Gerardus Kuma Apeuntung. (Foto: Ist)

Oleh: GERARDUS KUMA APEUTUNG, Guru SMPN 3 Wulanggitang, Hewa, Flores Timur

Sejak kasus Covid-19 pertama di Indonesia terkonfirmasi tanggal 02 Maret 2020, belum ada tanda yang menunjukkan grafik kasus menurun. Baik yang terinfeksi maupun yang meninggal selalu bertambah. Namun pasien yang sembuh juga semakin banyak. Menurut data  Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, per 15 April 2020, tercatat 4.839 kasus positif, 459 meninggal dan 426 kasus sembuh.

Jumlah kasus covid-19 terus meningkat setiap hari dan penyebaran kini semakin meluas ke berbagai wilayah. Hingga 8 April 2020, masih ada dua dari dari 34 provinsi yang bebas dari kasus positif, yakni Nusa Tenggara Timur dan Gorontalo. Namun pertahanan dua propinsi ini akhirnya “roboh” setelah tanggal 9 April, NTT mengumumkan satu kasus positif, diikuti Gorontalo sehari kemudian.

Sejak awal muncul di Wuhan, China kita berharap virus ini tidak masuk ke Indonesia dan sampai ke daerah kita. Melihat korban keganasan covid-19 di negara lain, kita tidak ingin, entah diri sendiri, keluarga, sahabat terinfeksi virus mematikan ini. Harapan demikian tidak berlebihan karena hingga kini belum ditemukan vaksin penangkal virus yang menyerang saluran pernapasan ini.

Virus corona tidak berpindah sendiri. Penyebarannya melalui media, bisa lewat interaksi langsung dengan orang yang sudah terinfeksi atau sentuhan pada benda yang sudah terkena virus. Karena itu ketika arus transportasi masih terus berjalan dan pintu keluar masuk wilayah kita masih dibuka, tidak ada jaminan kita akan berada di zona hijau selamanya. Cepat atau lambat Covid-19 pasti masuk ke daerah kita. Kehadirannya hanya soal waktu, kalau tidak kemarin mungkin hari ini, atau besok, atau minggu depan, atau mungkin bulan depan.

Saat itu akhirnya datang juga. Bagai tamu tidak diundang virus corona telah hadir di tengah kita. Suhu panas di NTT tidak menjadi garansi daerah ini bisa aman dari serangan Covid-19. Sejauh kita tidak membatasi aktivitas perjalanan dari dan ke daerah zona merah Covid-19, nusa Flobamora akan terdampak. Itu nyata dan pasti.

Ketika kasus positif Covid-19 pertama di NTT diumumkan, muncul beragam reaksi dari masyarakat. Di jagat maya, beredar informasi yang simpang siur dan muncul beragam tanggapan. Berbagai spekulasi tentang keberadaan orang yang positif bermunculan, antara percaya atau tidak percaya; menerima atau menolak. Masyarakat bersikap reaktif karena Pemprov NTT terkesan menutup informasi dan lambat memberikan klarifikasi terkait kasus positif pertama tersebut. Di tengah situasi waspada sekarang, transparan informasi penting bagi masyarakat.

Sekarang saatnya warga Flobamora mengangkat “senjata” melawan virs corona. Dalam perang ini kita menghadapi musuh yang tidak kelihatan dalam bentuk virus. Sebagai prajurit kita adalah benteng yang mencegah meluasnya penyebaran Covid-19. Upaya pencegahan virus ini harus dimulai dari diri sendiri. Dalam perang ini, kitalah yang harus menjadi garda terdepan. Para dokter, tenaga medis, petugas kesehatan, atau para relawan berada di garda belakang. Mereka adalah benteng terakhir harapan kita.

Upaya pencegahan adalah cara terbaik mengingat daerah kita tidak memiliki fasilitas kesehatan yang memadai. Jumlah dokter dan tenaga medis juga tidak banyak. Saat ini (mungkin) baru ada satu kasus positif. Namun bila tidak ada tindakan preventif sejak awal, virus ini akan terus menyebar dan kasus lain akan bermunculan. Apabila terjadi lonjakan kasus dalam skala besar, dengan kesiapan fasilitas kesehatan yang minim, kita akan kewalahan menangani pasien Covid-19.

Beberapa hal berikut perlu dilakukan sebagai upaya preventif.

Pertama, kebijakan social distancing harus diterjemahkan secara baik dalam praktek. Himbauan pemerintah untuk menjaga jarak, selalu menggunakan masker, mencuci tangan secara teratur, menghindari kerumunan, melakukan aktivitas dari rumah harus dijalankan dengan baik.

Sejauh ini kesadaran masyarakat melakukan social distancing masih rendah. Aktivitas di tempat-tempat umum seperti pasar, terminal, pelabuhan terus berjalan tanpa memedulikan jarak satu sama lain. Masih ada orang yang belum mengenakan masker saat berada di tempat umum. Karena itu sosialisasi dan ajakan menerapkan social distancing harus lebih digencarkan lagi.

Kedua, pemerintah perlu menyediakan tempat karantina karantina khusus baik bagi PDP maupun ODP. Ini penting mengingat masyarakat Flobamora banyak di daerah perantauan. Dan orang yang memiliki riwayat perjalanan dari wilayah zona merah Covid-19 wajib dikarantina sesuai protokol kesehatan sebelum benar-benar dinyatakan bebas Covid-19 untuk bergabung dengan masyarakat agar virus ini tidak menyebar ke kampung halaman.

Berkaca pada beberapa peristiwa penolakan warga, pemerintah kelihatan lamban mengantisipasi mobilitas masyarakat dari daerah zona merah Covid-19 ke Flobamora. Tidak ada persiapan matang dalam menghadapi pandemi ini. Kesulitan melakukan karantina bagi ODP karena ditolak warga setempat adalah bukti. Hal ini tidak terjadi apabila pemerintah telah mempersiapkan tempat khusus untuk karantina, jauh hari sebelumnya.

Ketiga, lakukan rapid test secara massal. Prioritas diperuntukkan bagi ODP, PDP atau orang yang telah melakukan kontak dengan pasien yang positif. Deteksi dini perlu dilakukan segera untuk menghambat penyebaran virus lebih luas. Tanpa ada rapid test secara massal, kita tidak bisa mendeteksi siapa saja yang sudah terpapar. Bisa saja ada orang yang tidak bergejala (ODP) tetapi telah terinfeksi covid-19. Kasus positif pertama yang terungkap menjadi pelajaran bagi kita akan urgennya melakukan rapid test secara masif.

Kita tentu bersyukur karena dalam waktu yang lama NTT baru terkonfirmasi satu kasus positif di saat hampir seluruh propinsi sudah terinfeksi covid-19. Namun status zona hijau selama ini pantas diragukan. Karena tidak didasarkan pada hasil rapid test atau uji swab tenggorokan secara masal terutama bagi mereka yang memiliki riwayat perjalanan dari daerah zona merah covid-19. Tindakah yang dilakukan terhadap mereka adalah pengukuran suhu tubuh dan karantina mandiri. Siapa yang menjamin mereka ini belum terinfeksi Covid-19?

Saat ini adalah situasi yang sulit, bukan hanya bagi daerah kita tetapi seluruh dunia. Karena itu kita harus bersatu dan saling mendukung satu sama lain. Dalam perang melawan Covid-19, kita harus bahu membahu. Semua pihak perlu bergandeng tangan. Segala kekuatan yang dimiliki kita dikerahkan. Sinergisitas antarlembaga pemerintah dan dengan masyarakat perlu ditingkatkan agar penyebaran virus ini tidak meluas.

Kita memiliki budaya gotong royong sebagai karakteristik bangsa, yaitu semangat bekerja sama dalam menyelesaikan pekerjaan. Budaya gotong royong ini perlu digerakkan dalam memerangi Covid-19. Kerja sama ini diharapkan membangkitkan rasa optimis dalam diri bahwa kita bisa menang. Hanya dengan kekuatan bersama dan komitmen yang kuat menjalani kebijakan social distancing, yakinlah NTT (bisa) menang melawan virus ini.