BerandaARTIKEL UTAMAPengetatan Akses ke Manggarai:...

Pengetatan Akses ke Manggarai: Dari Soal Jenazah Hingga Camat Lembor yang Mengamuk

Ruteng, Floresa.co – Video viral beredar di jagat maya pada Sabtu, 16 Mei 2020. Dari video tersebut tampak terjadi keributan di Posko Pencegahan Covid-19 di sekitar perbatasan bagian barat Kabupaten Manggarai.

Posko milik Pemkab Manggarai itu terletak jalur utama jalan trans Flores. Lokasi tepatnya di Desa Benteng Redo, Kecamatan Lelak, Kabupaten Manggarai.

Tampak dalam video tersebut, Camat Lembor Pius Baut beradu mulut dengan Kepala Desa Benteng Redo Leonardus Levinal. Selain adu mulut keduanya, tampak juga puluhan warga yang ikut-ikutan.

Namun petugas keamanan posko berhasil melerai kedua pemimpin dari wilayah bertetangga itu dengan menyuruh keduanya menjauh dari portal posko.

Floresa.co yang tiba di lokasi pada Sabtu siang menyaksikan kondisi posko sudah kembali normal.

Petugas posko menghentikan satu dua kendaraan yang masih melintas untuk memeriksa suhu tubuh dan surat-surat perjalanan bagi penumpang. Sedangkan warga perbatasan yang bepergian ke sekitar kawasan posko dibiarkan melintas tanpa pemeriksaan.

Kepala Puskesmas Lelak Wili Dugis yang juga menjaga posko tersebut mengatakan petugas posko tak mengetahui sebab-sebab terjadinya keributan tersebut.

Ia mengatakan, sejak beroperasinya posko, warga Manggarai Barat dan Manggarai yang berdomisili di sekitar posko mendapat perlakuan khusus berupa bebas akses agar tak mengganggu aktivitasnya.

Baca: Tak Hanya di Weri Pateng, Wilayah Manggarai Juga Dikunci di 8 Titik Lainnya

Meski ada pengetatan dan pembatasan pelaku perjalanan, posko juga memberlakukan beberapa pengecualian sesuai instruksi Bupati Manggarai Deno Kamelus.

Ia juga menuturkan, pada Sabtu pagi, sebuah mobil pengangkut jenazah dari RSUD Ruteng  berhenti sekitar 20 meter dari portal posko. Saat petugas mempersilahkan untuk melintas, sopirnya menolak.

Si sopir mengatakan dirinya sudah bersepakat dengan keluarga duka untuk menjemput jenazah di lokasi posko tersebut.  Tak lama kemudian, mobil penjemput jenazah dari pihak keluarga duka pun datang dan jenazah tersebut berganti kendaraan.

Sekitar satu jam kemudian, beberapa warga Kecamatan Lembor, Manggarai Barat datang ke lokasi posko. Kemudian Camat Lembor Pius Baut juga datang. Pius datang sambil marah-marah.

“Dia suruh bongkar posko karena menurut pengakuannya, posko ini dibangun di atas wilayah Manggarai Barat. Kami tidak mau bongkar sebelum ada perintah dari Bupati Manggarai,” ujar Wili Dugis.

Saat itu pimpinan wilayah dari pihak Kabupaten Manggarai yang ada di lokasi hanya Kepala Desa Benteng Redo Leonardus Levinal. Karena itu, Leo meminta Camat Pius Baut untuk tidak marah-marah sambil menunggu utusan Bupati Manggarai.

“Dia marah-marah. Saya bilang tunggu pemimpin kami untuk bicarakan dengan baik-baik, tanpa harus ribut-ribut. Pak Camat bentak saya sambil bilang, ‘saya mewakili Bupati Manggarai Barat, oh saya juga bilang, ‘saya di sini mewakili Bupati Manggarai’ tapi tolong bicarakan baik-baik,” tutur Leo.

Kepala Desa Benteng Redo Leonardus Levinal/Floresa

Leo membantah pernyataan Pius terkait klaim wilayah. Leo mengatakan posko dibangun di atas wilayah desanya yang merupakan bagian dari Kabupaten Manggarai.

Namun Leo tidak ingin meributkan soal wilayah. Baginya, posko tersebut merupakan upaya kemanusiaan untuk melindungi siapa pun dan dari wilayah kabupaten mana pun agar terhindar dari wabah corona.

“Ini pos kemanusiaan. Kenapa pos kemanusiaan? Karena disadari bahwa pandemi Covid-19 ini merupakan masalah internasional. Bukan saja lokal, tetapi internasional. Sehingga kewaspadaan dan kepedulian terhadap pandemi ini disiapsiagakan oleh semua kita,” ujar Leo.

Setelah keduanya ribut-ribut, Sekda Mangggarai Fansy Jahang tiba di lokasi lalu berunding dengan Camat Lembor. Fansy menawarkan agar posko yang sudah ada dijadikan posko bersama. Namun Camat Lembor menolak. Perundingan berakhir tanpa ada kesepakatan.

Sekda Fansy Jahang kembali ke Ruteng, Camat Lembor melintasi posko untuk pergi ke Paang Lembor, perkampungan warga Manggarai Barat yang terletak di bagian timur posko.

Menjelang sore, Camat Lembor yang menggunakan mobil dinas hilux warna putih datang dari arah Paang Lembor berhenti di posko. Mobil tersebut diparkir di tengah jalan, di bawah portal.

Baca: Per 16 Mei, Kasus Positif Covid-19 di NTT Jadi 59: Terbanyak di Sikka, Kota Kupang dan Mabar

Ditemani beberapa pria berbadan tegap dan seorang pria mengenakan kaos bertuliskan Pol PP Mabar, ia turun dari mobil dan menghampiri petugas posko. Namun petugas posko tak mau merespon. Saat itu, wartawan langsung menghampiri Camat Pius untuk wawancara.

Pius menuturkan dirinya datang ke posko untuk menolak keberadaan posko tersebut. Ia beralasan, posko tersebut telah mengganggu kebebasan warganya. Keberadaan posko telah menghalangi warga Manggarai Barat untuk leluasa bepergian ke mana-mana.

“Saya harus datang. Supaya masyarakat bisa leluasa ke mana-mana. Ke terminal, ke pasar, ke rumah sakit, dan seterusnya. Itu yang terjadi sehingga ada suara tinggi dan lain-lain tadi,” tegas Pius.

Kebebasan warga, kata dia, merupakan amanat undang-undang. Undang-undang lah yang harus dijunjung tinggi, bukan sekedar keputusan bupati mana pun. Itulah sebabnya ia berteriak-teriak saat terjadi keributan di posko.

“(Saya) berteriak untuk masyarakat. Berteriak demi aturan. Bukan aturannya saya. Aturan negara ini. Bukan aturannya bupati, di mana pun. Aturan negara ini. Undang-undang di atas segalanya.”

Ia mengatakan pihaknya sudah memerintahkan warga Paang Lembor untuk membangun posko di bagian timur kampung Paang Lembor. Posko tersebut mulai beroperasi Minggu, 17 Mei 2020.

Mengingat posko tersebut segera beroperasi, Pius meminta agar petugas posko dari Manggarai harus mengantongi surat-surat kelayakan perjalanan agar tidak ditahan di posko Pemkab Manggarai Barat.

“Kami harus sampaikan bahwa mulai besok kami sudah harus bertugas di pos Manggarai Barat. Sehingga bapak-bapak yang datang, tolong lengkapi diri dengan syarat-syarat. Supaya bapak-bapak tidak pulang lagin ke Ruteng,” ujarnya lalu pergi meninggalkan posko.

Yohanes/Floresa

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

Begini Cara Buat Kandang Babi Sederhana, Tapi Bebas Bau dan Lalat

Floresa.co - Sebagian besar keluarga di Nusa Tenggara Timur (NTT) memelihara babi....

Walhi NTT Ingatkan Pemerintah Berhenti Khianati Mandat Cagar Biosfer TN Komodo

“TN Komodo yang telah berjalan 42 tahun gagal untuk menjalankan tiga mandat utama cagar biosfer yakni pelestarian keanekaragaman hayati/satwa, peningkatan kesejahteraan ekonomi rakyat dengan mekanisme ekonomi ramah lingkungan dan berkeadilan dan pemuliaan kebudayaan rakyat,” kata Walhi NTT

Potret Sejarah Manggarai dalam Sejarah Nusantara: Sebuah Studi Literatur

Catatan editor: Tulisan ini merupakan karya dari Vianney Andro Prasetyo, seorang...

Polisi yang Kembali dari Labuan Bajo Usai Kawal Aksi Mogok Kecelakaan

Sumber Floresa.co di Waelengga mengatakan, bus bernomor polisi EB 7004 DK tersebut terbalik di Teku Teang, arah barat Waelengga sekitar pukul 20.00 Wita.

Mengolah Kemiri Agar Harganya Selangit

Oleh: F RAHARDI Provinsi Nusa Tenggara Timur,khususnya Pulau Flores, Pulau Adonara, Pulau Solor...

Babi Makin Tambun, Dompet Anda pun Bertambah Tebal

Floresa.co - Selain kandang, aspek yang tak kalah penting ketika memelihara babi...

Motang Rua: Kisah Heroik Pahlawan Manggarai (1)

Floresa.co - Nama Motang Rua, yang lahir tahun 1860, sudah tak...

Hari Pertama Aksi Mogok Pariwisata di Labuan Bajo: Pegiat Wisata Ditangkap dan Dipukuli Aparat, Situasi Mencekam

Suasana kota tidak ramai seperti biasanya, di mana bandara sepi dan pelabuhan tidak beroperasi. Wisatawan yang tiba di Bandara Komodo Labuan Bajo terpaksa dijemput dengan angkutan umum yang dikendarai polisi.