Gerbang utama menuju Kampung Komodo, di Pulau Komodo, Taman Nasional Komodo. Tempat ini juga merupakan salah satu destinasi wisata di dalam kawasan TNK. (Foto: Floresa).

Labuan Bajo, Floresa.co – Para pelaku wisata di Labuan Bajo, Manggarai Barat (Mabar), Nusa Tenggara Timur (NTT) menolak penerapan sistem booking online menuju destinasi wisata Taman Nasional Komodo (TNK).

Selain sistem yang belum siap, sejak diberlakukan mulai 6 Juli 2020, penerapan sistem ini diklaim belum mendesak serta dikhawatirkan akan menyulitkan dan mengancam mata pencaharian para pelaku wisata lokal untuk mengakses spot-spot wisata di dalam TNK.

Seperti yang dialami oleh Kris, salah satu agen lokal yang hendak mengantar tamu ke wilayah itu. Beberapa kali dirinya mencoba melakukan booking melalui link yang telah disiapkan. Namun, terus-menerus gagal.

“Saya ada tamu, saya coba masuk ke link mereka (booking online). Ternyata link itu tidak siap. Saya masuk hari Jumat, Sabtu, Minggu, Senin tetapi tidak ada jawaban. Ini kan Lucu,” ujarnya Rabu, 22 Juli 2020

Karena terus gagal, Kris mencoba mendatangi pihak Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) sebagai salah satu yang bertanggung jawab selain Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores (BOPLBF) dan Dinas Pariwisata Mabar untuk menanyakan masalah tersebut. Namun, tidak juga mendapatkan solusi.

“Tetap mereka juga kelabakan. Siapa adminnya, tidak jelas. Seenaknya sendiri mereka sama kita. Semuanya ga jelas,” ujarnya.

Selain itu, dilaporkan Ketua Asosiasi Kapal Wisata (ASKAWI) Manggarai Barat , Ahyar Abadi Rabu, 22 Juli 2020, pengalaman buruk juga dialami oleh beberapa anggota ASKAWI yang hendak menuju Pulau Padar.

Walaupun sudah mendapat izin dari pihak sahbandar untuk berlayar, mereka tetap dilarang masuk ke Pulau Padar karena tidak menyertakan  bukti booking online.

“Ini tidak manusiawi sekali. Apa urgensinya booking online dengan mereka yang datang ke sana. Kalau orang datang ke Pulau Padar tanpa pakai booking online, kira-kira rugi tidak negara. Kalau sistemnya bagus, pasti kita akan menggunakan itu,” tegasnya.

Selain itu, dengan sistem yang baru ini, kapal Cruise, yang biasa membawa sekitar ribuan tamu ke TNK juga terancam tidak bisa membawa tamu ke TNK. Pasalnya, sistem booking online membatasi jumlah wisatawan.

“Tiga atau empat tahun terakhir ini, kami memuat 1000-an penumpang satu kapal. Dengan pembatasan oleh booking online ini, Cruise juga akan pikir-pikir berkunjung ke Taman Nasional Komodo. Jadi, kami menolak,” kata Sumarlin, perwakilan operator kapal cruise.

Menanggapi tuntutan pelaku wisata, Kepala BTNK, Lukita Awang mengatakan bahwa sistem itu dirancang untuk membatasi kuota atau carring capasity untuk masuk ke wilayah TNK.

Karena masih memiliki banyak kelemahan, pihaknya berjanji akan mengkaji ulang sistem itu.

“Kemarin kami juga mencoba ya. Kok susah. Ini ditunda dulu sekaligus menyempurnakan kembali. Intinya, booking online ini untuk menghindari penumpukan,” katanya saat menerima audiensi pelaku wisata yang menolak sistem tersebut di kantornya Kamis, 23 Juli 2020.

Selain itu, Direktur BOPLBF Shana Fatina menyatakan sitem booking online ini merupakan sistem yang didorong untuk mempersiapkan TNK sebagai destinasi super premium.

“Ini kan sistem baru. Makanya kita uji coba terus. Jangan beranggapan dengan adanya sistem booking online malah menghambat,” katanya.

Selain itu, jelas Shana, dengan sistem booking online akan mempermudah asosiasi dan semua stakeholder untuk mengatur organisasinya sendiri dalam memenuhi prosedur dan standar yang dibutuhkan.

“Posisi booking online ini memperkuat sekali asosiasi,” tambahnya.

Mengingat sistem itu masih baru dan belum jelas, Boe Berkelana, salah satu guide anggota Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Mabar mengingatkan agar sebelum diberlakukan, sebaiknya terlebih dahulu sistem itu disosialisasikan dan meminta pendandapat dari para pelaku pariwisata.

“Tiba-tiba ada satu aplikasi (booking online), kemudian semua wisatawan disuruh daftar, tanpa ada distribusi informasi yang merata antar semua pelaku wisata.”

“Ibarat rumah yang masih disusun batu-batanya tetapi langsung ditinggali,” tambahnya.

Taman Nasional Komodo sendiri menyajikan berbagai atraksi wisata baik darat maupun laut. Destinasi wisata darat terdiri Pulau Komodo dan Rinca sebagai  habitat hewan purba Komodo.

Selain itu, terdapat juga spot menarik lainnya seperti Pulau Padar dan lainnya. Sementara bahari meliputi Pink Beach, dan beberapa spot dive dan snorkling.

Sekitar 70 persen aktivitas wisata berlangsung di wilayah itu. Sementara sisanya di beberapa spot di luar daratan Pulau Flores.

ARJ/Floresa