Floresa.co – Ada banyak alasan bagi kita untuk takut pada penyebaran Covid-19. Selain karena ganasnya virus itu sendiri, juga karena fasilitas kesehatan kita yang masih jauh dari memadai. Jangankan di daerah-daerah, di Jakarta sendiri, pusat ibu kota negara, fasilitas kesehatan masih memprihatinkan.

Namun, kita di Nusa Tenggara Timur (NTT) masih bisa bersyukur bahwa kita memiliki potensi alami untuk menangkal penyebaran virus ini.

Himbauan untuk jaga jarak bukanlah suatu yang sulit dilakukan, melainkan sudah menjadi bagian dari diri dan dinamika masyarakat kita.

Hal itu dikarenakan, konteks NTT, sebagian besar masyarakat tinggal di kampung, sementara kepadatan penduduk di kota-kota kabupaten relatif sedikit.

Di Kecamatan Komodo misalnya, yang adalah kecamatan paling padat di Kabupaten Manggarai Barat, kepadatan penduduknya sekitar 65 orang/km persegi. (BPS 2016).

Bandingkan dengan Jakarta, yang kepadatan penduduknya sekitar 15 ribu orang/km persegi.

Jaga jarak organik itu bisa kita lihat dalam beberapa kenyataan berikut.

Pertama, berbeda dengan kota-kota besar, jarak antara rumah di kampung relatif berjauhan. Masing-masing rumah masih punya halaman yang luas, sedemikian sehingga potensi interaksi antarindividu relatif jauh lebih rendah ketimbang masyarakat di kota-kota besar.

Kedua, jarak antarkampung/desa juga berjauhan. Imaginasi penyebaran penyakit di kota tidak berlaku di daerah-daerah di NTT. Jarak antar satu kampung dengan kampung yang lain masih berjauhan.

Bahkan di antaranya, masih banyak yang tidak terhubung dengan jalan beraspal, tetapi dengan jalan kaki.

Ketiga, lalu lintas kendaraan dan mobilitas warga terbatas. Di antaranya karena infrastruktur jalan yang masih rusak parah. Jalan-jalan ke kampung-kampung relatif rusak dan menghambat lalu-lintas manusia dan kendaraan.

Keempat, warga mengenal satu sama lain dalam satu kampung/desa. Komunitasnya relatif kecil. Karena itu, munculnya orang baru bisa dideteksi dengan mudah dan diawasi bersama untuk melaksanakan karantina mandiri.

Kelima, pertanian skala kecil masih dihidupi dan dilakukan. Orang-orang punya kebun untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti sayur mayur dan kebutuhan akan makanan pokok. Apalagi gaya hidup kita yang mudah menyesuaikan dengan kondisi serba-kurang.

Masih banyak alasan lain.

Potensi seperti itu adalah modal dan kekuatan di tengah segala kekurangan fasilitas kesehatan maupun melesatnya potensi penyebaran virus.

Kita perlu mengenalnya dan mengambil tindakan untuk mengoptimalkannya.

Karena itu, langkah-langkah untuk melindungi kampung baik dari maupun ke kampung lain, bisa dilakukan sedetail mungkin. Kampung atau desa yang sudah terkena, bisa di-lockdown sementara. Sementara, semangat solidaritas dan gotong royong kita bisa membantu mereka yang terpapar.

Selebihnya, kita mengambil langkah-langkah antisipasi yang lain.

GREG/FLORESA