Aparat keplisian dari Polsek Komodo menghantar Jenasah PDP Covid-19 asal Kuwus ke pemakaman di Kaper, Desa Golo Bilag pada Rabu sore, 25 Maret 2020. (Foto: Istimewa).

Labuan Bajo, Floresa.co Keluarga SS terpaksa harus terus menunggu dalam kecemasan. Sudah lebih dari semiggu, anggota keluarga mereka SS dinyatakan sebagai Pasien Dalam Pengawasan (PDP) virus corona dan kemudian meninggal dunia. Tetapi, hasil tes swab untuk mengkonfirmasi dugaan itu belum juga keluar.

SS diantar keluarganya ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Ben Mboi, Ruteng pada Selasa pagi (24/3) lalu. Berdasarkan gejala penyakit yang dialaminya, pihak RSUD dr Ben Mboi menyatakannya sebagai PDP virus corona dan dirujuk ke RSUD Komodo di Labuan Bajo, Manggarai Barat, sebagai rumah sakit rujukan untuk pasien virus Corona.

SS kemudian meninggal dunia di RSUD Komodo, Manggarai Barat (Mabar) pada Rabu (25/3) pagi. Namun, sudah lebih dari seminggu berlalu, hasil tes swab untuk mengkonfirmasi status PDP itu itu belum juga keluar.

Berdasarkan infografik yang disampaikan oleh Pusat Informasi dan Pelayanan Covid-19 Manggarai Barat, per 2 April kemarin, dari tiga orang yang diambil swab, salah satunya sudah keluar. Dan hasilnya negatif.

Tetapi, Direktur RSUD Komodo, dr. Maria Yosephina Melinda Gampar mengatakan hasil swab yang negatif itu bukan milik SS. “Itu (SS) belum keluar hasilnya,” ujarnya kepada Floresa.co, Jumat (3/4).

BACA JUGA: Apa Saja yang Penting Diketahui Tentang PDP Covid-19 yang Meninggal di Labuan Bajo?

Dokter Melinda tak begitu tahu mengapa hasil swab SS tak kunjung ada. “Karena pemeriksaannya bukan di sini,” ujarnya.

Tetapi, ia menduga hasil yang lama karena tak semua laboratorium bisa melakukan tes swab. “Jadi kita ini mengantre dari seluruh Indonesia. Itu salah satu (alasannya),” ujarnya.

Ditanya bukankah sampel swab itu sudah lama dikirim ke laboratorum, dokter Melinda mengatakan untuk proses pengiriman dilakukan oleh Dinas Kesehatan Manggarai Barat, bukan oleh RSUD Komodo.

“Mengenai jadwal pengiriman (swab) coba hubungi Kepala Dinas Kesehatan,” ujarnya.

Kepala Dinas Kesehatan Manggarai Barat,Paulus Mami yang dihubungi beberapa kali melalui nomor selulernya tak merespons. Pesan yang dikirim melalui aplikasi WhatsApp belum dibaca.

Dihubungi terpisah, Kepala Biro Humas Pemprov NTT, Marius Ardu Jelamu menyatakan hasil swab SS memang belum keluar. “Pemeriksaannya kan di labkes (laboratorium kesehatan) di Surabaya. Pasti antre, kan bukan hanya kita,” ujar Marius yang juga menjadi juru bicara masalah Covid-19 di NTT.

Marius mengatakan pengiriman swab SS sendiri sudah dilakukan begitu ia ditangani oleh RSUD Komodo, karena memang demikian prosedur tetap (protap) untuk penanganan Covid-19 ini.

Disinggung soal mengapa antrenya lama, Marius mengatakan karena semua tes swab kawasan timur Indonesia dipusatkan di Surabaya.

“Makanya kita sedang membahas kalau bisa kita punya lab juga, misalnya di Kupang, tidak harus jauh-jauh,” ujarnya.

BACA JUGA: Keluarga PDP Covid-19 di Manggarai: Cemas Menanti Hasil Laboratorium

Untuk rapid test sendiri, tambah Marius NTT sudah punya peralatannya. Tetapi itu hanya diutamakan kepada tenaga medias. Sejauh ini, semua hasilnya negatif.

Sementara itu, keluarga SS sendiri masih terus menuggu hasil laboratorium tersebut. Di tengah situasi tersebut, keluarga menyelenggarakan sejumlah acara adat di kampung halaman SS.

JG, salah satu anggota keluarga SS mengatakan, rangkaian acara adat akan dilaksanakan pada Minggu (5/3) di kampung halaman korban di kecamatan Kuwus. JG mengataan segenap keluarga mengharapkan, hasil laboratorium segera dipublikasikan.

PTR/AKA/FLORESA