Yoseph Agut, OFM. (Foto: Ist)

Oleh: YOSEP AGUT, OFM, imam Fransiskan, sedang studi lanjut di Roma

“Apa yang akan terjadi setelah semua ini berlalu?” Pertanyaan ini mungkin menghantui kita pada masa pandemi Covid-19 ini, ketika  begitu banyak kebiasaan yang berubah; perjumpaan riil berganti perjumpaan virtual, kebiasaan berkerja ‘pergi pagi pulang petang’ berganti ‘kerja dari rumah’, sekolah dari rumah, dan lain-lain.

Mungkin bagi segelintir orang, ini bukan hal yang sama sekali baru karena sudah terbiasa melakukannya. Namun, bagi kebanyakan orang, pandemi ini memberikan efek kejut yang luar biasa, mencemaskan, dan membingungkan.

Yang Terjadi di Gereja?

Gereja tidak luput dari pandemi ini. Hampir dua bulan ini gereja-gereja ditutup, pelayanan-pelayanan sakramental dibatasi, bahkan tidak dapat dilakukan – tentu bukan karena takut, tetapi demi keselamatan bersama. Bentuk pastoral daring (online) digalakkan di setiap keuskupan, seperti Misa online, Doa Rosario online, katekese online. Harapannya, pada masa pandemi ini, umat Allah tetap disapa, walaupun hanya secara virtual. Harapan lainnya, ini bukan untuk gaya-gayaan.

Tentu saja, ada yang hilang pada masa pandemi ini. Tidak terjadi lagi pastoral perjumpaan. Umat tidak lagi menghadiri Perayaan Ekaristi secara utuh. Umat tidak menyambut Tubuh dan Darah Kristus saat komuni, tetapi berganti ‘komuni batin’, yang mungkin mereka sendiri tidak memahaminya. Tidak ada lagi pertemuan dari rumah ke rumah pada Bulan Maria ini. Kegiatan-kegiatan bersama kategorial gereja tidak dapat dilakukan, seperti latihan kor, misdinar, sekar-sekami, dan lain-lain. Bahkan untuk beberapa waktu ke depan, kehadiran umat saat Misa akan dibatasi. Sulit membayangkan kalau hal ini akan berlangsung lama.

Langkah Pastoral Gereja

Apa yang harus dilakukan Gereja sekarang dan pasca Covid-19? Tiga dimensi konstitutif yang perlu diperhatikan sungguh oleh Gereja ketika mulai menata peran pastoralnya, khususnya pada masa pandemi ini, adalah kairologis, operatif, dan kriteriologis (S. Lanza, Opus Lateranum I, 197). Ketiganya melengkapi satu sama lain dan berjalan beriringan.

Gereja perlu sungguh-sungguh merefleksikan situasi pandemi ini dalam terang iman. Inilah saat berahmat (dimensi kairologis/kairòs) bagi Gereja, saat untuk membaharui dan merefleksikan kehadirannya di tengah dunia. Analisis dan penilaian secara objektif atas situasi pandemi dan dampaknya bagi umat perlu dibuat dalam pertemuan pastoral, agar keputusan yang diambil menyapa semua orang. Gereja perlu membaca atau berefleksi, dalam kacamata iman, situasi saat ini sebagai tanda-tanda zaman (bdk. Mat. 24,3-13).

Sebagai contoh, mungkin saja refleksi awal yang perlu ditawarkan adalah tentang pentingnya relasi yang harmonis-organis dengan seluruh ciptaan. Virus ini menjadi “akibat tragis” dari aktivitas manusia yang tak terkendali atas ciptaan lain. Bahwa tindakan cuci tangan, menggunakan masker, jaga jarak, tidak keluar rumah, bukan semata-mata mencegah agar tidak ikut tertular virus, bukan pula untuk menjauhkan kita dari sesama di sekitar kita, tetapi lebih dari itu, untuk menjaga relasi yang harmonis dengan sesama manusia dan segenap makhluk ciptaan.

Tidak perlu terburu-buru mengembangkan pelayanan online, agar tidak terkesan ‘latah’.  Pelayanan model itu tidak salah, tetapi dapat saja akan mengaburkan iman umat. Dapat terjadi, orang makin tidak peduli dengan sesama dan lingkungannya. ‘Tinggal di rumah saja, yang penting diriku aman, toh bisa ikuti misa online’. Lantas, apakah ia memahami makna terdalam kehadiran Kristus dalam Ekaristi dan aspek communio dalam Ekaristi? Apakah ia memikirkan orang miskin di luar rumahnya yang masih mencari sesuap nasi? Dan lain-lainnya.

Karena itu perlulah tindak pastoral yang tepat (dimensi operatif). Keputusan untuk bertindak diambil tidaklah bersifat reaktif dan bersifat sementara. Hal itu sekaligus memproyeksikan beragam kemungkinan yang mungkin muncul pada masa mendatang. Salah satu prinsip dalam tindak pastoral itu adalah ia menyapa semua orang, tanpa terkecuali. Sebagai contoh, pada masa awal mungkin kegiatan karitatif (membantu umat yang terdampak) perlu digalakkan; atau, pewartaan online menjadi pilihan saat pandemi terjadi. Apa yang dibuat setelahnya?

Gereja perlu beradaptasi secara kritis. Artinya, tanpa meninggalkan peran kenabian,  gereja perlu menilai secara kritis dampak gerejawi (=pewartaan) dari pandemi ini. Ada kriteria-kriteria eklesial (dimensi kriteriologis) yang perlu diperhatikan, yang sifatnya bukan abstrak dan statis, tetapi konkrit dan dinamis. Dengan kriteria itu, Gereja bertindak dan terus menerus membaharui diri, sekaligus melihat kembali model pelayanan dan pewartaannya (verifikasi).

Ada begitu banyak prinsip hidup menggereja yang dapat diadaptasi pada masa pandemi ini: solidaritas, karitas, persekutuan, fraternitas, subsidiaritas. Semua kriteria itu tetap dipertahankan karena merupakan nilai-nilai luhur Gereja. Kriteria utama dari tindakan pastoral Gereja adalah mencari dan menemukan yang hilang, dan “… seperti Bapa di sorga yang tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang” (Mat. 18:12-14).

Gereja yang Optimis sekaligus Adaptif

Kita perlu optimis. Pandemi mulai terasa di awal-awal masa Prapaskah. Kita berpuasa, berpantang, dan berdoa demi keselamatan dan demi berakhirnya pandemi corona ini. Kita tiba pada masa Paskah, tetapi pandemi tidak juga berakhir, bahkan mencapai puncaknya. Seperti kata Paus Fransiskus, kita jangan menjadi orang kristiani yang hidupnya seperti Masa Prapaskah tanpa Paskah. Momen kebangkitan Kristus menjadi awal bagi kita untuk bangkit dari keterpurukan akibat corona.

Kita menatap masa depan dengan rasa optimis bahwa ada sesuatu yang ditawarkan di masa mendatang. “Sukacita menyesuaikan diri dan berubah, tetapi sekurang-kurangnya tetap, bahkan seperti secercah cahaya yang muncul dari keyakinan pribadi bahwa dirinya dicintai tanpa batas, melebihi segalanya,” kata Paus Fransiskus (Evangelii Gaudium, 6). Kita perlu menafsirkan dengan cara baru apa arti Gereja dengan pintu terbuka dan Gereja yang bergerak keluar.

Saatnya Gereja beradaptasi dengan situasi. Setelah masa pandemi ini berlalu, kita tidak kembali ke kehidupan seperti sebelum virus ini menghampiri. Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in, menyebut bahwa, “Kita sekarang telah beralih memasuki kehidupan normal baru (new normal) di mana tindakan pencegahan terhadap virus dan aktivitas sehari-hari harus berjalan beriringan”. Ya. Kita akan memasuki fase kehidupan normal, dengan banyak hal baru. Efektivitas dan efisiensi akan lebih menonjol. Dalam bahasa Presiden Jokowi, kita perlu berdamai dengan virus corona ini.

Gereja, keuskupan dan paroki, seperti juga semua orang, akan memasuki masa-masa transisi yang serba baru. Kita yakin bahwa situasi akan normal kembali, tetapi akan ada banyak hal baru. Gereja perlu membenahi diri pada situasi ini.

Seperti geliat arus komunikasi dan dampak pandemi yang cepat ini, gereja pun harus sesegara mungkin menata kembali fungsi dan perannya. Tentunya, bukan untuk ‘gaya-gayaan’ tetapi demi efektivitas dan efisiensi pelayanan.

Gereja tidak ‘mati gaya’ dan tidak sedang ‘gaya-gayaan’ dengan beragam model pelayanan dan pewartaan online. Gereja masih akan terus hidup selama kita menyadari dengan sungguh bahwa keindahan dan keagungan semesta dan seluruh ciptaan adalah tanda jejak kaki Allah. Kita berharap masa pandemi ini segera berakhir, dan dengan optimis kita menatap kebaruan langit dan bumi, melalui sikap dan langkah-laku kita yang baru pula.