Bayi Theresia saat dirawat oleh dokter di UGD RSUD Ruteng. (Foto: Ist)

Floresa.co – Theresia, bayi perempuan berusia enam bulan, asal Nterlango, Desa Poco Likang, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, NTT dilarikan ke RSUD dr Ben Mboi Ruteng pada Rabu, 20 Mei 2020 lalu.

Hingga Minggu, 24 Mei, putri ketiga pasangan Bonefasius Batung (36) dan Helmiana Naut (29) ini masih menjalani perawatan.

“Memang kondisinya agak membaik dibandingkan sebelumnya,” ujar Helmiana, Minggu siang.

Pihak rumah sakit belum menjelaskan penyakit yang dideritanya.

Namun Helmiana menuturkan, putrinya yang sakit-sakitan sejak lahir itu merupakan penderita stunting dan gizi buruk.

“Menurut petugas Puskesmas, anak kami ini stunting dan gizi buruk. Dia lahir dengan berat badan 2,8 kilogram. Setelah usia enam bulan, dia hanya enam kilogram dengan panjang badan 53 centimeter,” katanya.

Sejak lahir, Theresia memang tidak pernah minum air susu ibunya (ASI). Jika diberi ASI, ia langsung muntah. Ia hanya bisa mengonsumsi susu formula. Selama satu bulan sejak lahir, ia menangis terus hingga seluruh wajahnya berwarna gelap. Sejak berusia tiga bulan, ia mulai batuk-batuk dan tak pernah berhenti hingga saat ini.

Ia kemudian dilarikan ke rumah sakit karena demam tinggi.

Di rumah sakit, keluarga petani sayur ini sempat kesulitan biaya.

Namun akhirnya tertolong dengan program Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) setelah mendapat surat keterangan tidak mampu dari desanya. Klaim biaya rumah sakit menjadi tanggungan pemerintah daerah setempat.

Petugas Kesehatan Poskesdes Nterlango, Desa Poco Likang, Adelheid Juita mengatakan Theresia merupakan salah satu dari puluhan bayi yang tergolong stunting di desa tersebut.

“Di Desa Poco Likang ada 49 bayi stunting. Kondisi paling parah yakni bayi Theresia,” kata Adelheid.

Ia mengatakan, penanganan bayi stunting memang mendapat perhatian serius dari petugas kesehatan, juga dari pemerintah desa setempat, mulai dari ibu hamil kekurangan energi kronis (KEK) hingga bayi lahir dengan kategori stunting.

Petugas Poskesdes bekerja sama dengan kader Posyandu memberikan edukasi terkait pangan dan gizi keluarga serta memberikan makanan tambahan dari Bantuan Operasional Kesehatan (BOK).

Selain itu, sejak April 2020, mereka mendapat perhatian dari Yayasan Ayo Indonesia melalui pemberian susu kedelai untuk bayi stunting.

Sebelumnya, yayasan tersebut memberikan pelatihan pengukuran bayi stunting dan cara membuat susu kedelai kepada kader-kader Posyandu.

“Untuk bayi-bayi stunting yang konsumsi susu kedelai, memang ada perubahannya. Nafsu makannya bertambah sehingga berat dan panjang badan juga bertambah,” kata Adelheid.

Pjs Kepala Desa Poco Likang Pius Paskali mengatakan penanganan stunting di wilayah tersebut dilakukan sejak 2017.

Pembiayaan program tersebut dianggarkan melalui dana desa untuk bidang kesehatan, di mana jumlah dana yang disiapkan selama ini berkisar antara Rp 50 juta hingga Rp 62 juta. Untuk tahun 2020, pihaknya menganggarkan Rp 60 juta.

“Penggunaannya selain untuk stunting, juga untuk PMT (pemberian makanan tambahan) bayi dan ibu hamil, serta insentif kader Posyandu. Anggaran dikelola sendiri oleh kader-kader Posyandu,” ujar Pius.

Ia mengatakan kondisi stunting di desa tersebut berkaitan erat dengan ketahanan pangan dan gizi.

Meskipun diakuinya bahwa secara umum ketahanan pangan dan gizi di desa itu baik, namun selama masa pandemi Covid-19, mengalami dampak yang nyata.

“Banyak warga kami yang mengalami penurunan drastis penghasilannya. Terutama yang menjadi buruh harian, petani sayur, tukang ojek, pedagang atau papalele, dan sebagainya. Penurunan penghasilan ini tentu berdampak pada pemenuhan pangan dan gizi keluarga,” ujarnya.

Ia berharap, dengan adanya bantuan langsung tunai (BLT) dari berbagai sumber termasuk dana desa, bisa membantu warga dalam pemenuhan kebutuhan keluarga.

YOHANES/FLORESA