DF, seorang perempuan pelayan di Kafe Sky Garden Ruteng mengalami luka di beberapa bagian tubuhnya setelah dianiaya beberapa orang, termasuk manajer kafe. (Foto: Floresa)

Ruteng, Floresa.co – Seorang perempuan yang bekerja sebagai pelayan di Kafe Sky Garden di Ruteng, Kabupaten Manggarai mengalami luka di beberapa bagian tubuhnya setelah mengaku dianiaya oleh beberapa orang, termasuk manajernya.

Ditemui Floresa.co, Kamis, 14 Mei 2020 di kafe itu, pelayan berinisial DF yang berasal dari Sukabumi, Provinsi Jawa Barat itu mengatakan, peristiwa penganiayaan itu terjadi pada Senin, 11 Mei.

Floresa.co mengetahui kasus ini setelah dihubungi keluarganya di Sukabumi via email, di mana mereka meminta bantuan untuk mengungkap kasus ini.

DF menjelaskan, peristiwa penganiayaan itu terjadi sekitar pukul 17.00 Wita, saat ada lima tamu yang mendatangi kafe. Salah satu di antara tamu itu adalah suami dari pemilik kafe.

Ia mengatakan, para tamu itu kemudian diterima oleh manajer kafe, Dodi Nardus Yansen, di mana mereka diberitahu bahwa selama masa pandemi Covid-19 ini kafe ditutup dan bila ada tamu maka mereka hanya bisa minum di halaman kafe.

DF mengatakan, saat itu, ia bersama rekan-rekannya ikut menemani tamu-tamu itu minum.

Karena mabuk, akunya, ia lalu masuk ke kamar untuk istirahat.

Tiba-tiba, kata dia, salah seorang dari tamu itu memasuki kamarnya dan menjamahnya.

“Saya bangun dan menolak dia, lalu saya lari keluar dengan tujuan untuk melaporkan kejadian itu kepada manajer,” jelasnya.

“Namun manajer langsung pukul kepala saya di bagian belakang. Saya jatuh. Suami pemilik kafe juga ikut pukul saya, lalu mereka seret saya masuk kamar,” tambah DF.

Akibat pemukulan tersebut, ia mengaku mengalami sakit pada kepala bagian belakang.

Beberapa luka memar di bahu, lengan kanan dan kedua lututnya juga masih tampak dengan jelas.

Dikonfirmasi di tempat yang sama, Dodi mengklaim bahwa dirinya tidak memukul korban.

“Saya tidak pukul, hanya melerai mereka berkelahi saja,” katanya.

Sementara itu, Yeyen, pemiliki kafe mengatakan tidak tahu tentang masalah tersebut.

“Saya tidak tahu, kalau saya tahu, yang pasti saya laporkan mereka ke polisi waktu itu,” katanya.

DF mengaku bekerja di kafe itu sejak Juni tahun lalu dan semenjak kasus ini relasinya dengan pihak manajer sudah kurang baik.

Ia mengatakan berencana membawa kasus ini ke polisi. “Saya punya niat untuk lapor persoalan ini, tapi sebelum saya lapor, saya konfirmsi dengan orangtua di Sukabumi dulu,” katanya.

Tempat hiburan Kafe Sky Garden sempat menjadi bahan pemberitaan tahun lalu, ketika dua orang anak di bawah umur, masing-masing berusia 13 dan 15 tahun, yang berasal dari Jawa kabur dari tempat itu karena merasa dijebak.

BACA: Kisah Pelarian Remaja Asal Jawa yang ‘Dijebak’ Jadi Wanita Penghibur di Ruteng

Menurut pernyataan polisi yang ketika itu menangani kasus ini, saat direkrut, kedua gadis itu mengakui diiming-imingi untuk menjadi pelayan restoran, tetapi saat bekerja di kafe itu mereka dipaksa menjadi wanita penghibur.

ENGKOS PAHING/FLORESA

Simak juga berita lanjutan kasus ini: Pasca Kasus Penganiayaannya Dipublikasi, Pelayan di Kafe Sky Garden Minta Maaf