Edo Mense (kanan( korban penganiayaan oleh polisi saat melakukan visum di Puskesmas Labuan Bajo. (Foto: Floresa).

Labuan Bajo, Floresa.co – Edo Mense, warga Labuan Bajo yang bersama rekan-rekannya menjadi korban penganiayaan oleh polisi mengaku mendapat pukulan di dua tempat.

Selain di tempat kuliner bernaman Pendopo, tempat mereka berkumpul, penganiayaan, kata dia, juga terjadi di dalam kantor polisi.

Ditemui di sela-sela visum dan membawa laporan di Polres Mabar pada Senin, 13 April 2020, Edo yang mengenakan celana jeans berbalut kaos oblong hitam menuturkan kisah penganiayaan dirinya oleh segerombolan polisi tersebut.

Pada Sabtu malam, 11 April itu, tepatnya di Pendopo di mana ia dan kedelapan kawannya berkumpul, Edo mengaku dipukul dengan sangat keras oleh seorang polisi tepat di bagian dada.

Aksi polisi itu terjadi usai ada perdebatan antar dirinya dengan mereka.

“Pukul di sini (dada),” ujarnya sembari mengelus-elus dadanya.

Selepas dari Pendopo, bersama delapan rekannya itu, ia diangkut ke Polres Mabar menggunakan mobil pengendali massa (Dalmas).

Sesampai di Polres, tutur Edo, dirinya dan kawan-kawannya dimintai keterangan.

Namun, naas baginya, bukan hanya diambil keterangan, ternyata dirinya kembali dipukul.

Baca:Polres Mabar Sebagai Pengayom Masyarakat?

Tangan salah seorang polisi menghujam tepat di pelipisnya yang menyebabkan luka.

“Darah keluar dari pelipis saya,” ujarnya.

Polisi lain yang berdiri di atas meja, kata dia, juga melakukan aksi kekerasan.

Polisi itu, kata Edo, menendang di bagian belakang kepalanya.

“Ada bengkak di sini,” ujarnya sembari memegang bagian yang ditendang tersebut.

Edo memutuskan melapor aksi kekerasan itu ke Polres Mabar, didampingi pengacara Marsel Nagus Ahang dan ayahnya, Cypri Mense.

Cypri yang setia mendampingi anaknya itu mengaku tidak menerima perlakuan gerombolan polisi tersebut.

Apalagi, kata Cyri, salah seorang dari antara polisi yang disebut bernama Domi, sempat kepada Edo dan kawan-kawannya  dengan nada tinggi mengatakan, “Saya Domi. Panggil semua kamu punya keluarga, hadap saya. Saya Domi.”

Sekitar pukul 17.00 Wita, berbalut perban di bagian pelipis dan didampingi Marsel, Edo kembali ke kediamannya di Wae Kesambi.

Peristiwa penganiayaan ini menjadi ramai setelah Edo menceritakannya lewat sebuah video yang kemudian viral pada Minggu.

Dalam video itu, Edo mengaku bahwa mereka dipukul anggota Polres Mabar karena dianggap tidak mengindahkan larangan untuk berkumpul demi mencegah penyebaran Covid-19.

Akibat pemukulan itu, setidaknya tiga pemuda mengalami luka parah di bagian wajah dan kepala bagian belakang, yang foto dan videonya diperoleh oleh Floresa.coMinggu, 12 April.

BACA JUGA: Polres Mabar Sebagai Pengayom Masyarakat?

Sementara itu, dalam keterangan tertulis, Kapolres Mabar, AKBP Handoyo Santoso mengatakan mengakui adanya ‘tindakan tegas’ terhadap sejumlah pemuda itu dan mengkalim melibatkan Seksi Propam untuk memeriksa tindakan arogan oknum anggotanya.

“Menindaklanjuti laporan yang telah beredar di tengah masyarakat bahwa adanya indikasi tindakan arogan oleh oknum petugas, maka Kepala Kepolisian Resor Manggarai Barat telah memerintahkan Seksi Propam Polres Mabar untuk memeriksa dan menindak tegas oknum petugas,” kata Handoyo.

ARJ/FLORESA