BerandaPERISTIWAPT SIM Hengkang dari...

PT SIM Hengkang dari Pantai Pede

Labuan Bajo, Floresa.coHak PT Sarana Investama Manggabar (PT SIM) mengelola area Pantai Pede dan salah satu hotel di dalamnya berhenti, menyusul putusnya hubungan kerja sama dengan pihak Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Perusahan itu yang sejak 2014 menguasai Pantai Pede dan mengelola Hotel Plago tidak bisa memenuhi kewajibannya membayar biaya sewa lahan senilai Rp 250 juta kepada pihak Pemprov NTT, demikian menurut laporan Victory News.

Zet Sony Libing, Kepala Badan Pendapatan dan Aset Daerah NTT mengatakan kepada wartawan di Labuan Bajo pada Rabu, 1 April 2020, pengambilalihan lahan dan hotel itu berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Pedoman Pengelolaan Barang Milik Daerah.

Dia menegaskan, dengan putus kerja sama itu, pengelolahan Hotel Plago dan area Pantai Pede lainnya akan dikelola oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Provinsi NTT.

Ia mengatakan, karyawan Hotel Plago tidak diberhentikan, karena hanya kepemilikannya yang berubah.

Zet mengklaim, dengan pengambilalihan pengelolaan Hotel Plago, maka area Pantai Pede ke depannya akan menjadi ruang publik.

“Pantai Pede akan dibuka menjadi ruang publik. Masyarakat bebas masuk ke pantai Pede,” katanya.

Sejak awal, penguasaan Pantai Pede oleh PT SIM, yang semula direncanakan selama 25 tahun, menuai protes publik di Manggarai Barat.

Berbagai elemen, termasuk Gereja Katolik, menuntur agar pantai itu, yang disebut sebagai satu-satunya pantai yang masih mungkin untuk dibuka kepada masyarakat luas di pesisir Labuan Bajo, dibiarkan menjadi ruang terbuka dan bisa diakses oleh masyarakat.

Aksi unjuk rasa berkali-kali dilakukan di Labuan Bajo, juga di Jakarta.

PT SIM, yang disebut-sebut memiliki kaitan dengan Setya Novanto, mantan Ketua DPR RI yang kini dipenjara karena kasus korupsi, menjalin kerja sama dengan Provinsi NTT pada masa kepemimpinan Gubernur Frans Lebu Raya.

ARL/FLORESA

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga

Wawancara Suster Virgula SSpS: “Percaya Sepenuhnya Kepada Tuhan”

Floresa.co - Nama Sr Virgula Schmitt SSpS (87) sangat akrab bagi...

Begini Cara Buat Kandang Babi Sederhana, Tapi Bebas Bau dan Lalat

Floresa.co - Sebagian besar keluarga di Nusa Tenggara Timur (NTT) memelihara babi....

Pastor John Prior: Vatikan Harus Buka Hasil Penyelidikan Kasus Moral Kaum Klerus

Floresa.co - Pastor John Mansford Prior SVD, dosen di Sekolah Tinggi...

“Anak-anak Kami Lapar,” Keluh Petani di Manggarai Barat yang Terancam Gagal Tanam Karena Bendungan Rusak

Bendungan Wae Cebong merupakan sumber air bagi irigasi untuk ratusan hektar sawah di area Persawahan Satar Walang, milik warga Desa Compong Longgo, desa yang berjarak 14 kilometer ke arah selatan dari Labuan Bajo.

“Pak Jokowi, Bunuh Saja Kami,” Protes Warga Labuan Bajo yang Kembali Hadang Penggusuran Lahan oleh BPO-LBF

"Kami tidak sedang berdemontrasi, tetapi (sedang) pertahankan tanah kami," kata warga.

Babi Makin Tambun, Dompet Anda pun Bertambah Tebal

Floresa.co - Selain kandang, aspek yang tak kalah penting ketika memelihara babi...

Warga dan BPO-LBF dalam Polemik Bowosie: Hidup Rentan di Moncong Negara

"Membaca kasus Racang Buka, kita dapat menarik benang merah antara dominasi negara neoliberal dan penghancuran ruang hidup warga. Maraknya investasi sektor privat menunjukkan bahwa negara tidak lagi menjadi wadah penjamin kesejahteraan, tetapi malah menjadi racun bagi hidup warganya."

Kami Cemas dan Takut Karena Proyek Ini Terus Dipaksakan, Kata Warga Wae Sano di Hadapan Bank Dunia

"Kami yakin bahwa Bank Dunia tidak ingin terlibat dalam proses pembangunan yang penuh dengan intimidasi dan potensi kekerasan,” demikian pernyataan warga.