Aparat keplisian dari Polsek Komodo menghantar Jenasah PDP Covid-19 asal Kuwus ke pemakaman di Kaper, Desa Golo Bilag pada Rabu sore, 25 Maret 2020. (Foto: Istimewa).

Floresa.coPernyataan Ludovikus Moa, juru bicara Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Kabupaten Manggarai, pada Selasa 24 Maret 2020 yang menyebut SS sebagai Pasien Dalam Pengawasan (PDP) Covid-19 seperti petir di siang bolong bagi keluarga SS.

SS, pria 44 tahun yang selama ini tinggal di Surabaya dan berada di Ruteng untuk menjalani perawatan karena sakitnya yang tidak kunjung sembuh menjadi orang pertama yang ditetapkan sebagai PDP oleh Pemkab Manggarai, setelah sebelumnya di kabupaten itu baru diidentifikasi beberapa orang dengan status sebagai Orang Dalam Pemantauan (ODP).

Pernyataan Ludovikus bahwa SS datang ke RSUD Ben Mboi “dengan keadaan umumnya lemah, sempat juga sesak napas,” menjadi alasan bagi penetapannya sebagai PDP virus yang kini menjadi pandemi global itu.

Secara umum, PDP adalah orang yang menunjukkan gejala sudah terjangkit Covid-19, seperti demam, batuk, pilek dan sesak nafas.

Serentak ketika mendengar pernyataan itu, dan juga membaca beberapa berita setelahnya di media, di mana sebagian media menyebut alamat tempat SS dirawat selama di Ruteng, keluarga SS merasa mulai dikucilkan.

“Semua orang di lingkungan ini menjauhi kami,” ungkap salah seorang saudari SS, yang ditemui Floresa.co di Ruteng.

BACA JUGA: Apa Saja yang Penting Diketahui Tentang PDP Covid-19 yang Meninggal di Labuan Bajo?

Pantauan Floresa.co ketika pada Rabu, 24 Maret sekitar pukul 09.00 – 13.00 WITA berada di kediaman mereka, lingkungan sekitar memang sepi dan banyak rumah yang pintu, bahkan jendelanya tertutup.

Saudari SS itu mengaku, biasanya para tetangga yang rumahnya berbatasan langsung dengan mereka, suaranya masih terdengar pada hari-hari sebelumnya.

Suasana berbeda setelah Gugus Tugas menyatakan SS adalah PDP Covid-19.

Sakit Sejak di Surabaya

Belasan tahun berdomisili di Surabaya, SS memiliki isteri dan dua orang anak.

Sejak Februari 2020, ia menderita penyakit yang disebut komplikasi, berdasarkan hasil pemeriksaan di salah satu rumah sakit di Sidoarjo, Jawa Timur.

Disebutkan bahwa ia menderita malaria yang menahun dan sudah menjurus ke otak, juga ada pneumonia disertai dengan infeksi saluran kencing.

Atas persetujuan isterinya yang juga berdomisili di Surabaya, oleh keluarga besar SS dibawa ke Ruteng untuk melakukan pengobatan alternatif.

Tibalah SS di Ruteng pada Selasa, 18 Maret setelah menempuh penerbangan via Bandara Komodo, Labuan Bajo.

Saat tiba di Ruteng, kondisi SS disebut sudah sangat memprihatinkan, di mana salah satu matanya tidak bisa dibuka, perut kembung, susah buang air besar (BAB), susah makan dan susah kencing.

Kalaupun kencing, urinnya disertai dengan darah. Kakinya pun susah diluruskan.

Karena melihat perkembangannya yang memprihatinkan, keluarga pun melarikannya ke UGD RSUD Ben Mboi pada Selasa pagi, hingga kemudian dalam hitungan jam ia ditetapkan sebagai PDP, yang membuatnya harus dirujuk ke RSUD Komodo di Labuan Bajo, rumah sakit rujukan untuk Covid-19.

Saudara SS mengatakan, saat hendak dibawa ke Labuan Bajo, mereka memang dihubungi pihak RSUD Ben Mboi Ruteng agar salah satu keluarga ikut menemani.

Namun, katanya, pihak keluarga tidak bisa ikut karena diliputi kekalutan.

“Kami panik dan cemas sehingga mengambil sikap tidak bersama dalam mobil ambulans yang membawa SS ke Labuan Bajo,” katanya.

Begitu pada keesokan harinya, Rabu, 25 Maret sekitar pukul 06.00 WITA pihak RSUD Komodo Labuan Bajo memberitahukan ke pihak keluarga bahwa SS meninggal dunia, keluarga semakin panik karena pihak Pemkab Manggarai Barat mengambil alih penguburannya dan keluarga tidak boleh ikut.

BACA: PDP Covid-19 Asal Kuwus Dimakamkan di Kaper, Prosesi Dikawal Aparat

Bahkan penguburan SS tersebut dilakukan di bawah pengawalan aparat keamanan.

Masih Penuh Tanya

Yang menjadi persoalan bagi keluarga adalah kesedihan yang mereka alami ditambah dengan tekanan sosial sementara hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel darah korban belum dipublikasikan.

“Kami sebagai keluarga sudah divonis bahwa SS adalah PDP Covid-19 dan itu dampaknya di kami. Kami dikucilkan dan kami dicap sebagai orang yang terpapar,” ungkap salah seorang keluarga.

Memang diakui oleh keluarga SS bahwa kita semua waspada terhadap penyebaran Covid-19.

“Kami sadari bahwa Covid-19 adalah pandemi yang harus diwaspadai, tetapi tentu kewaspadaan tersebut harus mempunyai tahapan dan metode yang bisa dipertanggungjawabkan.”

Keluarga SS kian cemas dan panik ketika Bupati dan Wakil Manggarai hadir di rumah mereka pada Jumat siang kemarin, 28 Maret, untuk menyemprot disinfektan, langkah yang oleh bupati disebut sebagai tindakan antisipatif bagi penyebaran Covid-19.

“Kami ucapkan terima kasih kepada Bupati Manggarai karena telah melakukan penyemprotan di rumah kami sebagai bentuk perlindungan terhadap kami,” katanya.

Namun, ia menambahkan, di sisi lain, “tindakan tersebut menambah stigma bagi kami.”

Pihak keluarga masih menunggu hasil sampel darah korban. Mereka masih yakin bahwa SS bukan PDP Covid-19.

“Kami masih menunggu dalam kecemasan dan dalam tekanan,” ungkap saudari SS.

Ia menjelaskan, karena penguburannya diambil alih pemerintah, mereka telah mengabaikan berbagai acara adat Manggarai terkait kematian SS.

“Sebagai warga negara yang baik, kami patuh terhadap berbagai instruksi terkait upaya penyebaran Covid-19 ini. Namun kami tetap menunggu kepastian, sebenarnya korban itu meninggal karena apa,” ungkap salah satu aggota keluarga lain SS.

Keyakinan mereka juga berdasarkan keterangan Kepala Biro Humas Kantor Gubernur NTT, Marius Jelamu yang dikonfirmasi Floresa.co usai tele conference antara Gubernur NTT, Viktor Bungtolu Laiskodat, dengan beberapa bupati, termasuk Bupati Manggarai dan Manggarai Barat terkait upaya penanggulangan Covid-19.

Marius dalam pernyataannya menyebut PDP rujukan RSUD Ben Mboi itu setelah didiagnosa, tidak terkait Covid-19.

“Hasil diagnosa RSUD Komodo menyatakan, korban meninggal karena pnemonia dan gagal ginjal,” jelas Marius.

Namun, penjelasan Marius tidak membuat keluarga bahagia karena belum ada hasil laboratorium.

Di tengah proses penantian tersebut, JG, ipar SS sempat bertanya, bagaimana jika berdasarkan hasil laboratorium, korban tenyata tidak terkait Covid-19.

“Kami cemas dan menunggu kepastian tentang status korban. Kami dalam tekanan,” katanya.

AKA/FLORESA