Uskup Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat memberkati Kampung Lengko Lolok dan Luwuk usai ibadah pada Kamis, 11 Juni 2020. (Foto: Ist)

Floresa.co – Uskup Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat, Pr mengunjungi kampung Luwuk dan Lengko Lolok di Desa Satar Punda, Kecamatan Lambaleda, Kabupaten Manggarai Timur pada Kamis, 11 Juni 2020, di mana ia membagikan sembako kepada umat dan dalam khotbahnya saat ibadah mengajak mereka untuk melestarikan tanah.

Kunjungan Uskup Sipri, yang didampingi sejumlah imam merupakan bagian dari kegiatan Posko “Omnia in Caritate” Komisi Karitas Keuskupan Ruteng untuk memberi donasi sembako kepada warga, bagian dari karya karitatif menghadapi pandemi COVID-19.

Dalam kujungan itu ia menyerahkan beras, gula, minyak goreng, sabun mandi, kacang ijo, susu, vitamin dan masker.

“Prioritas pemberian bantuan lebih kepada para janda dan duda tua, orang cacat, orang dalam gangguan jiwa, yang berkekurangan, dan yang kehilangan lapangan pekerjaan,” demikian menurut pihak keuskupan dalam pernyataan tertulis.

Uskup Sipri bersama para imam dan tim dari keuskupan membagikan sembako kepada umat. (Foto: Ist)

Ajak Jaga Lingkungan

Pemberian bantuan sembako itu dirangkai dengan acara ibadat sabda di Kapel Stasi Luwuk, yang digelar dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan, seperti jaga jarak dan mengenakan masker.

Dalam kesempatan itu, uskup, yang berbicara dengan Bahasa Manggarai mengajak umat untuk menjaga lingkungan mereka.

Ia mengingatkan bahwa tanah adalah sumber kehidupan yang perlu selalu dirawat.

“Apa yang sudah diwariskan nenek moyang…diwariskan ke kita untuk dijaga, supaya kehidupan kita lestari sampai selamanya,” kata uskup, yang dikutip dan diterjemahkan Floresa.co dari petikan khotbahnya.

Ia menjelaskan, jangan membiarkan tanah yang sudah diwariskan nenek moyang menjadi rusak.

“Ingat, kita bertumbuh ketika kita merawat semua ciptaan yang Tuhan berikan kepada kita,” kata uskup.

Ia pun mengajak mereka untuk waspada dengan setan, yang ia sebut selalu menggoda.

Uskup mengingatkan mereka perihal kisah setan yang menggoda Adam dan Hawa di Taman Eden, yang mengimingi-imingi mereka dengan janji manis.

Usai ibadat, dalam kunjungan ini, ia juga menanam pohon di depan kapel, yang secara simbolis mengafirmasi pesannya untuk merawat bumi.

Dalam doa sebelum menanam pohon itu, yang juga dalam Bahasa Manggarai, ia menyatakan, “manusia tidak bisa menciptakan tanah.”

“Karena itu, harus menjaga tanah yang diberikan Tuhan Sang Pencipta,” kata uskup yang ditahbiskan pada Maret lalu itu.

“Semua yang kita makan berasal tanah. Dari tanah tumbuh rumput untuk makanan ternak kita, dari tanah tumbuh pohon supaya ada hutan yang meresap  air hujan, dari sanalah sumber air yang kita minum,” kata uskup.

Uskup Sipri menanam pohon di depan Kapel Stasi Luwuk. (Foto: Ist)

Ia juga mendoakan agar Tuhan menjaga mereka, sehingga mereka dijauhkan dari segala malapetaka, bencana alam, termasuk juga pandemi COVID-19.

Kunjungan di Tengah Polemik Tambang dan Pabrik Semen

Kunjungan Uskup Sipri terjadi di tengah menghangatnya polemik tambang batu gamping dan pabrik semen di dua kampung itu.

Dalam kunjungan hari ini, uskup sama sekali tidak menyinggung soal polemik itu, yang saat ini telah melahirkan pro kontra di antara umat.

Gubernur Victor Bungtilu Laiskodat telah menyatakan bahwa ia belum melanjutkan proses izin bagi dua perusahan yang hendak beroperasi di sana, yakni PT Istindo Mitra Manggarai dan PT Semen Singa Merah NTT.

Dalam pernyataannya pada 9 Juni saat sidang di DPRD Provonsi NTT, ia menyatakan, langkah itu dilakukan “karena adanya penolakan dari tokoh agama, tokoh masyarakat dan pemerhati lingkungan serta sebagian masyarakat yang mendiami lokasi.”

FLORESA