BerandaARTIKEL UTAMACovid-19: Mengapa NTT Perlu...

Covid-19: Mengapa NTT Perlu Selalu Waspada?

Floresa.co – Pemerintah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mestinya berpikir keras  dengan penetapan daerah tanpa positif Covid-19 sampai saat ini.

Dalam data resmi pemerintah hingga hari ini, Rabu, 8 April 2020, dari 2.738 kasus positif, belum ada kasus di NTT sejak Covid-19 mulai merebak di Indonesia sebulan yang lalu.

Peta penyebaran kasus Covid-19 di Indonesia, berdasarkan data pada Rabu, 8 April 2020, pukul 15 WIB. (Screenshot dari bnpb-inacovid19.hub.arcgis.com)

Kabar ini membuat kita bisa terlena dan tidak siaga. Bukan tidak mungkin, masyarakat tidak lagi melihat penyebaran virus ini menjadi ancaman nyata dan kewaspadaan semakin berkurang.

Apalagi, konteks kita di NTT yang membutuhkan aktivitas di luar rumah lebih banyak. Sektor informal lebih mendominasi seperti petani, nelayan, dan pekerja harian lepas.

Belum lagi ikatan sosial dan kewajiban kultural yang bisa menuntut kita berinteraksi lebih banyak dengan keluarga, tetangga dan teman-teman.

Padahal, peta itu belum tentu menunjukkan kenyataan yang sebenarnya.

Faktanya, pengecekkan swab di Indonesia berjalan lamban sekali, mengingat pusat laboratorium berada di Jawa. Rapid test juga belum tersebar merata.

Karena persoalan teknis ini, kita sulit mendeteksi penyebaran virus corona. Sampel dari NTT untuk tes swab yang dikirim ke Jakarta atau Surabaya, prosesnya memakan waktu.

Contohnya, PDP yang meninggal pada 25 Maret lalu di Labuan Bajo, hingga saat ini belum ada hasil laboratorium.

Dari empat sampel dari NTT yang dikirim ke Jakarta, disebutkan bahwa baru satu yang hasinya sudah diperoleh dan negatif, sementara yang lain belum.

Beberapa kendala teknis lain diungkap di sosial media. Misalnya, pengiriman sampel terkendala juga dalam penerbangan.

Sementara itu, jalur transportasi masih terbuka. Gelombang eksodus ekonomi kian banyak mengingat banyak orang yang pulang kampung.

Padahal, pengecekan di lapangan sangat minim, petugas medis hanya menggunakan pengecekkan suhu dan himbauan isolasi diri.

Karena itu, kita harusnya tidak terlena dengan peta tersebut dan juga mesti khawatir dengan persoalan teknis yang ada. Jika kasus positif muncul, kita tentu sudah tahu bahwa rumah sakit kita belum punya kelengkapan dan kesiapan faskes yang memadai.

Kita jangan terlena, tetap hati-hati.

Floresa

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

Wawancara Suster Virgula SSpS: “Percaya Sepenuhnya Kepada Tuhan”

Floresa.co - Nama Sr Virgula Schmitt SSpS (87) sangat akrab bagi...

Begini Cara Buat Kandang Babi Sederhana, Tapi Bebas Bau dan Lalat

Floresa.co - Sebagian besar keluarga di Nusa Tenggara Timur (NTT) memelihara babi....

Pastor John Prior: Vatikan Harus Buka Hasil Penyelidikan Kasus Moral Kaum Klerus

Floresa.co - Pastor John Mansford Prior SVD, dosen di Sekolah Tinggi...

“Anak-anak Kami Lapar,” Keluh Petani di Manggarai Barat yang Terancam Gagal Tanam Karena Bendungan Rusak

Bendungan Wae Cebong merupakan sumber air bagi irigasi untuk ratusan hektar sawah di area Persawahan Satar Walang, milik warga Desa Compong Longgo, desa yang berjarak 14 kilometer ke arah selatan dari Labuan Bajo.

“Pak Jokowi, Bunuh Saja Kami,” Protes Warga Labuan Bajo yang Kembali Hadang Penggusuran Lahan oleh BPO-LBF

"Kami tidak sedang berdemontrasi, tetapi (sedang) pertahankan tanah kami," kata warga.

Babi Makin Tambun, Dompet Anda pun Bertambah Tebal

Floresa.co - Selain kandang, aspek yang tak kalah penting ketika memelihara babi...

Warga dan BPO-LBF dalam Polemik Bowosie: Hidup Rentan di Moncong Negara

"Membaca kasus Racang Buka, kita dapat menarik benang merah antara dominasi negara neoliberal dan penghancuran ruang hidup warga. Maraknya investasi sektor privat menunjukkan bahwa negara tidak lagi menjadi wadah penjamin kesejahteraan, tetapi malah menjadi racun bagi hidup warganya."

Kami Cemas dan Takut Karena Proyek Ini Terus Dipaksakan, Kata Warga Wae Sano di Hadapan Bank Dunia

"Kami yakin bahwa Bank Dunia tidak ingin terlibat dalam proses pembangunan yang penuh dengan intimidasi dan potensi kekerasan,” demikian pernyataan warga.