Keluarga PDP yang Meninggal di RSUD Komodo: ‘Kami Yakin Bukan Karena Virus Corona’

1447
Keluarga SS: "Kami sebagai keluarga merasa yakin bahwa SS yang sudah dinyatakan PDP bukan suspect Covid-19 atau virus corona." (Foto: Ist)

Floresa.coKeluarga salah seorang Pasien Dalam Pengawasan (PDP) terkait virus corona (Covid-19) yang meninggal dunia hari ini, Rabu, 25 Maret 2020 di RSUD Komodo meyakini bahwa ia meninggal bukan karena penyakit yang kini menjadi pandemi global itu.

Sejumlah keluarga dari PDP dengan inisial SS itu mengatakan dalam wawancara dengan Floresa.co di Ruteng, Rabu siang, berdasarkan riwayat penyakit yang dialami SS, mereka menduga ia mengalami gagal ginjal akut, disertai komplikasi penyakit lainnya.

“Kami sebagai keluarga merasa yakin bahwa SS yang sudah dinyatakan PDP bukan suspect Covid-19 atau virus corona,” kata saudari SS yang minta namanya tidak dipublikasikan.

SS sebelumnya dirawat di RSUD Ben Mboi dan dinyatakan sebagai PDP oleh Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Kabupaten Manggarai, Ludovikus Moa.

Berbicara dalam konferensi pers di Ruteng, Selasa kemarin, Ludovikus menjelaskan, PDP datang ke RSUD Ben Mboi “dengan keadaan umumnya lemah, sempat juga sesak napas.”

Karena alasan itu, SS kemudian dirujuk ke RSUD Labuan Bajo.

PDP adalah orang yang menunjukkan gejala sudah terjangkit Covid-19, seperti demam, batuk, pilek dan sesak nafas.

Salah seorang saudari dari SS mengatakan, SS yang berasal dari Kabupaten Manggarai Barat selama ini menetap di Surabaya dan mulai menderita sakit pada Februari lalu.

Pada 18 Maret, ia ke Ruteng atas kesepakatan keluarga di Manggarai dan restu istrinya yang masih berdomisili di Surabaya.

BACA: Satu Orang PDP yang Diisolasi di RSUD Ruteng Datang dari Surabaya

“Kami mau cari pengobatan alternatif di kampung karena berbagai hasil pemeriksaan di beberapa rumah sakit di Surabaya, penyakit yangg dialami SS  tidak kunjung sembuh,” katanya.

“Kami sebagai keluarga tidak puas dengan hasil pemeriksaan yang ada sehingga kami cari pengobatan alternatif,” kisah saudaranya itu yang merawat SS selama di Ruteng.

Ia menambahkan, ketika tiba di Labuan Bajo pada 18 Maret itu, otoritas Bandara Komodo sempat memeriksa SS dengan pengukur suhu dan dan suhu badannya dikatakan normal, walaupun kondisinya sangat memprihatinkan.

“SS tiba dalam kondisi yang sudah tidak seperti sedia kala. Salah satu matanya tidak bisa terbuka lagi. Kedua kakinya sudah tidak bisa bergerak normal, sehingga kalau jalan harus dipapah oleh dua orang,” tutur saudarinya itu.

Ia melanjutkan, setibanya di Ruteng, SS tidak bisa buang air besar, sebagaimana saat di Surabaya dan juga tidak bisa menelan bubur, perutnya juga kembung.

Ia menambahkan, terkadang kalau buang air kecil, disertai dengan darah dan sudah tidak sadar lagi.

Semenjak di Surabaya, lanjutnya, SS sudah tidak bisa berkomunikasi normal dengan istrinya. “Beberapa hari setialah tiba di Ruteng, almarhum sudah tidak bisa bisa berkomunikasi sama sekali. Kami jadinya panik,” kisahnya, sambil meneteskan air mata.

Karena kondisinya semakin parah, dimana salah satu matanya yangg sebelumnya normal sudah tidak bisa dibuka, kedua kaki susah diluruskan dan perut semakin kembung, pihak keluarga berinisiatif memanggil salah seorang perawat yang juga tetangga mereka pada Selasa kemarin, sekitar pukul 06.00 WITA.

Mereka disarankan oleh sang perawat itu untuk membawa SS ke RSUD Ben Mboi.

Sekitar pukul 07.00 WITA, ia pun dibawa ke rumah sakit milik pemerintah daerah itu.

“Kami membawanya ke UGD dan sampaikan kondisi korban yaitu susah telan bubur, tidak BAB, perut kembung dan mengeras, buang air kecil tidak lancar dan sejumlah hal lain. Kami berharap almarhum mendapat tindakan beradasarkan keluhan kami,” harap saudarinya itu.

Setelah menunggu beberapa jam, katanya, SS dibawah ke ruang isolasi UGD dan semua keluarga diminta untuk menunggu di luar. 

Karena dimasukkan di ruang isolasi, ia mengatakan, keluarga bertanya kepada petugas yang mengenakan alat pelindung diri (ADP) lengkap, apakah ada indikasi SS itu PDP.

”Petugas menjawab dengan tegas bahwa tidak,” tuturnya.

Saat dipindahkan ke ruang isolasi lain, kata dia, SS dibawa menggunakan mobil ambulans tanpa diketahui keluarga.

“Kami semakin panik dan makin bingung sehingga kami bertanya lagi, apakah SS itu terinfeksi Covid-19? Lagi-lagi jawaban petugas adalah tidak juga. Kami semakin bingung,” kisahnya.

Ia menambahkan, menjelang sore hari, “kami diingatkan oleh pihak RSUD Ben Mboi untuk siap-siap ke RSUD Komodo di Labuan Bajo sebagai rumah sakit rujukan untuk kasus Covid-19. “Ketika kami tanya, mengapa dirujuk ke sana, apakah SS terpapar Covid-19? Jawaban petugas RSUD Ben Mboi menyatakan belum pasti karena menunggu hasil sampel yang dikirim ke Labuan Bajo,” kisahnya lirih.

Saat almarhum dibawah ke Labuan Bajo hingga SS meninggal, jelasnya, tak satupun keluarga yg mendampingi, bahkan sampai berita ini dinaikkan, keluarga tidak ikut memakamkan almarhum.

“Yang kami tahu, berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium RSU Bunda di Sidoarjo Jawa Timur, almarhum menderita malaria dan infeksi saluran kencing. Dan berdasarkan informasi dari pihak RSUD Komodo di Labuan Bajo, almarhum mengalami gagal ginjal akut,” jelasnya.

Ia mengakui, keluarganya sungguh terpukul dengan status PDP, apalagi pemakaman SS tidak melibatkan keluarga.

Menurut informasi yang diterima pihak kluarga, SS akan dimakamkan di Labuan Bajo dan seluruh  tata cara pemakamam dilakukan oleh Pemkab Mabar.

AKA/FLORESA