aloysius akan merusak citra pariwisata Labuan Bajo dan Flores secara umum.

“Citra Taman Nasional Komodo dan Flores pada umumnya dikenal sebagai pariwisata berbasis alam. Pembangunan Sarpras geopark itu akan sangat menghancurkan citra pariwisata kita,” katanya kepada Floresa.co, Rabu, 5 Agustus 2020.

Baca Juga: Pak Jokowi, Kapan Bubarkan BOP LBF?

Demostrasi itu akan digelar di beberapa titik, yakni Kantor DPRD Mabar, Kantor Bupati dan Kantor Balai Taman Nasional Komodo dengan estimasi massa mencapai 500 orang.

“Sudah berulangkali kita sampaikan ini kepada kepada pemerintah namun tidak pernah didengar. Makanya kita akan kembali menggelar aksi,” tegasnya.

Bukan kali ini saja, Formapp Mabar bersama dengan beberapa elemen sipil lainnya mengkritisi kebijakan pemerintah yang dinilai merusak konservasi dan kepentingan masyarakat umum.

Baca: Beri Karpet Merah Bagi Korporasi, Warga Tuding Pemerintah Sedang Merusak Taman Nasional Komodo

Pada 2018, elemen masyarakat sipil Mabar juga menggelar demostrasi menolak pembangunan rest area oleh perusahaan swasta yakni PT Komodo Widelife Ecoturism (KWE) dan PT Segara Komodo Lestari (KSL) masing-masing di Pulau Rinca dan Komodo.

Lalu, diikuti, demostrasi membubarkan Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores (BOP PBF) pada 2019.

Dan, pada 2020, dengan agenda yang sama, yakni menuntut pencabutan izin PT KWE dan SKL, pembubaran BOP LBF dan penolakan terhadap investasi di TNK.

“Kami minta dengan sangat hormat, jangan menghancurkan tanah kami dan jangan menginjak kami masyarakat Flores,” tutupnya.

ARJ/Floresa

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

Komodo Dibawa ke Negara Lain, Bukan Hal Baru!

Labuan Bajo, Floresa.co - Penangkapan penyelundup Komodo di Jawa Timur (Jatim)...

10 Pelukis asa NTT Gelar Pameran Lukisan di TIM

Jakarta, Floresa.co - 10 orang pelukis asal Nusa Tenggara Timur (NTT)...

Dere Serani, Lagu Rohani Manggarai Kini Hadir dalam Kemasan Instrumental

FLORESA.CO - Musisi muda asal Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Joe...

Rentetan Aksi Represif Aparat di Labuan Bajo: Warga di Kafe Diserang dan Dipukuli

Tindakan represif itu diawali dengan peringatan agar ratusan massa yang berkumpul di depan markas Polres Mabar segera membubarkan diri. Dimulai dengan tembakan peringatan, aparat melakukan penyerangan dengan memukul warga serta merusakkan beberapa kursi di dalam kafe.

Mengenal Motif Songke-Kain Tenun Sulam Manggarai Timur

Borong, Floresa.co - Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki...

Buntut Kenaikan Tarif ke TN Komodo, Pelayanan Jasa Wisata di Labuan Bajo akan Mogok Massal, Dimulai 1 Agustus 2022

“Kami dengan kesadaran penuh dan tanpa paksaan dari pihak manapun, dalam menyepakati komitmen pemberhentian semua pelayanan jasa pariwiata di Kabupaten Manggarai Barat yang akan dimulai pada tanggal 1 Agustus sampai 31 Agustus 2022,” demikian ditegaskan pelau wisata.

Konservasi vs Investasi

Oleh: GREGORIUS AFIOMA, Peneliti pada Sunspirit for Justice and Peace Pemerintah perlu...

Jokowi Umumkan Pulau Rinca untuk Pariwisata Massal, Pulau Padar dan Komodo untuk Pariwisata Eksklusif

Skema ini mengancam keutuhan Taman Nasional Komodo sebagai rumah perlindungan aman bagi satwa langka Komodo dari ancaman kepunahan akibat perubahan iklim dan dari desakan aktivitas eksploitatif manusia. Dengan skema itu pula, telah terjadi perubahan drastis paradigma pembangunan pariwisata dari ‘community based-tourism’ menjadi ‘corporate-driven tourism’.