Ketua Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr. Pius Riana Prapdi. (Foto: Ist)

Floresa.co – Ketua Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr. Pius Riana Prapdi, mengirim sebuah surat cinta untuk Orang Muda Katolik (OMK), di mana ia berpesan agar mereka waspada terhadap penyebaran virus corona (Covid-19) dan kreatif mencari mencari membantu sesama.

Uskup Riana membuka suratnya itu dengan mengingatkan bahwa saat ini dunia sedang menghadapi pandemi virus ini.

“Virus ini jenis baru yang dapat menempel dan bertahan pada benda-benda sekitar kita, seperti pakaian, sepatu, gagang pintu, HP dan bahkan pada orang yang kita kenal dan kasihi,” katanya, seperti dilansir oleh Katoliknews.com.

Virus ini, jelasnya, menyebar dengan sangat cepat dan berbahaya pada orang-orang dengan kondisi tertentu seperti pada lansia, ibu hamil, bayi, orang yang memiliki penyakit tertentu dan orang dengan stamina yang lemah.

“Virus ini dapat berpindah jika kita menyentuh benda-benda yang sudah terkena percikan ludah (droplet) dari penderita Covid-19,” katanya.

“Tempat favorit virus ini adalah di tangan kita, di sela-sela jari dan kuku, karena itu perlu mencuci tangan selama 20 detik menggunakan sabun dan air mengalir. Jika tidak tersedia air dan sabun dapat digunakan sanitizer. Sebaiknya kita tidak menyentuh mata, hidung dan mulut untuk mencegah virus masuk ke tubuh kita,” tambahnya.

Ajakan untuk Waspada

Uskup Riana menambahkan, bagi orang muda, karena umumnya stamina cukup baik, seringkali walaupun terpapar virus ini, tidak tampak gejala apapun.

Pada titik ini, orang muda hanya dianggap pembawa (carrier), karena tubuh yang dapat membuat antibodi yang berfungsi untuk membangun imunitas terhadap virus ini.

“Namun, pada banyak kasus, telah terjadi kematian pada orang-orang lanjut usia dan orang-orang yang memiliki sistem imun lemah, setelah berinteraksi dengan pembawa virus (carrier),” katanya.

Lantas, ia mengajak orang muda untuk waspada dan bergabung dengan orang-orang di seluruh dunia yang telah bertekad untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 dengan melakukan sejumlah hal.

Pertama, kata dia, adalah  diam di kos/rumah, terutama tidak mudik/pulang kampung halaman.

Kedua, menunda dulu pertemuan, rapat atau acara yang dihadiri banyak orang (lakukan dulu dengan online atau teleconference), membatasi diri untuk berkumpul secara fisik dengan teman-teman.

Ketiga, menjaga stamina dengan makan sehat, tetap olah raga, berpikir positif.

Kelima, menjaga jarak sekitar satu setengah meter dari orang lain.

Dengan melakukan hal di atas, kita telah turut membantu tenaga medis untuk fokus merawat mereka yang membutuhkan penanganan serius,” katanya.

Ajakan untuk Peduli

Ia melanjutkan suratnya dengan ajakan untuk menciptakan kreasi baru mengatasi kebosanan dengan memanfaatkan fitur komunikasi yang tersedia.

“OMK juga dapat membantu sesama dengan cara yang aman. Gunakan kreativitasmu untuk menolong sesama,” katanya.

Ia mengusulkan setidaknya tiga cara. Pertama, cermati kondisi dan perilaku tetangga atau teman kosmu.

Kedua, temukan apa yang dapat kamu bantu untuk melindungi kamu, keluargamu dan lingkunganmu.

Ketiga, jelasnya, gunakan fasilitas komunikasi yang kamu miliki untuk membantu mereka memenuhi kebutuhannya.

“Misalnya info akses bantuan makanan gratis bagi kelompok lanjut usia, disabilitas, dan kelompok miskin yang terganggu kehidupan ekonominya karena Covid-19,” katanya.

“Jangan biarkan satu orang pun tercecer dan merasa ditinggalkan dalam kesusahan dan kelaparan,” lanjut Uskup Riana.

Ia mengingatkan, Paus Fransiskus mengajak orang muda untuk menjadi aktor utama dalam membaharui dunia.

“Marilah dalam masa krisis ini kita berhenti sejenak untuk merefleksikan kembali apa yang telah kita buat bagi diri kita, lingkungan, Gereja dan warga dunia,” katanya.

Mengutip teks Yohanes 13: 1: Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya, ia mengatakan, “Kristus selalu mengasihi dan menyelamatkan kita.”

Kini, saat bagimu untuk berbuat bagi dunia. Keterbatasan fisik bukan halangan. Dengan kreativitas, orang muda dapat menjadi pemimpin bagi situasi ini dan melewati masa kritis bersama-sama,” katanya.

Ia menjelaskan, Gereja di Indonesia dan dunia telah mengambil langkah-langkah progresif seperti mengadakan Misa online, hal yang ia sebut sebagai pengelolaan akal budi yang adalah hasil dari iman.

Marilah kita berdoa kepada Allah Bapa agar dunia dan negara kita dapat menangani dan melewati bencana ini,” tutupnya.

KATOLIKNEWS.COM/FLORESA