Yesualdus Jurdin sempat bekerja di perusahan tambang. Ia kini tekun sebagai petani dan peternak. (Foto: Yohanes/Floresa)

Floresa.co – Keringat mengucur kala melintasi jalan menuju kampung Lengko Lolok pada Sabtu, 13 Juni 2020 siang.

Selain disengat panasnya matahari, kondisi jalan berlapis batu yang rusak membuat tubuh dipaksa bergerak-gerak tak beraturan.

Roda sepeda motor yang ditumpangi kadang terperosok dalam lubang bekas erosi dan sela-sela bebatuan yang tak lagi tersusun rapi.

Kampung tua di Desa Satar Punda, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur ini berada di atas bukit, tak jauh dari pantai utara Pulau Flores. Itulah sebabnya, sinar matahari di tempat ini terasa cukup menyengat, meskipun tak sepanas dua kampung tetangga, Serise dan Luwuk yang terletak persis di tepi pantai.

Namun, keramahan warga membuat panasnya mentari seakan-akan tersapu begitu saja.

Yesualdus Jurdin (51) dan keluarga menyapa dengan ramah saat kami memasuki rumahnya.

Obrolan santai dan akrab pun sangat terasa selama satu jam di dalam rumah pertama bagian barat pintu masuk natas (halaman) Kampung Lengko Lolok itu.

Beragam topik mengalir dalam obrolan sambil menikmati suguhan kopi khas Manggarai Timur hingga makan siang masakan Elisabeth Dei (41), istrinya.

Dus, begitu ia disapa, sempat berbagi kisah tentang perjuangannya menghidupi keluarga.

Salah satunya tentang bagaimana ia mengadu nasib jadi buruh tambang dengan gaji tak cukup untuk kebutuhan hidup, hingga kembali bertani sambil beternak sapi lalu bisa membangun rumah.

“Tahun 1999 sampai tahun 2000, saya bekerja di PT Arumbai,” cerita  pria kelahiran Lengko Lolok, 17 November 1969 itu.

Warga setempat menyebut PT Arumbai Manganbekti “perusahan India” karena mereka mengenalnya sebagai perusahan milik orang India.

PT Arumbai kala itu melakukan penambangan mangan di atas tanah ulayat warga Lengko Lolok.

Sama seperti warga lainnya, Dus mencoba mengais rupiah pada investasi yang menjanjikan lapangan kerja itu.

Jika warga lainnya berjemur di bawah terik matahari sambil menghirup debu untuk mengumpulkan mangan, Dus lebih santai di bawah teduhan.

Ia bekerja sebagai penjaga keamanan di basecamp perusahan tersebut yang terletak di Satar Teu, tetangga Kampung Lengko Lolok.

“Saya digaji Rp 150 ribu perbulan. (Itu) tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup,” ujar ayah dua anak ini.

Tahun 2000, usai menikah, Dus hendak dipindahkan ke basecamp lainnya yang berada  di Ketebe, Reo, Kabupaten Manggarai.

Kala itu, ia merasa keberatan  karena harus berangkat kerja di tempat yang semakin jauh, sementara gaji  dari perusahan tersebut semakin sulit untuk memenuhi kebutuhannya.

“Saya memilih untuk mundur dari perusahan, saya mundur dari tambang, kemudian kembali kerja sawah, urus kebun jambu mente dan mulai pelihara ternak,” tuturnya.

Beruntung, ia masih memiliki sawah seluas seperempat hektar di Dampek.

Dari lahan tersebut, ia bisa panen dua kali setahun dengan hasil 24 karung padi setiap kali panen. Hasil panen cukup untuk kebutuhan pangan keluarga, sisanya bisa dijual untuk kebutuhan lainnya.

Tahun 2000 itu juga, Dus mendapat bantuan satu ekor ternak sapi betina.

Bersama istrinya, ia memelihara ternak tersebut dengan baik. Setiap tahun, selama lima tahun berturut-turut, sapi peliharaannya beranak sapi betina.

Sapi-sapi betina tersebut dijadikannya sebagai induk, sehingga ia memiliki enam ekor induk sapi.

Mereka pun semakin tekun beternak sapi, selain bertani sawah dan mengolah kebun. Mereka tidak kesulitan pakan karena kawasan pantura Manggarai Timur ditumbuhi lamtoro. Tanaman tinggi protein ini sangat disukai ternak sapi dan kambing.

Usaha ternak keluarga Dus terus berkembang. Hingga tahun 2016, mereka sudah memiliki 20 ekor sapi. Dan mereka perlahan-lahan menjual sapi peliharaannya dengan harga bervariasi, mulai dari Rp 3,5 juta hingga Rp 9 juta perekor.

Dari hasil penjualan sapi itulah, keluarga Dus membangun rumah permanen pada tahun 2018.

Meskipun rumah tersebut masih belum tuntas, namun ia sudah berhasil menyediakan hunian yang nyaman dan menarik bagi keluarganya.

Ia juga memastikan tabungan bagi kelangsungan pendidikan kedua anaknya yang masing-masing duduk di kelas X SMA dan kelas V Sekolah Dasar.

“Kami sudah merasakan manfaat bertani sambil beternak di Lengko Lolok ini. Kalau tidak tekun bertani sambil pelihara ternak, kami tidak bisa bangun rumah dan sekolahkan anak,” tambah Elisabeth, istrinya.

Yesualdus Jurdin bersama keluarganya di rumah yang berhasil dibangun dari usaha tani dan ternak. (Foto: Yohanes/Floresa)

Usai makan siang, Dus mengajak kami untuk jalan-jalan keliling Lengko Lolok. Tak jauh dari pemukiman warga terdapat sebuah sumur yang dalam.

Beberapa warga sedang mengarahkan ternak untuk minum air dari sumur tersebut. Ada juga yang menimba air menggunakan beberapa jerigen untuk diberikan pada sapi yang diikat jauh dari sumur.

Tampak pula lahan-lahan milik warga dipenuhi tanaman jambu mente dan lamtoro. Di bawah pepohonan lamtoro yang rindang, terlihat ternak sapi dan kambing sedang berteduh sambil makan rumput.

Umumnya, warga Lengko Lolok tidak mengandangkan ternaknya. Mereka biasanya mengikat ternak dengan tali panjang di bawah teduhan dan rerumputan hijau.

Namun ada pula yang membuat kandang sederhana berupa pagar bambu.

Kandang sederhana ini biasa dilakukan untuk sapi-sapi yang hendak beranak, seperti yang dilakukan Gabriel Hasan (66).

Ayah empat anak ini juga merasakan berkah dari ketekunannya beternak sapi. Ia merasa terbantu untuk menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya.

Kini ia memiliki 7 ekor sapi sisa dari penjualannya setiap tahun. Selain beternak sapi, ia juga memiliki 1 hektar kebun jambu mente dengan hasil panen 1,5 ton per tahun.

Kebun jambu mente dan ternak sapi menjadi dua sumber utama yang saling mengisi dalam memenuhi kebutuhan keluarganya.

Jambu mente biasanya panen bulan Oktober hingga Desember setiap tahun, sementara sapi bisa dijual untuk memenuhi kebutuhan ketika uang dari jualan mente sudah terpakai.

“Kalau kita tekun dan rajin, ternak ini sangat membantu,” katanya.

Ternak, jelasnya, bisa menghasilkan uang kapan saja, tidak seperti hasil kebun yang tunggu musim baru bisa panen.

“Keluarga kami sudah merasakannya,” kata Gabriel.

YOHANES/FLORESA