DF, pelayan kafe di Ruteng yang sebelumnya mengaku dianiaya muncul dalam sebuah video yang diunggah di Facebook pada Jumat, 15 Mei 2020, di mana ia meminta maaf kepada pemilik kafe dan publik. (Foto: Ist)

Floresa.co – Setelah kasus penganiayaan yang dialaminya dipublikasi, pelayan di Kafe Sky Garden di Ruteng, Kabupaten Manggarai tiba-tiba muncul dalam sebuah video yang diunggah di Facebook Jumat, 15 Mei 2020, di mana ia menyampaikan permintaan maaf kepada pemilik kafe dan publik.

Dengan suara terbata-bata DF, perempuan asal Sukabumi, Jawa Barat itu mengatakan, “selaku pribadi,” ia meminta maaf “kepada dua pihak yang telah saya kecewakan.”

“Yang pertama kepada pihak Sky Garden, terlebih khusus kepada Bapak Hans dan Mama Yen,” katanya, merujuk pada suami isteri pemilik kafe itu.

“Saya minta maaf yang sebesar-besarnya (karena) sudah melibatkan mama dan papa atas apa yang saya perbuat,” lanjut DF dalam video yang diunggah di akun dengan nama Gipi Rumet itu.

Yang kedua, kata dia, ia meminta maaf kepada semua orang yang telah membaca artikel tentang peristiwa yang ia alami.

“Saya ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya dan saya ingin meluruskan kronologis (peristiwa) yang terjadi beberapa hari lalu,” katanya.

Dalam video itu, ia menuturkan memiliki hubungan khusus dengan Dodi Nardus Yansen, manajer kafe itu, yang sebelumnya ia tuding ikut menganiayanya.

“Jujur, saya memiliki hubungan khusus dengan Dodi, kata lainnya berpacaran,” katanya.

“Kenapa terjadi hal konyol seperti ini, karena itu kesalahan saya sendiri, yang terlalu cemburu dengan Dodi,” tambahnya,

Ia mengatakan, telah “menunjukkan rasa cemburu saya dengan emosial yang ternyata berujung tak baik adanya.”

“Karena emosi saya yang terlalu mendalam dan terlalu berlebihan, itu yang membuat diri saya melibatkan orang lain,” ungkap DF.

BACA: Pelayan Kafe Sky Garden di Ruteng Mengalami Luka Setelah Dianiaya

Dikonfirmasi Jumat sore mengapa kemudian tiba-tiba meminta maaf, meski ia sendiri sempat berencana melapor kasus ini kepolisi dan akan berdiskusi terlebih dahulu dengan keluarganya di Sukabumi, DF mengatakan, tidak ada pihak yang memaksanya.

“Tada unsur paksaan. Mama, juga papa sangat baik. Saya saja yang terlalu cepat ambil jalan pintas,” katanya.

“Mama tidak tahu kalau saya ada hubungan kusus sama Dodi dan semua masalah yang sudah terjadi akibat saya mabuk dan cemburu,” tambahnya.

Kasus penganiayaan yang dialami DF diberitakan Floresa.co, Kamis kemarin dan memantik banyak reaksi publik.

Di halaman Facebook resmi Floresa.co, sejumlah pembaca meminta agar Polres Manggarai turun tangan menanganai masalah ini, mengingat ini bukan delik aduan.

Floresa.co mengetahui kasus ini setelah beberapa hari lalu dihubungi keluarga DF di Sukabumi via email, di mana mereka meminta bantuan untuk mengungkap kasus ini.

DF dalam wawancara Kamis kemarin menjelaskan, peristiwa penganiayaan itu terjadi pada Senin, 11 Mei sekitar pukul 17.00 Wita, saat ada lima tamu yang mendatangi kafe.

Ia mengatakan, para tamu itu kemudian diterima oleh Dodi, di mana mereka diberitahu bahwa selama masa pandemi Covid-19 ini kafe ditutup dan bila ada tamu maka mereka hanya bisa minum di halaman kafe.

DF mengatakan, saat itu, ia bersama rekan-rekannya ikut menemani tamu-tamu itu minum.

Karena mabuk, akunya, ia lalu masuk ke kamar untuk istirahat.

Tiba-tiba, kata dia, salah seorang dari tamu itu memasuki kamarnya dan menjamahnya.

“Saya bangun dan menolak dia, lalu saya lari keluar dengan tujuan untuk melaporkan kejadian itu kepada manajer,” jelasnya.

“Namun manajer langsung pukul kepala saya di bagian belakang. Saya jatuh. Suami pemilik kafe juga ikut pukul saya, lalu mereka seret saya masuk kamar,” tambah DF.

Akibat pemukulan tersebut, ia mengaku mengalami sakit pada kepala bagian belakang dan beberapa luka memar masih terlihat di bahu, lengan kanan dan kedua lututnya.

Dodi, yang dilaporkan sudah beristeri sempat dikonfirmasi Floresa.co kemarin, di mana ia menampik memukul DF.

Sementara itu, Yeyen, pemiliki kafe dalam wawancara kemarin mengatakan tidak tahu tentang masalah tersebut.

“Saya tidak tahu, kalau saya tahu, yang pasti saya laporkan mereka ke polisi,” katanya.

ENGKOS PAHING/FLORESA