Ilustrasi Semen/Radar Bogor

Floresa.co –  Di tengah pandemi Covid-19 yang mengancam keselamatan nyawa umat manusia di seluruh dunia, sebagian masyarakat di Manggarai Timur, NTT dihadapakan dengan pro kontra pembangunan pabrik semen di wilayah mereka.

Lokasinya di wilayah kecamatan Lamba Leda, tepatnya di Desa Satar Punda.

Seperti diberitakan Floresa.co, rencananya ada dua perusahaan yang akan melakukan penambangan batu gamping, bahan baku semen di atas lahan seluas 505 hektar di wilayah tersebut.

Dua perusahaan tersebut adalah PT Singa Merah dan PT Istindo Mitra Manggarai. Kedua perusahaan ini juga dikabarkan akan membangun pabrik di lokasi tersebut, hanya belum jelas berapa kapasitas produksinya.

BACA JUGA: Bupati Agas: Lebih Bagus Jika Warga Lingko Lolok Relokasi di Dekat Satar Teu

Pemerintah daerah, baik Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur, maupun Pemerintah Provinsi NTT sudah memberikan lampu hijau untuk dua perusahaan ini.

Gubernur NTT Viktor Laiskodat, seperti dilansir situs Mediaindonesia.com,  mengatakan memberikan izin pembangunan pabrik semen karena NTT mengalami defisit pasokan semen.

PT Semen Kupang yang sudah beroperasi sejak 1980-an, menurut Laiskodat, hanya bisa memproduksi 250 ribu ton semen per tahun. Padahal, jelasnya, kebutuhan semen di NTT sebesar 1,2 juta per tahun. Kekurangan pasokan ini selama ini diimpor dari luar NTT.

Apakah memang NTT butuh pabrik semen untuk mengatasi kekurangan pasokannya itu?

Bila menggunakan data kebutuhan semen yang disampaikan Laiskodat jelas memang butuh. Apalagi, bila mengacu pada data penjualan semen di seluruh Indonesia pada tahun 2019 lalu, total yang terjual di NTT sebanyak 4,15 juta ton, lebih tinggi dari data versi Laiskodat.

Tetapi NTT bukanlah sebuah entitas negara sendiri yang karena itu harus memperkuat industri semen domestiknya agar tidak hanya menjadi pasar bagi semen impor. NTT adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

BACA JUGA: Kades Satar Punda: ‘Saya Ini Dilema’

Di NKRI ini, industri semen sudah dikuasi oleh perusahaan BUMN semen yang bernaung di bawah satu group atau holding bernama Semen Indonesia Group (SIG). Salah satu anggota holding ini adalah PT Semen Kupang.

Dari total 113,1 juta ton kapasitas terpasang (installed capacity) pabrik semen di Indonesia, SIG menguasai sekitar 45,45% atau 51,4 juta ton, berdasarkan data per akhir 2019.

BACA JUGA: Warga Lingko Lolok: ‘Kami Tak Mungkin Hidup di Langit Jika Tanah Kami Dikuasai Tambang’

SIG ini terdiri atas PT Semen Indonesia, di dalamnya ada PT Semen Padang, PT Semen Gresik, PT Semen Tonasa dan Thang Long Cement Vietnam. Anggota SIG lainnya adalah PT Semen Indonesia Industri Bangunan yang merupakan ex Semen Holcim, PT Semen Indonesia Aceh dan PT Semen Kupang Indonesia.

PT Semen Indonesia memiliki kapasitas produksi terpasang sebesar 35,5 juta ton, PT Semen Indonesia Industri Bangunan (ex-Holcim) memiliki kapasitas produksi 15,5 juta ton dan Semen Kupang sebesar 0,4 juta ton.

Pemain lain di luar group tersebut adalah Indocement (25,5 juta ton); Conch Cement Indonesia (8,7 juta ton); Semen Merah Putih atau Cemindo Gemilang (7,7 juta ton); Semen Bosowa (7,4 juta ton); Semen Baturaja (3,9 juta ton); Semen Garuda atau Jui Shin Indonesia (1,8 juta ton); Semen Jawa atau Siam Cement Group (1,8 juta ton); Semen Bima/PT Star (1,8 juta ton); dan perusahaan lainnya sebesar 3,1 juta ton.

Dari total 113,1 juta ton kapasitas produksi ini belum semuanya tarpakai. Total produksi semen tahun 2019 sebesar 76,1 juta ton. Artinya utilitas pabrik semen domestik masih rendah di kisaran 67,29%.

Mengapa demikian? Faktor utamanya adalah permintaan atau kebutuhan semen yang lebih rendah dari kemampuan produksi. Tahun lalu, penjualan semen di Indonesia (pasar domsetik) sebesar 69,8 juta ton. Sisa produksi sebanyak 6,4 juta ton diekspor ke negara lain.

BACA JUGA: Warga Luwuk: ‘Kalau Uang dari Jokowi Saya Terima, Tapi Uang dari Investor Saya Tolak’

Pertanyaannya apakah pabrik semen baru dibutukan dalam kondisi low utility pabrik semen yang ada? Sementara di sisi lain, pertumbuhan konsumsi semen masih rendah.

Pada tahun lalu pertumbuhannya  penjualan semen domestik hanya 1,21%. Katakanlah pertumbuhan konsumsi semen sama dengan pertumbuhan GDP Indonesia yang berada di kisaran 5%, maka tetap saja butuh waktu lama untuk meningkatkan utilitas pabrik yang ada saat ini.

Karena itu, pemain-pemain baru di industri ini siap-siap dilibas pemain lama terutama grup perusahaan semen BUMN, kecuali kalau dua perusaahan baru yang mengincar Manggarai Timur itu adalah bagian dari grup BUMN tersebut.

PTD/FLORESA