Wilfrid Babun, SVD: Covid-19 ini tidak hanya menjadi perbincangan dan juga perdebatan di dunia publik. Episentrum kehidupan rohani kita pun hari-hari ini teruji betul. (Foto: Ist)

Oleh: WILFRID BABUN, SVD, seorang imam, tinggal di Ruteng

Covid19. Dia bagai seorang gadis seksi yang lagi manggung. Panggungnya itu dengan sangat mudah digelarnya di mana-mana. Ke mana dia mau, suka-suka dia. Pentasan tunggal, lakonnya horor. Semua mata diharuskannya untuk tidak kedip, menatap dalam diam seribu bahasa. Satu panggung kematian! Makanya, bikin panik. Dunia berisik. Manusia, siapa pun dia, menggigil di satu sudut ruang kosong eksistensial. Batinnya duduk terpekur sambil berkalkulasi tentang apa arti semuanya ini! Apakah usianya betul 19 tahun? Entahlah. Saya juga tidak mau pusing untuk cari tahu.

Mungkin seperti saya, anda juga lagi makan gigi. Kita pun berguman sendiri, Corona pergilah ke neraka bersama racun-racunmu!” Saya tidak tau, apakah mbak Google pun masih berani menjawab. Kalau betul seksi dan berusia 19 tahun, corona itu parasnya persis bagaimana? Perilakunya yang mengerikan ini membuat temanku menyindir. “Corona jenis kelamin apa? …Banci!” Ah, itu tidak etis. Ada yang lucu, tetapi terbanyak ada linang air mata menggumpal di hati. Mengapa tidak? Ada banyak nyawa melayang disambar petir Corona siang malam.

“Menangislah maka kau akan menangis sendiri. Tertawalah, maka dunia akan tertawa bersamamu” (Maurus: Anekdot Orang-orang Besar, hlm.v). Anekdot itu juga perlu dan terkadang penting sebagai pembersihan jiwa. Katarsis. Lagak Covid-19 yang mematikan itu menyedot perhatian dan energi sosial manusia yang menghuni planet bumi ini. Negara-negara pun bahu membahu menyingsingkan lengan baju, bekerja sama. Ruang publik pun disesaki dengan berbagai informasi, dari yang menghibur tetapi juga ada yang mengibul. Kerja hebat teknologi komunikasi menjadikan dunia ini segitu simple. Cerita di dunia yang satu bisa dengan sangat mudah kita akses. Seorang mama tua di kampung bilang ke anaknya di belahan dunia lain, “Eh kau tidak perlu datang. Kau punya muka beta su lihat na. Apalagi sekarang ada penyakit kodorona.” Cucunya menjawab: ‘Bukan kodorona nenek! Corona!’

Covid-19 yang kecil itu menggegerkan dan menggelisahkan dunia. Berita aktual kasus positif Corona di 10 negara dengan kasus tertinggi pun bisa kita baca: Amerika Serikat sudah 305 ribu, Italia 119 ribu, Spanyol 117 ribu, Jerman 85 ribu, RRT 83 ribu, Perancis 63 ribu, Iran 53 ribu, Inggris 38 ribu, Turki 20 ribu, Swiss 19 ribu’ (Times.com). Kini, menjadi urgen membangun gerakan solidaritas mengusung kemanusiaan lintas negara. Corona juga berhasil mengakrabkan kembali, biar sejenak, dua sahabat yang lagi konflik. Bersatu itu memang indah. Itu semua kita tahu dalam tempo sekejap. Dunia ini terasa kecil. Itulah global village versi Marshall MacLuhan. Covid-19 yang kecil itu seakan mengecilkan dunia dan manusia. Kita berhimpit-himpit di lorong sunyi seraya menunggu: entah lonceng maut atau dentang gereja yang pintunya tertutup rapat di hari-hari ini. Takut virus.

Covid-19 yang seksi itu mengharuskan pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial  Berskala Besar (PSBB). Ada upaya serius preventif menekan lonjakan jumlah pasien penyakit ini di Indonesia. Saya kira, dia yang sedikit tidur di hari-hari sulit ini adalah Pak Joko Widodo: Presiden kita yang ramping, tetapi tegar! Slogan:’kerja, kerja, kerja’ nampaknya signifikan, hic et nunct (kini dan di sini).

Homo Orans

Covid-19 ini tidak hanya menjadi perbincangan dan juga perdebatan di dunia publik. Episentrum kehidupan rohani kita pun hari-hari ini teruji betul. Ramadhan dilaksanakan dalam sunyi. Gereja-gereja juga demikian. Azan terdengar jauh dari rumah. Lonceng Gereja samar-samar membelah sunyi. Mendekat ke mesjid kita cemas. Ke halaman gereja pun kita jadi mawas. Padahal, kita butuh simbol dalam hidup. Dekat dengan sesama, kita saling jabat tangan. Saling menguatkan. Sekarang? Dia yang kita imani itu terasa sangat jauh. Menyebut namanya yang kudus, lidah terasa kelu. Ke langit kita kibarkan suara, Selamatkan jiwa kami. Kita berlama-lama di kesunyian diri. Entah untuk apa? Membunuh waktu? Tapi, sampai kapan?

Pada tanggal 27 Maret 2020, umat Katolik seluruh dunia berdoa bersama Paus Fransiskus, memohon berkat perlindungan dari Allah atas merebaknya wabah penyakit: “Lindungilah dan peliharalah kami agar segera terbebaskan dari wabah virus corona. Anugerahkanlah kesembuhan bagi semua yang terjangkit, berilah istirahat kekal kepada mereka yang berpulang dalam damaiMu,” demikian doa publik Paus Fransiskus saat  memberikan berkat ‘urbi et orbi’.

Berkat apostolik Bapa Suci ini sifatnya universal: “Bantulah para tenaga medis, para dokter dan perawat, para relawan dan saudara yang merawat pasien agar mereka tabah dan tegar dalam upaya mereka membantu sesama. Jagalah mereka dan seluruh sanak saudaranya agar tetap sehat dan aman sentausa.”

Juga ada doa untuk para pemimpin bangsa dan agama: Agar mereka mampu mengambil langkah-langkah yang bijaksana dan efektif dalam menangani wabah virus corona dan  dampak-dampaknya. Semoga mereka mampu melibatkan seluruh warga untuk bersatu padu meningkatkan kepedulian dan solidaritas serta mengambil sikap yang tepat.” Lalu ada litani doa, juga untuk Santa Corona: “Santa Corona dan santo Viktor: doakanlah kami!”

Pasti banyak lantunan doa yang kita persembahkan di berbagai kesempatan, oleh berbagai pihak terkait pandemi Covid-19. Saya teringat puisi Chairil Anwar ini: Doa.

‘Tuhanku/ dalam termangu Aku masih menyebut nama-Mu/ Biar susah sungguh, mengingat Kau penuh seluruh/ CahayaMu panas suci/ tinggal kerlip lilin di kelam sunyi/ Tuhanku, aku hilang bentuk/ Remuk/…/ Tuhanku di pintu-Mu aku mengetuk/ Aku tidak bisa berpaling’.

Hari-hari ini memang kita sedang khusuk mengetuk dan berpaling kepada Sang Kalik, sebagai homo orans sekaligus homo faber. Ora et labora!