Bupati Manggarai Timur, Andreas Agas. (Foto: Ist)

Floresa.coBupati Manggarai Timur, Andreas Agas beberapa kali menggelar pertemuan dengan warga dari Desa Satar Punda, Kecamatan Lambaleda di kediamannnya di Cekalikang, Kecamatan Poco Ranaka, membahas rencana kehadiran pabrik semen.

Agas mengakui adanya pertemuan itu, yang antara lain membahas soal rencana kehadiran PT Singa Merah dan PT Istindo Mitra Manggarai, dua perusahaan yang dilaporkan akan melakukan penambangan dan pengolahan semen di dua kampung di desa itu, Luwuk dan Lingko Lolok.

Agas mengatakan, seharusnya tidak ada yang dipersoalkan dari pertemuan itu.

“Ketemu saya, apa salahnya? Soal tempat, saya memilih tempatnya lebih baik di Cekalikang daripada di Borong. Kenapa? Dekat (antara) saya dengan mereka,” katanya dalam wawancara di ruangannya di Lehong, Kamis, 23 April 2020.

Ia menambahkan, dengan bertemu di rumah pribadinya maka suasana akan lebih cair, dibandingkan jika di ruangan resminya sebagai pejabat.

“Kalau saya (melakukan) pertemuan di sini, masyarakat berhadapan dengan bupati, lebih dominan bupatinya,” katanya.

Agas menjelaskan, , pertemuan itu atas inisiatif warga. “Mereka minta untuk bertemu, masa saya larang,” katanya.

Ia menambahkan, ketika hadir di rumahnya, warga membawa kesepakatan mereka dengan perusahaan.

“‘Ini kesepakatan kami pa bupati’” kata Agas mengutip pernyataan warga. “Mereka sendiri yang bawa kesepakatan, bukan saya yang tentukan. Tidak. Saya hanya memfasilitasi.”

Ia menjelaskan, dalam pertemuan itu, ia menegaskan bahwa “kesepakatan mesti operasional” dan “jangan ada kesepakatan yang merugikan” masyarakat.

Agas juga mengonfirmasi bahwa dalam pertemuan itu, warga diberi uang Rp 10 juta, sebagaimana yang dilaporkan berbagai media sebelumnya.

Ia mengatakan, uang tersebut merupakan uang DP (down payment) untuk lahan mereka yang dijual kepada perusahan.

Pembelian tanah masyarakat, kata Agas, adalah syarat untuk kemudian melakukan kajian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal).

“Bagaimana mau Amdal kalau lokasi belum pasti,” katanya. “Mereka lepas terlebih dahulu tanah itu, baru ada Amdal,” tambahnya.

Pertemuan itu melahirkan beragam spekulasi perihal alasan keaktifan Agas mengurus izin dua perusahan itu.

Belakangan, sejumlah klaim Agas perihal substandi pertemuan itu dibantah warga.

Domi Demas, salah satu warga Lingko Lolok yang hadir dalam pertemuan itu mengatakan, pertemuan itu bukan atas permintaan masyarakat, tetapi Agas sendiri.

“Kalau misalnya ada yang omong kami yang minta untuk ketemu bupati ke Cekalikang itu, untuk apa kami mau ke sana?” katanya seperti dikutip Voxntt.com.

Ia menjelaskan, ada sopir yang menjemput mereka di kampung.

“Saat itu dia bilang ke kami kalau dia disuruh bupati untuk jemput kami. Kami bukan anak kecil,” kata Domi.

Ia menjelaskan, pertemuan pertama dengan Agas di Cekalikang berlangsung pada Minggu, 14 Maret yang dihadiri tiga orang perwakilan warga Lingko Lolok.

Sedangkan pertemuan kedua berlangsung pada Minggu, 22 Maret, di mana hadir 34 orang perwakilan warga. Domi mengaku hadir dalam pertemuan pada 22 Maret itu.

Agas menunjukkan sikap mendukung kehadiran dua perusahan itu.

BACA: Bupati Agas: Lebih Bagus Jika Warga Lingko Lolok Relokasi di Dekat Satar Teu

Ia mengatakan setuju jika warga di Lingko Lolok, yang kampungnya disebut akan digusur, pindah ke tempat lain di dekat Kampung Satar Teu.

“Malah kalau mereka (warga kampung Lingko Lolok) pindah di lokasi di dekat Satar Teu, itu lebih bagus,” katanya.

Di lokasi yang baru, kata dia, mereka “tidak kesulitan air.” “Daripada di Lingko Lolok, tidak ada air minum,” katanya.

BACA JUGA: Rencana Pabrik Semen Baru di Manggarai Timur dan Potret Industri Semen di Indonesia

Mengklaim bahwa relokasi itu adalah kesepakatan yang dibuat sendiri warga di Lingko Lolok, Agas menolak menyebutnya sebagai relokasi kampung, tapi lebih memilih istilah “pindah rumah.”

Ia mengatakan, Compang – altar batu yang biasanya ditemukan di halaman rumah tradisional masyarakat Manggarai – tidak akan pindah.

Compang mereka tetap. Itu yang mereka sepakati,” katanya.