Salah seorang bayi penderita stunting dirawat di RSUD dr Ben Mboi Ruteng. (Foto: Ist)

Floresa.co – Data terbaru dari Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai menunjukkan bahwa 7.049 atau 24,81 persen balita di kabupaten itu yang menderita stunting.

Data tersebut berdasarkan hasil pengukuran oleh Dinas Kesehatan pada Februari 2020 terhadap 26.189 balita.

Kabid Kesehatan Masyarakat Dinkes Manggarai, Maria Yasinta Aso mengatakan, seharusnya total balita yang diukur saat itu adalah 28.409 orang, namun keterbatasan peralatan membuat hanya 91,6 persen yang bisa diukur.

Ia menjelaskan, jadwal pengukuran ini sama dengan bulan pemberian vitamin A, yaitu Februari dan Agustus.

“Itu pengukuran panjang badan. Sedangkan penimbangan berat badan dilakukan setiap bulan,” jelas Maria, Selasa, 26 Mei 2020.

“Saat pengukuran bulan Februari itu, kita masih kekurangan alat pengukur sehingga tak semua balita bisa diukur, tapi untuk Agustus nanti, kita sudah bisa ukur semua balita karena sudah ada pengadaan peralatan dari Dinkes dan dana desa,” tambahnya.

Ia menjelaskan, saat ini pihaknya terus berupaya menangani masalah stunting.

Selain oleh Dinkes melalui Puskesmas, kata Maria, penanggulangan stunting juga dilakukan oleh pemerintah desa dan LSM di wilayah itu.

Salah satu lembaga yang terlibat aktif adalah Yayasan Ayo Indonesia, yang pada 25 Juli 2019 dalam kerja dama dengan Pemkab Manggarai menyelenggarakan rembug stunting.

Dalam acara yang dihadiri semua kepala desa di daerah itu, salah satu kesepakatan yang dirumuskan adalah adanya intervensi dana desa untuk stunting.

Kini, perlahan-lahan pemerintah desa memberikan perhatian untuk masalah tersebut.

Di Desa Kakor, Kecamatan Ruteng, misalnya, ada 40 juta dari dana desa tahun 2020 yang dialokasikan untuk penanganan stunting.

Anggaran tersebut terbagi dalam dua kegiatan, yakni Rp 20 juta untuk pemberian makanan tambahan (PMT) dan Rp 20 juta untuk pembuatan empat unit jamban bagi empat keluarga.

Pembuatan jamban dilakukan secara bertahap sesuai ketersediaan anggaran serta urgensitas kegiatan lainnya.

“PMT dan jamban ini penting karena masalah stunting ini selain karena gizi, juga karena sanitasi. Makanya dua hal ini kita berikan perhatian, meskipun dilakukan secara bertahap,” ujar Pjs Kades Kakor, Fransiskus Edison.

Ia mengatakan, total balita stunting di desanya sebanyak 20 orang, yang ditangani oleh kader-kader Posyandu yang sudah terlatih.

Pjs Kades Kakor, Fransiskus Edison. (Foto: Ist)

“Mereka tidak hanya dilatih untuk mengukur balita, tetapi juga dilatih untuk mengolah menu makanan lokal yang bergizi untuk mencegah stunting. Kader-kader kami dilatih oleh LSM Ayo Indonesia,” ujarnya.

Sementara di Desa Poco Likang, Kecamatan Ruteng, penanganan stunting sudah dilakukan sejak 2017.

Pjs Kepala Desa Poco Likang, Pius Paskali mengatakan dana penanganan stunting memang tidak dianggarkan secara khusus, tetapi disatukan dalam kegiatan bidang kesehatan.

Jumlah dana yang disiapkan selama ini berkisar antara Rp 50 juta hingga Rp 62 juta, di mana untuk tahun 2020, pihaknya menganggarkan Rp 60 juta.

“Penggunaannya selain untuk stunting, juga untuk PMT bayi dan ibu hamil serta insentif kader Posyandu. Anggaran dikelolah sendiri oleh kader-kader Posyandu,” ujar Pius.

YOHANES/FLORESA